Integritas Seniman

Kepopuleran seorang pelaku seni tidaklah menjadi jaminan atas nasib sosialnya. Memang hal itu tidak terjadi pada banyak seniman yang hasil karyanya benar-benar mendapat apresiasi yang luar biasa. Seringkali publik menomor-duakan integritas seniman, karena yang terutama adalah hasil karyanya. Wajar saja itu, jika kita menggunakan pepatah: “tak kenal maka tak sayang.” Tapi hal seperti itu nampaknya asing bagi seniman daerah. Penghargaan atas hasil karya seniman daerah, tidak lantas menimbulkan penghargaan atas dirinya, atas integritas kesenimanannya, berbarengan dengan hasil karyanya yang telah dikeruk habis-habisan oleh publik. Daya kreatif, kejuangan seniman dalam menggali kepekaannya, mengolah sesuatu yang paling halus dalam dirinya sehingga menghasilkan karya, bukanlah hal utama yang diperhitungkan. Publik bisa saja berdecak kagum karena telah mendengar, merasakan, bahkan meraba sebuh karya seni, tapi sebaliknya bersikap masa bodoh dari mana ide itu digali. Akibatnya banyak seniman daerah yang mati sebelum tumbuh. Seni tradisi mati bersama ketakpedulian publik pada integritas seniman daerah. Berkuranglah satu per satu penopang budaya Nasional.

Memang pada beberapa tempat di Indonesia, seniman dapat hidup dari hasil karyanya. Seniman sebagai suatu profesi yang dihargai. Integritas seniman mendapat apresiasi yang layak bersama hasil karyanya. Hal itu berlaku karena publik telah sadar mengunjungi galeri-galeri seni atau panggung-panggung kesenian. Ada timbal balik antara pelaku seni dan penikmat seni. Seniman dapat hidup layak. Honorarium yang diterima dapat menunjang kesejahteraannya. Tapi ada juga yang mengatakan bahwa beberapa seniman telah menjadi penjilat. Selera publik telah dikejar-kejar demi materi. Antara sikap materialistis dan mempertahankan integritas. Pada akhirnya publiklah yang menentukan. Jika seseorang manjadikan seni sebagai profesi, maka dia akan bergulat dengan integritasnya, mengolah ide dan daya kreatif. Tetapi jika seniman telah mengorbankan integritasnya demi mengejar selera publik, apakah masih layak disebut seniman?

Integritas berarti kejujuran. Ketika seorang seniman melakukan apa yang diinginkan orang lain, dan mencoba menyediakan permintaan itu, dia berhenti menjadi seniman, berubah menjadi pengrajin yang menjemukan atau menawan, pedagang jujur atau tidak jujur. Itu menurut Oscar Wilde dalam pandangannya sebagai seorang sosialis. Tapi tentu kita tidak akan memperdebatkan pelacuran seni dalam berbagai pandangan ideologi. Dalam kenyataannya, publik memiliki kesukaan yang berbeda-beda dan menentukan seni populer. Kesetiaan publik pada seni tidak lantas menjadi kekuatan untuk menyetir seniman. Tidak dapat dihindari bahwa banyak seniman yang tumbang karena ketakmampuan mempertahankan integritasnya, tergerus hilang pada derasnya arus keinginan publik akan sesuatu hasil seni. Atau yang terjadi pada beberapa seniman, yang kemudian menjadi eksklusif dan karyanya hanya dinikmati oleh kalangan tertentu. Tetapi ada juga yang bertanya, bagaimana mengukur integritas seniman? Jika dikatakan integritas berarti berkepribadian, maka kejujuran dalam berkarya adalah titik tolaknya. Bagi Rendra, aktivitas seni berarti aktivitas Roh. Aktivitas tersebut bukanlah sesuatu yang praktis ataupun efisien. Dia punya cara sendiri untuk bekerja. Berhubungan dengan hal tersebut, pada suatu keadaan, seniman membentuk relasi sosial dengan cara memberi nafas idealisme pada hasil karyanya. Pada suatu keadaan dimana Roh-nya menejermahkan kegelisahan-kegelisahan pada aktivitas publik. Kesadaran batin juga ditentukan oleh keadaan aktivitas publik. Suatu dorongan untuk menghasilkan karya, memberi pikiran-pikirannya secara bebas terhadap aktivitas publik. Itulah yang dinamakan kejujuran berkarya.

Saya tidak mengatakan bahwa seniman telah ditekan atau dipaksakan menghasilkan karya sesuai keadaan. Kesadaran timbul begitu saja, tanpa paksaan sama sekali. Dalam suatu perbincangan yang menarik di Jogja, Hari Leo mengungkapkan kesadaran kepenyairannya timbul dari kesadaran pribadi. Memang saya setuju bahwa seni adalah cara paling intensif untuk mewujudkan individualisme. Lain lagi dengan Mas Iman, seorang penyair Malioboro era 70-an, berpendapat bahwa seni haruslah kembali kepada fitrahnya. Kesimpulannya adalah seni, khususnya sastra, telah lelah bertarung di arena publik. Sastra telah ditembakkan lewat moncong senjata masing-masing kepentingan. Dan kembali kepada fitrahnya, berarti berurusan dengan integritas seniman. Sepenuhnya bebas.

Nah, bagaimana dengan nasib seniman daerah. Saya mengenal dua seniman di tempat kelahiran saya. Dapat dikatakan bahwa mereka adalah generasi terakhir dari seniman yang cukup populer pada masanya. Mereka adalah pekerja seni musik. Tapi seperti yang dikatakan sebelumnya, kepopuleran seniman bukan jaminan atas nasib sosialnya. Pak Erenst Reppie dan Pak Batui adalah seniman besar di Tana Mori. Publik Tana Mori mengakui hal itu. Integritas mereka teruji. Tapi bagaimana nasib sosial mereka?

Saya mengenal Pak Batui sejak Sekolah Dasar. Beliau seorang guru musik bambu. Dedikasinya pada musik daerah sangat tinggi. Kami pada saat itu direcoki dengan potongan-potongan bambu. Kami harus membawakan lagu-lagu daerah, dengan tiupan yang baik untuk menghasilkan harmoni. Beliau mendidik secara keras, seperti hendak mengatakan: “Ini loh musik daerahmu!” Dia begitu teliti pada hal-hal teknis. Di kalangan pelajar, namanya begitu tenar. Tak jarang di panggung-panggung seni daerah, dia duduk sebagai juri atau berdiri sebagai pelatih. Integritasnya teruji, tapi keteguhannya digerus publik. Publik menginginkan sesuatu yang baru. Maka Pak Batui tidak lain dianggap sebagai pengajar yang melakukan hobinya secara sukarela. Honorariumnya sebagai pekerja seni paling banter adalah segelas kopi dan ribuan ucapan terima kasih.

Begitupun dengan Pak Erenst Reppie, komposer Tana Mori, bernasib serupa dengan apa yang dialami Pak Batui. Generasi terkini mungkin akan mengenangnya sebagai pencipta lagu daerah. Integritasnya sama sekali tak ada pentingnya untuk dikenang. Sekali lagi publik menginginkan sesuatu yang baru. Pak Erenst Reppie telah mangkat beberapa tahun lalu. Panggung seni daerah berkali-kali membawakan karya ciptaannya dan mengenangkannya setelah keriuhan berakhir. Lagunya direkam dan dinyanyikan berkali-kali, tapi royalti apa yang didapatnya? Sama sekali tidak. Diperparah lagi dengan kelakuan pengelola daerah yang cuek pada karya seni anak-anak daerah. Semua telah setuju pada keputusan publik, bahwa seni harus diperbaharukan untuk menjawab sekaligus memuaskan hasrat publik.

Bukankah seniman juga butuh hidup, membayar rekening listrik, mengontrak rumah, membeli minyak tanah atau menyekolahkan anak. Bagi Rendra, janganlah seniman terperosok ke dalam romantisme yang tidak berkeputusan! Selamanya seni adalah bebas dan tak punya kewajiban untuk memuaskan hasrat publik. Dan yang dapat menjawab tantangan itu adalah seniman yang punya integritas. Tapi yang ironis adalah publik akan memiskinkan dirinya.

Jogja, Mei 2013
Agung Poku

One thought on “Integritas Seniman

  1. “Dan yang dapat menjawab tantangan itu adalah seniman yang punya integritas. Tapi yang ironis adalah publik akan memiskinkan dirinya.”
    Jadi pada akhirnya semua kembali ke hukum alam. Siapa yang kuat dia yang menang, sedang kekuatan berbanding lurus dengan jumlah. Maka, kebenaran mayoritaslah yang akan dipegang.
    Kuantitas 1, kualitas 0. Macam pertandingan sepakbola ya bung?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s