Kesepakatan Dengan Slamet ( Untuk Selamat)

Mencari sunyi, mendapati ramai. Mengharap hujan di jendela kamar, justru ia mendekap di jalanan. Kalimat itu menjadi mantra pergantian tahun. Di situ ia menjadi doa, umpatan, harapan dan keisengan. Bahkan ia menjelma menjadi sunyi itu sendiri. Dua hari menjelang berakhirnya tahun 2013, kami menjelma menjadi petapa yang ingin menjadi sunyi di puncak Slamet. Berbekal harapan yang diidam-idamkan dilepaskan di puncak Gunung Slamet, juga beberapa bungkus mie instan, kami menerobos hujan yang sejak siang turun begitu deras di Jogja. Inilah awal ia menjadi umpatan dalam hati. Kami dikawal hujan sepanjang jalan, hingga kedinginan di jalanan luas, ditengah hamparan sawah Kulonprogo. Bebauan tanah basah dan pohon-pohon disepanjang jalan mengurungkan niat untuk sementara menyimpan rasa sesal dan dingin. Kalimat itu tak jadi terucap:

“Alam sedang tidak bersahabat.”

gerbang Slamet

gerbang Slamet (dok. pribadi)

Aku pernah menyaksikan seorang pria menunda hujan turun pada jalan yang akan ia lewati. Ia tak membakar segumpal kemenyan sambil membaca mantra. Juga ia tak berseru-seru, seperti seorang gembala yang memanggil domba-dombanya di padang luas. Seingatku, ia hanya mengambil sepucuk ilalang dan entah bagaimana, sepanjang jalan kami tak diguyur hujan. Sementara orang-orang yang kami lewati, terus memacu kendaraan mereka sambil mengenakan jas hujan.  Sampai detik ini, aku tidak pernah tahu apa yang ia lakukan. Aku hanya mengambil kesimpulan, manusia bisa membuat kesepakatan dengan alam. Dan lagi, kalimat itu tak jadi terucap.

Memasuki bumi Ngapak, aku hampir tidak bisa membedakan antara hujan dan kabut tebal. Gelap menikung, menanjak, mengucapkan selamat datang di Purbalingga. hari sudah larut malam. Di basecamp, para calon pendaki sedang berjuang melawan dingin dibalik selimut. Malam itu, sambil menyantap sup jagung, kami berdiskusi soal calon pendaki yang datang dari pelosok pulau Jawa, hanya untuk merayakan pergantian tahun di pucak Slamet. Mungkin seperti kami, mereka petapa yang mencari sunyi. Tapi kami sama-sama menyatakan, malam itu juga, kami tidaklah berada dalam sunyi. Ratusan calon pendaki siap terengah-engah di punggung Slamet.

Kesepakatan

Kesepakatan (dok. pribadi)

Pagi datang. Matahari ditutupi kabut tebal. Hanya setitik besar cahaya putih dikejauhan, di sudut timur. Beberapa rombongan pendaki sudah memantapkan hati, menerobos gelap sejak subuh. Bukanlah hal hebat dan menggemparkan seperti cerita orang-orang, pendakian Gunung Slamet kali ini adalah perjuangan mencari sunyi, yang kini bukan lagi sunyi diantara semak dan Edelweiss.

Di pos 5, kami mendirikan tenda rapat-rapat. Puluhan tenda beraneka warna memberi kesan dominasi warna hijau. Malam kian larut, diisi percakapan dan riuhnya pendaki saat memasak. Sebentar lagi tahun berganti. Betapa aneh berada di sini, diketinggian ini, jauh dari wajah kota yang semarak. Tepat jam 12 malam beberapa kembang api dinyalakan. Ucapan selamat dan pelukan sesama pendaki begitu cepat, hingga dingin mengurung semuanya didalam tenda. Seakan-akan berlalu begitu saja. Pukul tiga pagi, kabut turun menepi, dan angin menghantam berkali-kali. Sedingin itu, pikirku, inilah saat yang tepat mencari sepi. Memandang atap kota dikejauhan. Mencermati setiap suara dari gesekan pohon. Aku bermimpi, air mata titik begitu jauh dalam kesunyian. Dan semuanya lelap tanpa dengkuran.

Summit attack! Kalimat yang itu juga terucap. Kabut tebal begitu merayakan dingin yang ia timbulkan. Padang hijau dan bunga Edelweiss terlewati begitu saja menjelang puncak. Berganti kerikil dan bebatuan basah. Seluruh tubuh basah dan menggigil memeluk tulang. Badai besar datang. Para pendaki berjuang melawan atau mengikuti kemauan alam. Badai semakin mengamuk. Tim SAR siaga tepat beberapa meter dari puncak, memberi isyarat pada kami untuk segera turun. Terlalu berbahaya, katanya dengan logat Ngapak yang kental. Ingin sekali tidak mengikuti saran mereka, sebab dari tempat kami berdiri, beberapa meter di atas sana pucak Slamet diselimuti kabut. Pada akhirnya kata melawan berganti dengan mengikuti.

Menjelang puncak (dok. pribadi)

Menjelang puncak (dok. pribadi)

Menjelang puncak (dok. pribadi)

Menjelang puncak (dok. pribadi)

Selama perjalanan pulang, ditengah gelap hutan Kebumen, aku terus berpikir, melawan alam adalah perbuatan sia-sia. Aku teringat si pria yang membuat kesepakatan dengan alam. Aku juga harus. Kesepakatannya adalah aku akan kembali saat matahari telah terlihat.

Jogja, Januari 2014

Agung Poku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s