Konspirasi Pendek

conspiracy and paranoia (http://fineartamerica.com)

conspiracy and paranoia (http://fineartamerica.com)

Ada juga terpikirkan olehnya untuk meninggalkan meja kerja. Berjalan menyusuri pantai dan melupakan tumpukan kertas, laporan keuangan, serta kerumitan hitung-hitungan untung rugi pada layar komputer. Tapi kali ini dia memang tak bisa berlaku demikian. Minto, direktur keuangan datang tadi pagi, dan mendesaknya dengan banyak pertanyaan. Sungguh menyakitkan, bahwa pertanyaan-pertanyaan Minto tak satu pun dimengertinya. Halnya tak jauh dari urusan keuangan. Minto marah besar, sebab direktur utama mengancam akan memecatnya jika pada laporan yang berikutnya tak sesuai fakta lapangan. Sekali lagi Moryana menghela nafas panjang, serta membaca beberapa ayat suci untuk menenangkan diri. Tapi sama sekali tak membantu. Dia lupa bahwa air teh sudah beku dalam gelas, di meja kerjanya.

Minggu berikutnya, datang surat mendadak. Yane sebagai pemimpin cabang, Marviral si kepala gudang, dan dia sendiri, Moryana sebagai pembuat laporan keuangan, dipanggil untuk menghadap direktur utama di Jakarta. Esok hari mereka berangkat. Dalam bus, Moryana sama sekali tak betah. Dia bingung perihal apa mereka mendapat panggilan tiba-tiba. Yang jelas ini bukan persoalan sepele. Dan hal lain yang mengganggu, Marviral tak henti-hentinya merokok dalam bus. Terbayang lagi olehnya suasana senja di pantai. Lampu-lampu mercusuar di atas bukit. Dinginnya hawa pegunungan saat liburan. Tapi kali ini dia berada dalam bus, melewati jalan rusak penuh kelok. Sekali Moryana bertanya pada Yane:

“Bu, persoalan apa kita harus menghadap direktur utama?”

“Tak tahu. Kita akan tahu setelah tiba di Jakarta besok.” Yane melanjutkan tidur.

Terdengar olehnya suara Marviral yang berat, menyeletuk:

“Ah, paling persoalan keuangan. Si bangsat Minto melibatkan kita. Kalau saja benar, akan ku kubur hidup-hidup si rambut putih itu.” Marviral membakar rokoknya, entah batang yang keberapa.

Moryana tak mau menanggapi. Memang begitu sifat Marviral, Moryana tahu betul itu. Kadang di kantor, Marviral memarahi orang sembarangan, sambil memperlihatkan tatonya. Dia selalu bersikap sebagai bos besar yang ingin dituruti segala kemauannya. Tapi kerjanya bagus dan segala-galanya dikerjakan dengan teliti. Hanya sifatnya saja yang tak disukai orang-orang kantor. Kini Moryana memikirkan perkataan Marviral tadi. Jika saja benar, persoalan keuangan kantor, dia sebagai pembuat laporan keuangan menjadi tersangka. Tapi terlambat. Sekarang dia berada dalam bus yang sedang melaju menuju pelabuhan. Besok siang mereka tiba di Jakarta.

Moryana tercengang melihat kantor pusat, kantor si direktur utama bekerja. Gedung yang tinggi dan megah. Puluhan pegawai berpakaian rapi, lalu-lalang tanpa senyum, naik turun tangga. Sangat sibuk. Tak seperti kantornya, kantor cabang di pelosok sana. Berpuluh-puluh truk mengangkut sawit, memenuhi gudang dengan bau lemak, yang nantinya menjadi koper-koper penuh uang. Tapi sampai saat ini dia bekerja di sana, belum sekalipun kantornya direnovasi.

Mereka menemui direktur utama di ruang kerjanya. Si bos yang gemuk dan botak itu duduk di kursinya. Minto juga ada di sana, seperti mayat hidup. Wajahnya tak bersahabat. Dan mulailah interogasi.

“Bu Yane, tolong jelaskan, mengapa warga menuntut ganti rugi lahan?” Pertanyaan awal direktur utama terasa dingin. Mereka duduk berhadap-hadapan, saling menatap wajah yang kusut.

“Tentu saja, pak. Tanah mereka harus dibayarkan. Ekspansi kita sampai ke pelosok. Tanah-tanah mereka tentu tidak gratis.” Yane terlihat berani saat berbicara. Dia memang wanita yang keras. Satu-satunya yang disegani Marviral adalah tatapannya yang menciutkan nyali.

“Baiklah. Uang yang diperuntukan membayar lahan warga, sudah turun ke semua kantor cabang. Bahkan di daerah pelosok tempat Bu Yane memimpin.”

Yane terpancing emosinya.

“Uang? Uang yang mana? Saya sama sekali tak mendapat laporan apapun mengenai itu.”

Semua mata kini tertuju pada Minto, yang terlihat kaku dan sedari tadi menguap.

“Dan juga laporan keuangan soal pembayaran tanah warga, sudah sampai ke sini. Pak Minto yang membawanya.”

“Saya sendiri yang membuat laporan itu, pak.” Moryana menyambar.

“Benar, pak. Produksi terakhir juga sudah saya data. Kata pak Minto akan digunakan untuk mengganti kucuran dana dari pusat. Produksi yang akan datang, saya pastikan akan berlebih. Semua tertata rapi di gudang.” Giliran Marviral berbicara.

“Bagaimana, Bu Yane?” tanya direktur utama menohok.

Dalam beberapa detik suasana bagaikan kuburan. Sepi. Hanya suara nafas Marviral yang terdengar mendengus keras. Bu Yane, si wanita keras itu terdiam. Bibirnya bergetar hebat. Matanya berkaca-kaca. Dengan ragu-ragu dia menangis.

Esok hari mereka bertolak dari Jakarta. Sepanjang perjalanan, Yane memerlukan pundak Moryana untuk bersandar. Kali ini dia benar-benar menangis. Moryana, si gadis lembut itu, juga ikut menangis. Hanya Marviral terlihat santai. Terus menerus menghembuskan asap rokok. Mereka tak perlu lagi berkemas, mengambil barang-barang dari kantor, karena kantor mereka sudah rata dengan tanah. Warga mengamuk dan membakar perkebunan sawit. Minto dan Marviral ditarik ke kantor pusat. Yane entah ke mana.

Aroma pantai tercium juga di hidung Moryana. Dia duduk menikmati senja. Menggosok-gosokkan kakinya pada pasir. Dia tak perlu lagi membuat laporan keuangan, atau memandangi tumpukan kertas. Kali ini dia terbebas dari segalanya. Dia tak mengerti sepenuhnya, perihal apa yang terjadi. Oh, betapa lugu Moryana. Dia selalu hanyut dalam senja di pinggir pantai.

 

– Jogja, pada November 2011

Agung Poku

5 thoughts on “Konspirasi Pendek

  1. ini tentang moryana yang sudah bosan menghadapi tumpukan jurnal dan layar komputer untuk menulis ‘buku’ yang hanya akan dibaca sekali oleh para penguji itu ya? jadi dia rindu pantai begitu? #gagalpaham hahahaha😆

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s