Gelang Emas

senja kembali

senja kembali

Pesawat tengah berhenti di landasan pacu. Satu jam yang lalu berada di antara awan, di atas pulau Jawa. Sepuluh menit lagi akan meninggalkan bandara Sultan Hasanudin, Makassar. Di luar hujan turun sangat deras. Kurasai pori-pori ini terbuka dan terisi oleh kedinginan yang mengigit. Dua orang di kursi belakang, baru saja muntah dengan suara yang keras. Cuaca buruk untuk melakukan penerbangan lanjutan, menurut penumpang di depanku begitu. Terjadi perdebatan sengit di depan. Seorang pria di kursi nomor lima mencegat pramugari.

“Kali ini tak layak untuk terbang. Cuaca terlalu beresiko.” katanya dengan ketakutan.

“Sebaiknya bapak tenang dan menguasai diri. Kami sudah mempertimbangkan semuanya.” jawab si pramugari, diakhiri senyum yang gugup.

Beberapa menit kemudian semua penumpang sudah duduk manis di kursi. Kali ini penerbangan akan dilanjutkan, begitu penjelasan lewat pengeras suara. Pria yang duduk di kursi nomor lima akhirnya patuh.

“Berapa lama lagi akan berangkat?” tanya seorang wanita di sampingku.

“Mungkin sebentar lagi.” Jawabku. Dan benar saja, pesawat kemudian memutar mencari landasan tepat untuk terbang.

“Aku takut.” kata wanita di sampingku.

Wanita itu tampak menggigit bibirnya dan memperlihatkan wajah gelisah. Diguncang-guncangkannya kedua tangannya, tampak seperti memohon. Gelang-gelang di pergelangannya mengeluarkan bunyi. Mungkin ada tiga atau empat gelang berwarna kuning emas. Dia merebahkan kepalanya pada sandaran kursi saat pesawat mulai mengangkasa. Tiba-tiba perutku mual berisi angin yang menyesakkan. Aku sadar, tadi pagi tidak sarapan. Bodoh, gumamku. Ku tutup mata dan meregangkan badan. Mencari posisi yang tepat untuk menormalkan keadaaan. Tiba-tiba tanganku yang dingin diremas kuat-kuat. Jari-jari yang lembut dan hangat mengunci kepalan tanganku. Ku toleh ke samping, dan wanita itu semakin keras meremas tanganku.

“Aku takut.” gumamnya memohon padaku agar tak menarik tanganku.

Dari pengeras suara terdengar pemberitahuan, bahwa sekarang kami berada di atas ketinggian beberapa ribu kaki di atas pulau Sulawesi. Ku tengok ke jendela. Sawah-sawah terlihat samar. Dan lampu-lampu aneka warna tertinggal jauh di bawah. Wanita tadi belum juga melepaskan cengkeramannya. Perlahan-lahan ku tarik, dia menurut.

“Siapa namamu?” tanyaku.

“Elain. Panggil saja Ain. Tapi itu bukan nama sebenarnya. Ibu tiriku yang memberi nama, aku tak suka. Ku ganti saja. Panggil saja Ain.” jelasnya.

“Baiklah.”

Kantuk mulai menyerang. Empat puluh lima menit lagi baru akan mendarat. Waktu yang baik untuk tidur.

“Anakku berada di kampung Bali. Sekarang aku mau mengunjunginya. Dia tinggal bersama bapaknya.” Dia mengajakku bercerita. Sementara kantuk yang menyipitkan mataku terpaksa ku lawan. Wanita ini selalu bisa memancingku.

“Kenapa kau meninggalkan mereka? Kau bekerja di luar?” tanyaku memaksa melawan kantuk.

“Aku diceraikan suami. Pengadilan memaksaku untuk melepaskan anak kami padanya.”

“Dan sekarang?”

“Aku mau menjenguknya. Sudah tiga tahun.” Dia mulai sesenggukan. Ku lihat matanya, tak ku dapatkan kesedihan di sana.

“Baiklah.” gumamku.

“Dia menceraikanku karena telah ku jual semua sawah atas namaku.”

“Bukankah itu hakmu?”

“Warisan orang tuanya, tapi atas namaku. Istri yang dicintainya, dulu.”

“Perihal apa?” tanyaku terpancing.

“Karena gelang emas ini?” tunjuknya pada empat buah gelang emas di pergelangannya.

Aku menggumam heran, sangat keras. Pria yang duduk di kursi nomor lima menoleh ke arahku.

“Gelang emas ini untuk melamarku. Semuanya ditunda. Setelah menikah katanya. Aku tak sabar. Janji, ya, janji. Ku jual saja sawah untuk membeli gelang emas ini.” semuanya diutarakannya tanpa perubahan wajah penyesalan.

Baiklah. Aku mulai bosan. Kalau saja aku suaminya, pasti aku juga berlaku demikian.

“Tiap malam anakku menelpon agar aku kembali. Dia sudah lima belas tahun.” jelasnya lagi. Dan lagi aku terpancing.

“Kau masih cinta padanya?”

“Siapa, anakku?”

“Suami. Mantan suamimu.”

Dia tak menjawab, hanya menunduk memperhatikan gelang emasnya.

“Kau tahu, di luar banyak lelaki yang menggagalkan bahtera rumah tangganya.”

“Dan kenapa kau yakin membina rumah tangga dengannya?” lagi-lagi aku terpancing.

Dia meremas jari-jariku:

“Kau lihat awan-awan di luar, sebentar lagi dia akan menumpahkan air ke laut, dan kembali menjadi awan. Apa aku bersalah jika hendak menjadi awan kembali?”

Dan aku gagal menerjemahkan kata-katanya. Aku diam dan menggumam dalam hati, baiklah.

Terdengar pengumuman dari pengeras suara, bahwa dalam lima menit, pesawat akan mendarat di bandara Mutiara, Palu.

Di luar masih hujan dan pesawat berhasil mendarat dengan mulus. Penumpang bersiap untuk turun. Kantuk telah hilang dibayar oleh kerinduan kampung halaman. Dia berdiri dan menarikku untuk turun.

“Kau akan kembali?” tanyaku.

“Baru saja.” jawabnya. Dan pria yang duduk di kursi nomor lima datang menghampiri kami. Wanita itu melompat untuk mendapat pelukan yang besar dari si pria itu.

“Kenalkan, ini suamiku.” katanya menarik tanganku.

Hujan tambah deras. Rombongan orang datang menjemput membawa payung. Aku basah kuyup. Tak ada payung, tak ada penjemput.

 

– Jogja, Januari 2012

Agung Poku

 

3 thoughts on “Gelang Emas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s