Kematian

Pabila kau dengan sesungguh hati ingin menangkap hakikat kematian, bukalah hatimu selebar-lebarnya bagi ujud kehidupan. Sebab kehidupan dan kematian adalah satu, sebagaimana sungai dan lautan adalah satu.

 

Pada tahun kedua belas, hari ketujuh, Al Mustapha menanti kapal yang hendak membawanya pulang ke kampung halaman. Kampung yang ia rindukan. Setelah ia terdampar di tengah rakyat Orphalese selama tahun itu juga. Rakyat Orphalese meminta petuahnya, sebab ia yang terpilih dan yang terkasih. Lalu majulah seorang pendeta wanita, Almitra, dan bertanya perihal kematian. Kalimat itu diucapkan Al Mustapha menjelang kepergiannya menuju samudera. Demikian kisah itu ditulis Kahlil Gibran dalam Sang Nabi.

Ada rasa takut menanti kematian, kekalahan terbesar seperti dikatakan Chairil Anwar. Menunggu-nunggu saat yang tak dapat diketahui siapapun. Kecemasan yang pada akhirnya ditindas oleh gairah hidup, keinginan untuk menjalani hidup, melihat lurus ke depan. Tetapi pada akhirnya, siapapun ia pasti mengalami kematian. Yang menarik dalam Sang Nabi, atau lebih jelasnya bagi Gibran, kehidupan dan kematian adalah satu. Sebagaimana yang terdapat dalam banyak ajaran agama tentang adanya suatu tempat yang bernama nirwana. Suatu tempat yang melangsungkan kehidupan abadi. Tepat seperti yang ia katakan, keduanya adalah satu. Kehidupan itu sendiri. Mungkin setiap orang punya pendapat, pemahaman  tentang kematian dan perihalnya dengan kehidupan. Tetapi yang pasti adalah ada orang-orang yang merasa kehilangan setelah ditinggal pergi kematian. Mereka yang berduka merupakan suatu hal yang nyata dibanding pertanyaan tentang kemana roh yang meninggalkan raga itu pergi.

Mereka yang lara karena dipisahkan oleh kematian, memang tak harus dibendung air matanya sebagai rasa rindu. Tetapi buruk untuk menerbitkan duka setiap hari. Menyesali atau bahkan mengutuki kematian. Sebab bagaimana bisa kita melawan takdir, menolak datangnya maut menjemput. Menarik kembali roh yang pergi dan menyumpalnya kembali kedalam raga yang tinggal menjadi seonggok daging, dan bahkan sebentar lagi akan hancur disantap hewan-hewan tanah. Mustahil, karena kita tiada punya kuasa layaknya Nabi Elia yang membangkitkan anak seorang janda dari kematian.

Tetapi cintalah yang tertinggal dari seluruh duka tentang kematian. Cintalah yang membangkitkan hidup dan kematian, jika sesungguhnya ia satu. Mengenang orang-orang yang pernah menyatukan kita didalam cinta. Ia memang tiada berwujud, sebagaimana udara yang kita hirup dan yang menerbangkan roh-roh orang terkasih menuju kehidupan itu sendiri.

Tatkala kita mengenang orang-orang terkasih yang pergi meninggalkan kita menuju kematian, yang tertinggal hanyalah cintanya. Tak ada yang bisa menimbun cinta kedalam tanah dan berharap disana ia hancur disantap hewan-hewan tanah. Satu-satunya yang tak mengenal kematian adalah cinta.

Mungkin Al Mustapha iangin mengatakan, bahwa ia sendirilah kematian itu. Sedang kita yang (masih) tinggal adalah rakyat Orphalese yang merindu-rindu.

 

*untuk orang-orang terkasih yang dipanggil kehidupan

Oktober 2013

Agung Poku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s