Kenangan

Pada penghujung tahun 2000, bersama keluarga, saya mengunjungi sebuah desa di Lembah Napu. Desa dimana bapak saya dibesarkan secara keras dan disiplin oleh seorang pendeta, kakek saya. Desa itu memang dingin dan sunyi. Menjelang sore, ketika kabut-kabut tipis mulai turun, iring-iringan petani berjejal-jejal di punggung bukit. Kuda-kuda mengangkuti sayuran, berlenggak-lenggok menuruni bukit. Pemandangan yang tak pernah saya lewatkan setiap sore. Memandangi kuda-kuda pekerja yang patuh. Bagaiamana rasanya berkuda? Tanpa diduga, kakek saya mengajak berkuda, pada suatu siang yang cerah. Kami terguncang-guncang di atas punggung kuda. Menuruni lereng-lereng bukit, melintasi kebun-kebun sayuran yang segar-segar, hingga kami mampir di tepi sungai Lairiang. Menjelang makan malam, orang-orang desa punya kebiasaan berkumpul melingkari meja makan, sambil menikmati kopi kedelai, mereka terlibat perbincangan seputar hama sayuran. Hal itu menjadi kenangan yang hebat bagi saya. Terutama sekali mengingat pagi yang dingin di sana, merapat ke tungku, menunggui minyak kelapa beku yang sedang dipanasi. Saya senyum-senyum sendiri.

Pada tahun milenium itulah kunjungan saya yang terkahir. Hingga kini saya hanya mendengar cerita-cerita tentangnya. Selebihnya hanya menjadi kenangan yang terbawa-bawa dalam mimpi, menjadi kerinduan yang bergema di dada. Sungguh aneh memang, mengingat kenangan yang tersapu oleh waktu. Betapa mudahnya itu. Saya membayangkan sebuah museum waktu, dimana kita dapat mengunjunginya dan kembali melintasi kenangan-kenangan tersebut. Tapi itu tidak mungkin. Setidaknya tempat-tempat nyata tersebut dapat kita kunjungi lagi. Tetapi sungguh, setiap tempat telah tersapu kemajuan peradaban. Lereng-lereng bukit hijau yang berpundak-pundak, telah digali dengan rakus, mengeruk kemurahan alam. Tak dapat ditolak. Manusia mempertahankan hidup dengan cara menggusur kenangan-kenangannya. Menghancurkan keharmonisan demi kemajuan peradaban.

Sungguh aneh memaksa petani-petani menjadi manusia-manusia industri, dengan cara menghancurkan tanahnya, mendampratnya, menggencet kebudayaannya. Segala pengetahuannya tentang cara merawat wortel, cara membuat para-para untuk tempat hidup vanili, dipaksakan disimpan menjadi kenang-kenangan.

Kondisi-kondisi baru yang diciptakan telah menurunkan derajat manusia. Berusaha menciptakan keahlian manusia industri, kekayaan akan pengetahuan, tetapi miskin kebatinan dan rendahnya budaya. Para majikan yang bodoh melakukan propaganda licik dengan memberi nilai pada setiap benda, dan setiap kemiskinan ditukar dengan nilai-nilai.

Sungguh, kenangan-kenangan akan disapu habis oleh peradaban. Sebab museum kebudayaan akan disesatkan, dan setiap orang yang mengujunginya akan berseru: oh!

Dan bagi mereka yang bersetia pada batinnya, akan disikat habis oleh propaganda kemajuan dengan segala kekuatannya, kerakusannya yang menjadi-jadi. Mereka telah kehilangan arah budaya, karena setiap benda telah bernilai. Dan mereka yang tiada berdaya menjemput derasnya kemajuan, akan menjadi budak-budak di kaki raksasa industri.

Setiap hasrta akan bernilai.

Oh, sungguh, betapa mengerikannya itu kenangan.

 

 

Jogja, April 2013

Agung Poku

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s