Sebuah Pernikahan

Marc Chagall - Above the Town - 1914-1918 (http://www.famousartistsgallery.com/gallery/chagall-ch.html)

Marc Chagall - Above the Town - 1914-1918 (http://www.famousartistsgallery.com/gallery/chagall-ch.html)

Tibalah hari berkabung bagi Eflili Kalana dan empat anak perempuannya. Sonel Amali suaminya mengalami kecelakaan yang sangat parah. Sebuah truk menghantam motornya dari arah berlawanan. Tak tertolong lagi, mungkin takdir, Sonel Amali akan dikebumikan besok siang, tepat sebulan menjelang pernikahan anak pertamanya. Yunafli anaknya yang paling tua, seakan tak percaya bahwa bapaknya pergi secepat ini. Berkali-kali dia menyalahkan Tuhan, meminta agar bapaknya kembali, tapi itu harapan yang sia-sia.

“Kemana bapak pergi setelah kejadian ini?” tanya Yunafli pada pendeta yang memimpin upacara pemakaman.
“Bapakmu telah kembali ke rumah yang kekal.” jawab si Pendeta menguatkan.
“Tidak! Di sini rumahnya.” desis Yunafli menggugat.

Eflili Kalana mencakar-cakar tanah. Mengurai air mata yang diusap-usapkan  anaknya yang terkahir. Feybe tampak paling tegar menghadapi duka ini. Hanya dua belas tahun dia bersama bapaknya. Waktu yang singkat katanya. Dia teringat betapa keras didikan bapaknya. Jika tak patuh, maka ikat pinggang kulit bapaknya akan menghantam tubuhnya. Itu juga terjadi pada ketiga kakak perempuannya. Bahkan masih membekas perih di kakinya, ketika satu minggu sebelumnya dia dihantam hingga terpojok di dapur. Semua dikenangkannya sebagai peringatan akan bapaknya.

“Segala kebaikannya akan dikenang. Ampunilah dosa-dosanya, agar perjalanannya menuju rumah yang kekal dimuluskan.” Itu perkataaan akhir si pendeta menjelang penutupan peti. Tangis kerabat dan tetangga mengiringi siang itu.

Eflili Kalana berduka dua bulan lebih, setelah datang seorang lelaki yang bersedia menjadi suaminya. Lelaki itu datang dari masa lalu. Jalinan cinta masa sekolah dan kenangan-kenangan indah tentangnya. Eflili Kalana berusaha memantik api-api cinta masa lalu. Dia kesepian dan menderita pada tiap malamnya. Pertemuan mereka semakin sering, dan api itu kemudian membara melelehkan kesepian. Siapa yang mampu menyalahkan percintaan manusia. Itu menghakimi dan menyesakkan. Tapi bagi anak-anaknya tidak. Bagi mereka itu adalah keruntuhan moral seorang ibu, yakni ibu mereka sendiri.

Suatu malam Feybe datang mengadu di tepi ranjang ibunya, tatkala Eflili Kalana sedang membaca surat yang dikirimkan lelaki masa lalunya.
“Ibu, ku rasa bahwa ibu telah meminggirkan kami, anak-anakmu. Kami tahu semua tentang ibu. Dan betapa malunya kami, anak-anakmu ini, mendengar cerita tentangmu bukan dari mulutmu sendiri, melainkan dari cerita-cerita tetangga.” Begitulah Feybe. Dia tak mungkin menyimpan hal yang harus dikatakannya. Berbeda dari ketiga saudaranya yang selalu kompromi pada perasaaan.
Eflili Kalana tahu betul sifat anaknya yang satu ini. Dia tahu cara untuk menghadapinya. Diusap-usapnya pipi anaknya, tapi Feybe bukanlah demikian.

“Aku bukan datang untuk bermanja, bu. Aku datang untuk mendengar jawabanmu, dari mulutmu sendiri, ibuku sayang.”
“Baiklah. Ku tanya padamu, Nak, apa ibu salah jika ingin menikah lagi?”
“Bukan. Bukan tentang benar atau salah, bu. Ku rasai ibu mulai lupa bagaimana cara menarik hati kami. Semua terjadi setelah kepergian bapak.”
“Baiklah, tak akan ada pernikahan lagi!” Eflili Kalana pergi meninggalkan Feybe yang masih saja duduk di tepi ranjang.
Percakapan antara ibu dan anak tak berlanjut. Eflili Kalana sudah lupa. Benar kata Feybe, cinta yang lain mengikis cinta yang lain juga.

Pertemuan-pertemuan antara Eflili Kalana dan lelaki masa lalunya semakin sering terjadi. Bahkan untuk menanyakan kabar anaknya saja, dia sudah lupa. Ibu dan anak bergerak sendiri-sendiri. Jarang bersapa, bertatap muka pun enggan. Rumah mereka tak lagi seperti dulu. Jarang lagi terdengar nyanyian girang dari empat bersaudara.

Yunafli, anak yang paling tua telah menikah dan mengurus rumah tangganya sendiri. Kini ibunya ingin menikah lagi. Dia masih belum bisa menerima. Kenangan akan bapaknya menyingkirkan itu semua. Bahkan ibunya telah berubah.  Hatinya sedih melihat keceriaan yang hilang pada ketiga adiknya.

Lelaki yang ingin menjadi suami dari Eflili Kalana tak juga muncul, bahkan untuk sekedar memperkenalkan diri pada anak-anak Eflili Kalana. Pertemuan-pertemuan rahasia antara Eflili Kalana dan lelaki itu terus terjadi, hingga dengan ketegaran, anak-anak Eflili Kalana menyetujui pernikahan ibunya. Pada hari pernikahan ibunya, keempat bersaudara itu berharap dengan sangat, bahwa mereka akan melihat sosok bapaknya pada lelaki yang datang dari masa lalu ibunya. Meski pun dengan segala didikan yang keras, bahkan cambukan, mereka berharap di sana ada sosok bapaknya.

Siapa yang mampu menyalahkan percintaan manusia. Itu menghakimi dan menyesakkan. Tapi bagi anak-anaknya tidak. Bagi mereka itu adalah keruntuhan moral seorang ibu, yakni ibu mereka sendiri.

– Jogja, Februari 2012

Agung Poku

7 thoughts on “Sebuah Pernikahan

  1. komunikasi, kadang usia dan banyaknya hal yg terjadi membuat kita lupa bahwa kita sejatinya harus terus belajar. begitu juga dalam hal sepenting komunikasi.:mrgreen: mantabh nian bro!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s