Pelelangan

Christ with the peasant Circa 1887-88 by Fritz Von Uhde (art.com)

Christ with the peasant Circa 1887-88 by Fritz Von Uhde (art.com)

Enam bulan setelah panen raya, keluarga petani berkumpul dan membicarakan tentang gabah yang menumpuk di lumbung. Hampir tigapuluh ikat gabah rusak karena hama. Tikus-tikus bergentayangan, begitu rakus melubangi lumbung yang memang pada beberapa bagian sudah lapuk. Belum lagi beredar kabar, beberapa pencuri dari kampung sebelah mulai menggerayangi lumbung-lumbung petani. Salah satunya adalah si buntung Mada, pencuri bertangan buntung. Seringkali beberapa petani memergokinya memetik tomat. Atau pada hari minggu memanen kacang di kebun petani, saat orang-orang beribadah di gereja. Mada sangat lihai seperti belut yang licin, dia sering lolos dari jebakan petani-petani yang sudah sangat resah akibat kelakuannya. Beberapa waktu yang lalu, keluarga petani bersepakat untuk menggeledah pondoknya yang terletak di seberang sugai Tamblak. Tapi usaha itu sia-sia. Mereka tak menemukan Mada di sana. Hanya rombengan kaleng  ikan laut dan beberapa potong daun enau yang berserakan di atas dipan.

Musim hujan tiba, enam bulan setelah panen raya. Jalanan penuh lumpur. Seringkali sapi-sapi penarik gerobak menemui ajalnya di dalam lumpur yang dalam. Lumpur menimbun akar-akar tajam, tuur-tuur yang runcing menancap pada kaki sapi, bahkan beberapa membelah perut. Lumbung-lumbung yang menampung gabah mulai lapuk. Air hujan menjadikannya lumat dan lembek, sehingga mudah bagi tikus untuk menggerogotinya. Keluarga petani tambah resah. Mesin penggiling rusak. Berkarat dan tak dapat digunakan. Teringat oleh keluarga petani, panen raya enam bulan yang lalu, panen raya yang manis. Keluarga petani berpesta, menyuguhkan saguer terbaik untuk pekerja-pekerjanya. Dan mereka mabuk berhari-hari. Bernyanyi, menari, merayakan panen raya yang agung.

Keluarga petani ketiban sial. Semua gabah dalam lumbung hilang entah ke mana.

“Tak mungkin tikus yang menghabiskan semuanya. Bagaimana mungkin hilang tanpa bekas?” kata seorang dari keluarga petani.

“Ini pasti Mada yang mencuri. Tidak mungkin tidak. Mustahil!” seru yang lain.

Kekesalan berlanjut. Ramai-ramai keluarga petani mendatangi pondok Mada di seberang sungai Tamblak. Tapi lagi-lagi itu menjadi percuma. Kosong melompong! Pondok yang kumuh itu mereka teriaki secara menjijikan, sebelum membakarnya sampai rata dengan tanah. Entah ke mana si Mada pergi. Kebencian itu membuat keluarga petani berduka berhari-hari. Dan pada hal yang lain, persediaan beras hampir habis.

Hujan berlarut-larut. Awan-awan bergerak begitu berat, menampung warna kusam yang dibawa ke sana-kemari, dihembus angin. Sebentar lagi natal tiba. Enam bulan setelah panen raya. Keluarga petani masih berduka. Mereka masih memikirkan gabah yang hilang. Mungkin saja gabah itu adalah persediaan selama setengah tahun, sebelum panen tiba. Dan sekarang hilang entah ke mana! Duka itu sedikit terobati karena hari natal akan tiba. Banyak keluarga-keluarga yang berbaik hati saat hari natal. Jamuan makan di mana-mana. Maka keluarga petani sedikit lega, setidaknya selama bulan itu. Keluarga petani yang lain ramai-ramai menyumbangkan sisa hasil panen mereka untuk gereja. Gabah, tomat, kol dan segala macam hasil panen dilelang pada hari natal. Hasil pelelangan itu digunakan untuk membangun ruang konsistori yang sudah rusak.

Pada hari pelelangan, keluarga petani datang ke gereja. Pelelangan dimulai setelah ibadah selesai. Banyak penawaran tinggi dari orang-orang kaya. Tomat dibeli dengan harga tiga kali lipat dari biasanya. Apalagi gabah. Si pendeta tak henti-henti membaca doa di belakang mimbar, selama pelelangan berlangsung. Dan bukan main kagetnya keluarga petani ketika melihat gabah yang berpuluh-puluh ikat dilelang di gereja.

“Itu gabahku!” serunya dari belakang. Dia melompat maju ke depan dan mendapatkan gabah-gabah yang ranum itu. Dia yakin bahwa itu adalah kepunyaannya. Dia hapal betul caranya mengikat gabah. Itu ikatan tangannya, simpulnya tak mungkin sama dengan yang lain. Serunya sekali lagi. “Ini gabahku! Dari mana kalian mendapatkannya?”

Tiba-tiba pendeta Thomas mendekatinya dan berkata:

“Gabah-gabah ini sumbangan dari Mada. Katanya ini adalah hasil panen dari sawah warisan bapaknya.”

Si petani terhenyak. Tubuhnya yang ringkih mendadak kaku dan kemudian lemas. Jemaat yang hadir ikut mematung memandangi si petani yang bingung. Beberapa di antaranya bergegas meninggalkan gereja, karena pagi itu mereka hendak mengubur Mada yang mati tadi malam.

 

-Jogja, Desember 2011

Agung Poku

One thought on “Pelelangan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s