Keterasingan

Sesungguhnya, engkau adalah tanah liat. Dari bentukan mineral, kau menjadi sayur-sayuran. Dari sayuran, kau menjadi binatang, dan dari binatang ke manusia. Selama periode ini, manusia tidak tahu ke mana ia telah pergi, tetapi ia telah ditentukan menempuh perjalanan panjang. Dan engkau harus pergi melintasi ratusan dunia yang berbeda. (Rumi)

Georges Seurat - Gray Weather, La Grande Jatte - 1888 (famousartistgallery.com)

Georges Seurat – Gray Weather, La Grande Jatte – 1888 (famousartistgallery.com)

Setiap manusia akan bertanya, “darimana aku?” dan “kemanakah aku?”. Itu pasti. Jika tidak, maka logika adalah seonggok zat tanpa arti. Dan setelah itu, nurani menjadi keabadian dalam diri tanpa makna.

Suatu kali aku menjumpai seorang wanita di tepi danau Matano. Pada sebuah dermaga, dia duduk, menjatuhkan kakinya ke air danau yang tenang. Dia tampak tenang. Matanya menyiratkan keteguhan. Dia sedang menunggu perahu motor yang akan membawa kami menyeberangi danau Matano. Dalam penyeberangan, perahu motor yang kami tumpangi diguncangi riak-riak air danau, membuat perahu bergoyang. Kadang-kadang bahkan sangat keras. Penumpang lain, termasuk aku tentu saja khawatir, dan dengan cepat menggapai pegangan. Tapi wanita itu tetap tenang. Matanya menatap di kejauhan, tak ada ketakutan disana. Beberapa menit sebelum perahu bersandar di dermaga, dia membuka tas dan mengeluarkan segepok uang. Dihitungnya dengan teliti, sambil bibirnya komat-kamit menghitung jumlah uang. Begitu perahu bersandar, dia telah hilang dibalik jajaran bus di terminal.

Beberapa tahun setelah hari itu, aku melihat wanita itu di tempat yang sama. Semua yang ku lihat beberapa tahun lalu, tentang wanita itu, masih juga sama, semuanya, kecuali sinar matanya yang semakin bercahaya. Pada pertemuan yang ketiga, dan kau tahu, seperti dejavu, semuanya tak ada yang berubah. Hanya saja pada saat itu, aku tahu bahwa wanita itu menjual jasa penyeberangan. Tentu bukan sebuah hal yang menggemparkan. Hanya saja, saudaraku, tahukah kau bahwa dalam sehari, wanita itu menyeberangi danau bolak-balik lebih dari limabelas kali. Dan itu berlaku setiap hari. Wanita itu bukanlah sang empunya perahu motor. Bukan juga pemilik bus di terminal, yang mengangkut penumpang di dermaga. Dia tak punya apa-apa, selain menjual jasa pada agen-agen bus, pada perahu-perahu motor.

Ini terjadi pada pertemuanku yang ketiga dengan wanita itu. Sebenarnya bukan sebuah pertemuan, suatu ketidaksengajaan, karena masing-masing mempunyai keperluan. Dan duduklah aku di bangku panjang di terminal. Hari sudah sore. Terdengar alunan azan maghrib di kejauhan. Hujan turun pelan-pelan, dan kemudian seperti dilemparkan, air tercurah deras dari kubah langit. Aku mematung di bangku panjang, memandangi bocah-bocah yang riang gembira bermain bola di lapangan seberang terminal. Mereka sepertinya menghendaki hujan agar tak berhenti, karena itu akan membunuh kesenangan mereka. Dalam hati aku mengutuk kedinginan. Betapa bodohnya aku. Dulu aku juga bocah seperti mereka, yang dalam dadanya hanya ada keceriaan. Kini, saudaraku, kau akan tertawa, betapa bodohnya aku berbalik mengutuk diri sendiri. Ku lirik jam dinding di atas pintu kakus. Pukul enam lebih duapuluhtujuh menit. Dan aku masih duduk di bangku panjang. Tak seorang pun di situ. Satu jam lebih tigapuluhtiga menit lagi bus akan datang menjemput. Dan semakin aku mengutuk kebosanan dan kedinginan.

Tak terduga, wanita itu tiba-tiba muncul di hadapanku seperti hantu. Mengambil tempat duduk di bangku panjang, sekitar dua meter di sebelahku. Dia menggigil.

“Menunggu bus?” itu kata pertamanya selama kami diam di situ sekitar limabelas menit, tanpa suara, hanya suara hujan.

“Ya.” jawabku menggigil. Ku keluarkan sebungkus rokok dan menyalakannya sebatang menggunakan sebuah korek api sial. Basah! gerutuku dalam hati.

Wanita itu mendekatiku dan menawarkan korek api.

“Terima kasih.” ucapku setelah melemparkan korek api sial milkikku.

Dalam cahaya lampu remang-remang, asap rokok menjadi sebuah hiburan yang aneh dan lucu. Meniupkannya, mengaburkannya, menghisapnya. Wanita itu memandangi hiburan aneh yang ku tontonkan.

“Rokok?”

 “Tidak.” jawabnya menolak tawaranku.

“Mengapa kau di sini? Di mana rumahmu?” tanyaku. Dia menoleh padaku dengan sinis, menjawab:

“Rumahku di seberang, dan kita sama tahu bahwa sekarang sedang hujan deras, juga gelap.”

“Apa ada perahu yang membawamu ke seberang?” tanyaku lagi.

“Mungkin besok pagi. Hujan terlalu deras. Berbahaya jika menyeberang.”

“Lantas di mana kau akan menginap?”

Tiba-tiba ada rasa bersalah dalam hatiku, ketika dia menjawab:

“Di bangku panjang ini. Mengapa kau terlihat khawatir?”

Dia mengusap rambutnya, dan melanjutkan:

“Begitu banyak ku lihat, orang merasa terasing di dalam dirinya. Bahkan ketika dia melihat orang lain, dipikirnya keterasingan adalah miliknya sendiri.”

Dia mengangkat keningnya dan tersenyum, menambahkan:

“Setiap orang adalah keterasingan, tak peduli seberapa jauh dia berjalan, ke dunia mana pun yang dilintasinya.”

Sebuah bus berhenti di depan terminal, membunyikan klakson, membuyarkan kekakuanku.

“Dik, bus sudah menunggumu.”

“Sampai jumpa. Terima kasih atas ini.” ku kembalikan korek api miliknya.

“Bawa saja itu sebagai pengganti korek apimu yang sial.” katanya setengah tertawa.

Ku raih ranselku dan melompat menerobos hujan.

“Terima kasih!” teriakku di pintu bus.

Di balik kaca bus, ku lihat dia mematung di sana, di balik hujan, sambil mengusap-usap keningnya. Bus melaju menerobos    kedinginan.

-Yogyakarta, Oktober 2012

Agung Poku 

 

 

5 thoughts on “Keterasingan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s