Gembala Tua dan Anak Laki-lakinya

Ada seorang gembala di padang Lelena. Gembala kaya, tua dan tangguh. Dia punya lima puluh ekor domba jantan dan lima puluh ekor domba betina. Setiap sore, dihitungnya satu per satu sampai genaplah seratus ekor. Jika kurang satu saja, maka sepanjang malam dihabiskannya mengelilingi padang, sambil bersiul memanggil dombanya yang belum pulang. Pernah suatu sore, seperti kebiasaannya menghitung satu per satu domba yang masuk kandang, kuranglah satu ekor domba jantan. Gembala tua mencari-cari sepanjang malam. Kadang-kadang kakinya terperosok ke dalam lubang, atau tubuhnya yang ringkih tergelincir pada rumput yang penuh embun. Semuanya itu tak dipedulikannya, sambil terus bersiul dengan cara yang aneh.

Arjul Kalana, baru saja tiba pada suatu sore di padang Lelena. Dia anak tunggal si gembala tua. Sejak umur dua puluh tahun, Arjul meninggalkan rumah bapaknya dan menjadi juru listrik pada sebuah kapal pesiar. Kali ini dia pulang untuk melihat bapaknya, si gembala tua. Diceritakannya pada bapaknya tentang keindahan negeri-negeri yang pernah dia singgahi. Dan bagi bapakanya, semua negeri itu adalah asing. Bapaknya hanya tahu tentang padang Lelena dan domba-dombanya yang sertus ekor itu. Tapi ada sedikit kebanggan di dadanya, melihat anaknya yang kini telah tumbuh dewasa dan kuat. 

“Ceritakan pada bapak tentang pekerjaanmu?”

“Tentang pekerjaan, tak banyak yang menarik. Semua pekerjaan lapangan dikerjakan oleh pembantu. Hanya perlu mengontrol dan memastikan semua instalasi listrik bekerja dengan baik.” si gembala mengangguk. Dan dalam beberapa menit mereka terdiam. Tak ada sepatah kata pun di sana.

Padang Lelena yang hijau menari-nari dimainkan angin. Di sana seratus ekor domba merumput. Saat itu pukul lima sore, dan si gembala tua bersiap memasukkan domba-domba ke dalam kandang, dengan menghitungnya terlebih dahulu.

Melihat bapaknya hendak beranjak, Arjul berkata dengan sangat sopan :

“Aku sudah memutuskan untuk berhenti dari pekerjaanku.”

Gembala tua terhenyak, lalu menghentikan langkahnya.

“Mengapa, Nak?”

Dan pertanyaan itu membuat Arjul kacau. Kebingungan dan penyesalan terpancar di wajahnya. Dia kemudian menangis seperti anak kecil. Si gembala tua mendekatinya lalu mengelus-elus kepalanya. Menenangkannya.

“Aku kena penyakit kotor. Dan rasanya aku tak sanggup lagi untuk melanjutkan hidup.” kalimat itu meluncur deras, diiringi tangis yang dalam.

Gembala tua mendesis dan terus mengelus-elus kepala anaknya.

“Sejak kapan kau kena penyakit itu?”

“Aku sendiri tak tahu. Hampir seluruh negeri telah aku singgahi, dan di sana telah ku puaskan nafsuku. Tak layak aku kembali ke sini dalam keadaan cacat dan memohon belas kasihanmu, Bapak.”

“Dan mengapa kau kembali?”

“Di dunia ini, hanya kau satu-satunya yang ku punyai. Pernah ku nikahi seorang gadis di negeri selatan, tapi dia meninggalkanku.”

“Karena penyakit itu?” desak si gembala tua.

Arjul mengangguk lemah dan serasa tak percaya bahwa semuanya telah diceritakannya, tanpa kurang satu pun pada bapaknya. Ada rasa bersalah dalam dirinya. Berpuluh-puluh tahun dia meninggalkan padang Lelena, tanpa kabar apa pun pada bapaknya. Semua kesenangan telah diraupnya dengan sangat rakus. Uang, wanita, jabatan. Sekarang dia kembali ke padang Lelena dengan kepayahan dan penyesalan.

Dilihatnya wajah bapaknya dalam-dalam. Di sana ada keriput dan uban. Semuanya berubah, tapi satu yang tak berubah. Di sana, dari matanya terpancar-pancar cahaya kasih sayang, tanda penerimaan kembali dirinya di padang Lelena.

Dimana-mana dapat kita dengar, bahwa seseorang akan melakukan apa pun dan mengorbankan sesuatu pun demi orang yang dikasihinya. Si gembala tua menjual semua dombanya dan seluruh harta yang dipunyainya, tak tersisa satu pun. Hasil penjualan dipakai untuk mengobati anaknya.

“Bapak ini sudah tua. Tak lama lagi hidup akan berakhir, semua manusia pun begitu. Itu hukum alam. Kau masih muda, Nak. Masih banyak yang harus kau lakukan.” kata gembala tua pada suatu hari, ketika Arjul melarangnya untuk menjual domba-dombanya.

Tak ada keajaiban yang terjadi. Penyakit kotor anaknya tak dapat disembuhkan, bahkan lebih parah lagi hingga merenggut nyawa anak yang dikasihinya itu. Penerimaan yang tulus dan pengorbanan untuk sebuah kasih sayang. Tapi sesuatu yang punya kuasa menghendaki demikian. Si gembala tua tinggallah seorang diri di padang Lelena tanpa sepeser harta pun dalam gubuknya. Dia kemudian mengembara dan ditemukan tak bernyawa pada sebuah dermaga di negeri asing.

– Jogja, Juni 2012

Agung Poku

6 thoughts on “Gembala Tua dan Anak Laki-lakinya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s