Budaya Arsip dan Membaca di Negeri Belanda

Universiteit Leiden

 

“The people must know their history!” Maxim Gorky

Kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh sejarah. Bangsa yang besar adalah bangsa yang tak lupa pada sejarahnya. Atau dalam istilah Bung Karno, JAS MERAH! Sejarah bagi suatu bangsa merupakan titik tolak, titik balik, research, suatu penggalian ide tentang perkembangan suatu bangsa. Dan karena itu, setiap bangsa yang sadar akan betapa berharganya sejarah, akan mengarsipkannya, sebagai perhimpunan khazanah budaya dalam dokumentasi-dokumentasi yang baik. Negeri Belanda terkenal sebagai salah satu bangsa yang punya budaya pengarsipan. Selama ratusan tahun, para peneliti negeri kincir angin itu, begitu giat melakukan pengarsipan.

Bahkan calon-calon doktor, para peneliti kita dari Indonesia, harus melakukan studi ke Belanda untuk menggali bahan-bahan, sumber-sumber tentang negerinya sendiri. Tidak mengherankan, karena sebagian besar dokumentasi sejarah bangsa Indonesia tersimpan dengan baik di sana. Sebut saja salah satu misionaris Belanda yang bernama Albertus Christiaan Kruyt. Kruyt terkenal dengan penelitiaannya di wilayah Sulawesi. Bukan hanya tugasnya sebagai seorang misionaris, Kruyt melakukan penelitian ilmu bumi, etnologi, dan bahasa. Maka tak heran ketika penyusunan salah satu buku sejarah Kerajaan Mori (karya L. Poelinggomang, terbitan komunitas Bambu)  di Sulawesi Tengah, si penulis harus melakukan research ke negeri Belanda. Sebab di Indonesia sendiri, sumber-sumber tentang budaya masyarakat Sulawesi Tengah pada saat itu tidaklah mumpuni. Sebagian besar naskah, manuskrip dan semua dokumentasi berharga tentang perjalanan bangsa Indonesia tersimpan dengan baik di Universiteitsbiliootheek Leiden, universitas tertua di Belanda yang didirikan tahun 1575, dan di Koninklijk Instituut voor Taal,- Land- en Volkenkunde yang sering disingkat dengan KITLV Leiden. KITLV adalah rumah bagi para peneliti Indonesia.

Tak dapat dipungkiri bahwa di Negeri Belanda, perpustakaan adalah tempat yang menyenangkan bagi masyarakat. Budaya membaca sangat tinggi di negeri kincir angin tersebut. Di Belanda, minat membaca sudah dipupuk sejak dini. TIdak mengherankan kalau orang Belanda mempunyai motto: “tiada hari tanpa buku.” Menurut teman saya yang sekarang bermukim di Venlo, anak berusia tujuh tahun sudah terbiasa melahap buku setebal lima ratus halaman dalam tiga hari. Angka yang cukup mengejutkan bagi anak-anak di Negeri Indonesia. Budaya membaca dan pengarsipan di Negeri Belanda berjalan seiring. Maka dari itu negara-negara berkembang sering menjadikan Belanda sebagai salah satu kiblat pendidikan maju. Bahkan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dipelopori oleh Belanda melalui Koninklijke Bibliotheek, yaitu perpustakaan nasional Belanda yang terletak di Den Haag. Di Belanda, perpustakaan bukanlah saran lux. Perpustakaan menjadi tempat yang menyenangkan. Untuk anak-anak sekolah dari tingkat rendah sampai usia enam belas tahuh, kontribusi gratis. Setelah usia enam belas tahun medapat biaya kontribusi perpustakaan yang disesuaikan dengan usianya. Untuk mereka yang sudah berusia dua puluh satu tahun, maka biaya kontribusi perpustakaan sama dengan biaya kontribusi untuk umum yang berlaku setahun, dan bisa diperpanjang.

Dapat dikatakan bahwa budaya arsip dan membaca di Negeri Belanda, menjadi salah satu penyokong kemajuan. Karya-karya peneliti diarsipkan dengan baik oleh negara, dan karyanya menjadi bacaan yang ditekuni.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s