Bapak Notna Si Pemabuk Yang Baik Hati

Jangan pernah percaya pada ahli-ahli agama, sekalipun wakil tuhan di dunia, akunya. Kebanggaanku pada Bapak Notna melebihi kesucian yang diakui para pendeta dalam diri mereka. Bagiku, Bapak Notna lebih baik dibanding para pendeta, sekalipun dia tak mungkin suci. Di manapun ada yang baik dan yang jahat. Dan aku tak percaya pada keseimbangan yang dimitoskan pada dunia, bahwa yang baik dan yang jahat adalah dua mata. Yang aku yakini pada Bapak Notna adalah yang jahat harus dikubur dalam-dalam. Bagaimanapun juga manusia pada akhirnya membenci yang jahat, tapi dalam keadaan yang sama mereka telah membunuh banyak orang. Termasuk Bapak Notna sendiri. Si petani dan pemabuk itu telah lama mati, dikubur kesengsaraan pada akhir masanya.

Kadang-kadang, pada tiap sore, aku ingin berlari ke jalanan dan melompat ke gerobak pemabuk itu. Mengikuti gerobak sapinya ke sawah, menyusuri rerimbunan pohon bambu, sambil berkelakar tentang moleknya gadis-gadis desa di lumbung padi. Pada saat yang sama, dia suka membanggakan senapan angin yang diberikan seorang misionaris Jerman, Bastian, padanya. Aku selalu ingin menjadi bayangannya di lembah-lembah yang kami daki. Bersembunyi di antara ilalang, mengincar rusa-rusa tua bertanduk panjang. Pernah sekali Bapak Notna menembak seekor rusa jantan pada kakinya. Rusa yang sekarat itu berteriak panjang. Begitu kami dekati, seorang perempuan tua terbaring di sana dengan selendang abu-abu penuh dara melingkari kakinya. Itu belum apa-apa. Sekali waktu kami menunggui jerat sepanjang malam. Berharap seekor babi hutan akan terperangkap di sana. Dan benar saja seekor babi hutan sebesar anak sapi terperangkap. Bapak Notna baru saja hendak menghunus parangnya, babi hutan sebesar anak sapi itu berbalik mengamuk berlari ke arah kami. Bukan kepalang takut setengah mati. Dalam hitungan detik, kami sudah bergelantungan di atas pohon.

Rasanya hari itu sudah begitu lama berlalu. Bapak Notna sudah lama mati. Gerobak sapinya kini menjadi kumpulan kayu rapuh, habis dimakan rayap. Begitu juga tong kayu tempat menyimpan minuman kerasnya, telah menjadi sekumpulan kayu bakar. Kekagumanku pada Bapak Notna tidak seperti itu. Tak ada sedikitpun yang rapuh. Selalu terbayang percakapan kami di atas gerobak:

“Apa yang kau cari dalam hidupmu, Nak?” tanya Bapak Notna tanpa menoleh padaku.

“Tak tahu. Aku tak punya jawaban untuk saat ini.” jawabku bimbang.

“Jadi untuk itu kau bertahan hidup, Nak? Tanpa jawaban yang tak kau ketahui.”

Dia menatapku dengan mata yang tajam.

“Kadang kau harus bekerja keras untuk menghidupi dirimu.Kau lihat burung-burung di udara, mereka tak menanam dan menuai, tapi mereka tetap hidup. Jangan tak punya jawaban untuk hidup ini. Cari dan temukanlah, Nak. Sebentar lagi aku akan mati dan menjadi sekumpulan tulang-belulang dalam tanah. Sebagian orang bilang itu adalah kekalahan terbesar dalam hidup. Kematian. Berlakulah baik selama kau hidup. Berlakulah adil pada orang lain. Jangan mengambil yang bukan hakmu. Penuhi kebutuhanmu dengan bekerja dan bekerja.”

Itu percakapan terakhirku dengan Bapak Notna. Saat dia dikuburkan, aku tak di sana.

Hutan-hutan dan lembah-lembah tempat kami berburu dulu, kini telah disulap menjadi pabrik-pabrik pengerukan bebatuan alam. Marmer, nikel, timah, telah dikuras habis-habisan di sana. Tak ada lagi sinar matahari sore yang terperangkap di jaring-laba-laba atau terkikis di antara semak ilalang. Tapak-tapak sepatu telah merusak bunga-bunga liar di rerumputan. Rusa-rusa banyak yang mati karena minum air sungai yang tercemar. Juga burung-burung yang tak lagi punya sarang di pepohonan.

Dan karena Bapak Notna, aku begitu membenci mereka. Sangat membenci mereka.

Jogja, Mei 2012

Agung Poku

10 thoughts on “Bapak Notna Si Pemabuk Yang Baik Hati

  1. kecantikan natural yg tergerus kosmetika modern bro … ketika tampilan lebih penting dari inner beauty semua jadi serba palsu, yg katanya memajukan malah justru mengedepankan pribadi😦 *suram sudah*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s