Seorang perempuan yang membaca buku di bawah sinar bulan

A Girl reading a letter by Candlelight, with a Young Man peering over her shoulder

A Girl reading a letter by Candlelight, with a Young Man peering over her shoulder (wikipaintings.org)

Rumah besar di seberang tembok itu telah dihuni sebuah keluarga yang baru saja pindah dari Jakarta. Setahun lebih rumah itu kosong setelah ditinggal pemiliknya, seorang lelaki tua yang mengidap asma. Dulu setiap malam aku mendengar dari jendela kamarku yang selalu terbuka, suara napas besar yang tersekat ditenggorokan. Suara yang kadang terdengar mengerikan, seperti terhimpit, membising seperti sebuah gasing yang berputar di atas dulang blek. Aku menyaksikan penderitaan lelaki tua itu. Dari jendela kamarku , dapat kulihat ia tergolek, berputar-putar di atas kasur dan kemudian menggaungkan suara yang mengibakan itu. Ia tak pernah menutup tirai jendela kamarnya. Jarak antara jendela kamarku dan jendela kamar lelaki tua itu mungkin sekitar sepuluh meter. Sangat dekat, hanya dibatasi sebuah tembok tinggi yang dipenuhi bunga pagar. Kamarku berada di lantai dua, dengan jendela menghadap ke barat. Aku memang lebih suka memandangi matahari terbenam. Sebaliknya kamar lelaki tua itu, jendelanya menghadap ke timur. Dan nampaknya ia lebih menyukai suasana pagi yang ceria. Ia selalu menyongsong matahari terbit setelah semalaman kepayahan bergulat dengan napasnya. Beberapa kali ia memergokiku mengawasi jendelanya. Begitu pula sebaliknya. Pada kejadian itu, aku selalu menganggukan kepalaku untuk menyapa. Dan ia membenarkan leher sweternya yang kendor. Sebenarnya pada saat seperti itu, aku ingin menyapanya, menanyai keadaannya, meskipun nanti ia tahu bahwa aku tahu persoalan kesehatannya. Disamping itu tentu aku harus berteriak agar ia mendengar. Sungguh tidak santun. Terakhir kali aku melihat jendelanya sudah ditutupi tirai. Dan kemudian sepi saja. Tak ada lagi terdengar suara napas besarnya yang keluar dari jendela oval berwarna cokelat tua itu.

Keluarga baru yang menempati rumah besar itu terlihat sibuk menata perabot. Dari jendelaku dapat ku awasi mereka lalu-lalang. Sesekali muncul di balkon sambil membawa pot bunga yang banyak sekali. Sampai larut malam dapat kudengar suara mereka berdebat soal letak perabot. Esok paginya kulihat jendela itu terbuka lebar. Sinar matahari pagi yang jernih memancar kesana, menerangi sebuah lemari besar yang dipenuhi buku. Buku-buku yang disusun sangat rapi, diletakkan sesuai besar kecilnya. Mungkin jumlahnya ratusan. Aku menduga kamar itu adalah sebuah perpustakaan keluarga. Dan ternyata dugaanku tepat. Setiap sore anggota keluarga mampir ke kamar itu dan mencomot salah satu buku. Mereka duduk-duduk di balkon, membaca buku, sambil menikmati teh dan kudapan. Selesai membaca, mereka terlihat bercakap-cakap cukup serius. Mungkin berdiskusi soal buku bacaan.

Masing-masing dari mereka adalah seorang lelaki yang terlihat segar. Usianya mungkin diatas lima puluh. Pembawaannya ringan dan lincah. Tentu ia sangat menggemari sport. Tubuhnya atletis, sangat ramping. Sejauh yang kuamati, belum ada keriput yang mencolok di wajahnya. Rambutnya seluruhnya putih, nampak selalu diminyaki, mengkilap. Ia memang tampan. Sedang yang lain, seorang perempuan dengan air muka lembut. Ia selalu bersama lelaki itu. Tentu mereka sepasang suami istri. Dari kemesraan mereka, cara mereka menegur, dugaanku pasti tidak meleset. Perempuan itu selalu menunjukan perhatiaanya pada si lelaki. Mengusap wajahnya, menuangkan air teh pada gelasnya, dan semua kelakuan baik layaknya suami istri yang saling menyayangi. Tiba-tiba aku teringat pada cerita temanku soal hubungan orang tuanya. Ia ceritakan hubungan orang tuanya layaknya sepasang muda-mudi yang cintanya masih bergelora. Cara mereka memperlakukan satu dengan yang lain tak ubahnya seperti pasangan yang baru merasakan genitnya cinta pandangan pertama. Kadang-kadang mereka berkejaran di dalam rumah, hanya untuk memeluk salah satunya. Kadang-kadang temanku ini malu juga pada tetangga soal perilaku orang tuanya. Aku hanya tertawa mendengar ceritanya. Dan menurut pendapatku, kukatakan padanya, itu hal langka dan sangat baik adanya. Setiap pasangan punya gaya untuk memelihara hubungannya. Bukan soal mana yang patut atau tidaknya, masing-masing punya cara untuk menunjukkan rasa cintanya. Bahkan yang buruk adalah pasangan yang menyembunyikan perasaannya, tidak terus terang sekalipun untuk menyatakan kasih sayangnya. Temanku tetap menanggung rasa malu pada tetangga.

Yang terakhir adalah seorang anak lelaki kurus. Tentu ia adalah putra dikeluarga itu. Ia mengenakan kacamata tebal. Mungkin ia seusiaku. Dari pengamatanku, ia seorang pembaca yang tekun. Ia selalu melahap buku-buku tebal, dan tak bergeming dari kursinya saat membaca. Sesekali ia mengangkat wajahnya dan mengamati keadaan sekitar, kemudian melanjutkan perhatiannya pada buku. Rambutnya yang tebal berombak, jatuh menutupi alisnya. Menimbulkan kesan bahwa ia seorang yang berwatak serius. Aku sangat tertarik pada kebiasaan keluarga mereka membaca buku berbarengan. Suatu hal yang langka pada saat ini.

Ternyata selama ini ada yang lepas dari perhatianku pada tetangga baru itu. Masih ada seorang lagi dalam rumah itu. Seseorang yang justru mesti kuperhatikan lekat-lekat, sebab ia memang menyedot seluruh perhatianku. Dan hal itu dimulai pada suatu malam ketika bulan sedang penuh di langit. Malam itu bulan penuh cahaya, menyentuh tanah, segala tetumbuhan, rumah-rumah, juga jendela kamarku. Keadaan yang begitu mengundang perhatian. Aku mampir ke jendela dan duduk disana memandangi kejadian yang luar biasa indahnya. Seperti sore hari, keadaan di sekitar cukup terang, dan aku dapat melihat dengan mata telanjang kelelawar menerobos pepohonan. Jendela di seberang kamarku terbuka setengah. Dan kulihat sepotong lengan bersandar di dudukan jendela. Rasa penasaranku terbit. Beberapa saat kemudian dengan bantuan sinar bulan, dapat kulihat dengan jelas jari-jari tangan yang menggenggam sebuah buku. Kemudian muncul punggung yang sebagian ditutupi rambut bergelombang. Jantungku berdegup mulai melaju. Tak mungkinlah setan punya perhatian pada buku. Aku sedikit tenang. Makhluk itu merubah posisinya, ia menyamping. Tangannya sedikit keluar dari bingkai jendela oval itu. Wajahnya tampak samping. Ia seorang perempuan. Seorang perempuan yang sedang membaca buku di bawah sinar bulan. Mengapa ia tak menyalakan lampu saja? Betapa susahnya membaca buku hanya dengan bantuan cahaya bulan. Dari perhatiannya pada buku, jari-jarinya yang terlihat sangat hati-hati membalikkan halaman perhalaman, ia tampak begitu serius pada bacaannya. Kulirik jam dinding, menunjukkan pukul setengah duabelas malam. Malam itu aku tak bisa tidur. Aku terus memikirkan perempuan itu. Terbit pertanyaan dalam hatiku, mengapa ia tak ikut membaca pada sore hari. Justru ia memilih membaca buku pada tengah malam, hanya dengan bantuan cahaya bulan sebagai penerang.

Besok sorenya mereka bertiga terlihat di balkon. Seperti yang sudah-sudah, masing-masing dari mereka menekuni buku. Kemudian mereka bercakap-cakap sambil menikmati teh dan kudapan yang sudah disiapkan ibu rumah tangga. Tak kulihat perempuan yang semalam kubicarakan ada disitu. Kemana ia pergi? Apakah ia salah satu anggota keluarga, atau ia pembantu rumah tangga dikeluarga tersebut? Aku tak dapat menyembunyikan rasa ingin tahuku. Sebenarnya tak patut aku ikut campur urusan orang lain. Tapi aku punya pembelaan. Hanya sekedar perhatian dan selebihnya perempuan yang membaca buku di bawah  sinar bulan itu cukup aneh bagiku. Kata teman-temanku, aku punya bakat untuk menjadi seorang detektif. Rasa ingin tahuku kadang berlebihan.

Malam berikutnya, cahaya bulan surut. Cahaya abu-abu menerangi udara. Dan aku menunggu-nunggu di jendela. Aku punya kesan kuat bahwa perempuan itu akan membaca lagi malam ini. Benar-benar tak meleset. Perempuan itu membawa sebatang lilin dan membuka jendela. Sebuah buku ditangannya. Ia mulai membaca. Kali ini aku dapat melihat keluk wajahnya. Cahaya lilin membentuk bayangan besar wajahnya di lemari. Hidungnya, bulu matanya, bibirnya, dagunya, rambutnya yang jatuh ke telinga, terlihat begitu menarik. Sesekali angin bertiup pelan menyapu api di sumbu yang kecil itu, dan bayangan wajahnya bergetar. Aku seperti sedang menonton sebuah pertunjukan teater. Sebuah lakon monolog, dengan tata cahaya yang sempurna. Hanya memperhatikan gerak perubahan wajahnya dari bayangan yang menceritakan keseluruhan hidupnya. Dan perannya ia lakoni dengan sangat baik. Diam-diam aku bertepuk tangan mengapresiasi totalitasnya.

Sepertinya semua keadaan berkonspirasi untuk menjawab seluruh pertanyaanku tentang perempuan itu. Seorang pensiunan kolonel yang mengemban tugas sebagai kepala keamanan kampung, berpapasan denganku di sebuah warung makan. Ia menitipkan sebuah surat. Ia minta bantuanku untuk menyampaikan surat tersebut kepada Profesor Soerjadi yang menjadi warga baru di kampung kami. Suatu kebetulan yang datang pada saat yang tepat pula. Ternyata keluarga Profesor Soerjadi itu adalah keluarga yang mendapat perhatianku akhir-akhir ini. Tentu dengan cepat aku mengiyakan permintaannya. Darinya pula kuketahui bahwa Profesor Soerjadi adalah seorang guru besar di sebuah Universitas terpandang di kota ini. Sang Kolonel mengucapkan terima kasih, dan buru-buru pergi. Ia hendak mengantarkan keponakannya yang sedang sakit keras ke rumah sakit.

Tanpa menunggu lama aku bergegas menuju rumah besar itu. Halaman rumah itu cukup luas ditumbuhi rumput Jepang. Di kiri kanan, aneka bunga tumbuh segar. Ditengah-tengah halaman terhampar batu-batu kali putih menuju pintu utama. Semuanya memberi kesan bahwa ia berada di tangan yang tepat. Seseorang yang mencintai keindahan. Setelah mengetuk pintu dan memberi salam, lelaki yang bernama Profesor Soerjadi itu berdiri di hadapanku. Wajahnya ramah menyambut orang asing sepertiku. Seseorang yang akhir-akhir ini menaruh perhatian pada kebiasaan keluarga mereka. Ia mengajakku masuk dan mempersilakanku duduk, tanpa menanyai terlebih dahulu maksudku bertandang. Ku uraikan maksud kedatanganku, dan menyerahkan surat titipan Kolonel. Ia membacanya sangat teliti, tampak dari air mukanya. Pandanganku menyapu seisi ruangan dan mendapati lukisan-lukisan Salvador Dali berjajar di dinding. Lemari-lemari kayu yang mengkilap di sudut-sudut ruangan berisi keramik-keramik warna-warni. Pahatan-pahatan kayu yang mengundang perhatian. Profesor Soerjadi tentu punya perhatian khusus pada seni. Aku menunggu-nunggu kalau-kalau perempuan itu muncul. Beberapa saat kemudian Profesor itu berdiri dan menyatakan permisi sebentar. Ia begitu sopan sehingga membuatku sedikit gugup.

“Jadi adik ini tinggal dimana?” tanya Profesor

“Dekat sini, pak. Rumah disebelah tembok itu.” Jariku menunjuk keluar. Tak tahulah mengapa aku menjadi kaku begini. Aku menaruh hormat pada orang yang sopan ini. Ia begitu menghargai kedatanganku, sehingga membuatku sedikit gugup.

“Wah, ternyata kita tetangga.” Katanya dengan ekspresi gembira.

“Iya, pak. Selamat datang di kampung ini. Semoga keluarga Bapak betah.” Kata-kata itu keluar begitu saja.

Profesor itu mengangguk-angguk.

Dari ruangan belakang, muncul seorang perempuan membawa nampan. Jantungku berdegup kencang. Ia adalah perempuan yang membaca buku di bawah sinar bulan itu. Kini dapat kulihat dengan jelas seluruh bentuknya. Bukan hanya bayangannya. Ternyata ia punya kesan nyata yang tak kalah menarik. Ia ramping dan luwes. Dengan hati-hati ia meletakan gelas yang berisi air teh, berikut kudapan yang tampak sangat lezat. Profesor mengangkat tangannya, seperti memberi isyarat pada perempuan itu. Profesor itu menggumam kemudian meletakan tangannya di pundakku. Tampaknya sang Profesor berusaha memperkenalkan siapa aku pada perempuan itu. Perempuan itu tersenyum dan mengangguk padaku. Kulakukan hal yang sama. Ia kemudian menggumam dan kembali ke belakang.

“Namanya Widyawati. Ia bisu dan tuli sejak kecil.” Kata Profesor menjelaskan.

“Maaf, pak. Dia anak bapak?” Pertanyaan itu tiba-tiba keluar dari mulutku.

“Ya, dia bagian dari keluarga kami. Kami mengangkatnya sebagai anak sejak kecil.”

“Dia cantik.” Kataku pelan.

“Ya, tentu. Ia pandai merawat tanaman. Ia punya selera yang bagus soal bunga. Kami sedang berusaha mengajarinya baca tulis. Ia pemalu.”

Hampir setiap malam, perempuan itu, yang kini kutahu namanya, Widyawati, membaca buku di jendela berbekal sebatang lilin. Dan aku menikmati pertunjukannya. Bayangan wajahnya, keluk dahi dan hidungnya, bulu matanya, bibirnya. Seluruh gerak wajahnya yang memainkan peran tentang dirinya. Diam-diam aku bertepuk tangan usai menontonnya.

Jogja, Maret 2014

AGUNG POKU

One thought on “Seorang perempuan yang membaca buku di bawah sinar bulan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s