Sampingan

Suatu Tempat di…

Set your life on fire. Seek those who fan your flames. Rumi (RumiQuotes on facebook)

Set your life on fire. Seek those who fan your flames. Rumi (RumiQuotes on facebook)

 

Dulu kawan saya pernah berkata:”Mengenang Jogja itu menyakitkan. Satu-satunya obat dari sakit itu adalah selalu kembali ke bumi Jogja.”

Jogja itu istimewa. Andaikan Jogja itu adalah seorang wanita, dalam fantasi saya, dia memiliki leher jenjang. Dimana setiap lelaki bermimpi untuk memanjatnya. Jogja adalah bunga-bunga bagi para penyair. Tatkala pada akhir tahun, hujan demi hujan begitu deras dilemparkan langit, dalam kubangan itulah tangisan para pencinta. Mereka yang kalah, mereka yang bertutur, mereka yang berkasih-kasihan, mereka yang menggores kanvas, mereka yang menari dan mereka yang tertawa.

Suatu hari di bulan Februari, di Kaliurang, Soekarno menggarang: “Dan agar yang tidak murni terbakar mati!”  Bahwa setiap ego, seumpama idealisme, di Jogja dia tumbuh seperti akar-akar pohon yang bebas. Menjaga Jogja agar tetap nJogja, tidak mudah. Disanalah primordialisme mengenal toleransi. Dia adalah anak setiap manusia yang menjaga erat rahim ibunya. Keluwesan kata-kata, ketakcurigaan, ramah-tamah, dan berbagai tuhan dalam diri, sebagai segenggam abu yang dilarung di muara luas. Menjadi insang-insang yang bernapas sesuai keperluannya.

Para musafir yang belumlah menjejaki Jogja, dia mungkin berpikir akan membawa tongkatnya selamanya. Karena di Jogja, setiap tongkat akan dipatahkan, dan setiap bahu akan terangkat, setiap kasih akan terbawa sepanjang jalan. Setiap tempat di dunia adalah sama, tetapi setiap manusia lahir dari suatu tempat, sebagai pemurnian jiwa, dia mengembara.

Jogja adalah rahasia bagi para pemazmur. Bahwa setiap khotbah adalah kekuatan manusia yang bersilangan dengan alam. Setiap energi yang hinggap dari hati ke hati, membuat dunia akan membenci siapapun yang merencanakan kelicikan. Para pemahat akan mematung setiap hati yang dengki, dan menjajarkannya dalam barisan nisan tanpa nama.

Baiklah untuk Rumi, Gibran bahkan Chairil, yang memuntahkan setiap syair dan menjembatani setiap hati yang mengembara. Aku akan bertanya: “Dimanakah di tempat ini, di dunia ini, setiap manusia memurnikan jiwanya?”

Pada suatu saat, saya begitu membenci John Lennon:

“Imagine there’s no countries
It isn’t hard to do
Nothing to kill or die for ” 

Meskipun saya menginginkan anarkisme, bagaimana mungkin manusia menyelundupkan setiap tubuhnya dari pandangan orang lain. Manusia adalah satu dari banyak ibu. Dan ibu itu adalah roh-roh kasih sayang. Setiap pembunuhan adalah bukan karena manusia menjadi satu, tetapi mengapa manusia harus menjadi satu-satu. Saya membayangkan meratapi Adam, tentang ketololannya, atau tentang konspirasiNya.

Sebuah hal dari banyak peristiwa, sehingga membuat saya berpikir, manusia boleh memilih di tempat mana dia akan mengubur kekalahannya yang terbesar. Kematian.

“Kelak, jika aku mati, taburlah abu dari tulang-tulangku di laut selatan. Agar aku tahu, aku telah menemukan sebuah tempat yang luas di jagad raya.”

 

Jogja, November 2012

Agung Poku

One thought on “Suatu Tempat di…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s