Pulang

Beteleme

Inilah kampungku. Suatu dataran panjang yang dibentengi lembah-lembah dan gunung-gemunung. Lembah-lembah putih yang berisi bunga-bunga liar, membawa aroma warna-warni setiap sore. Pepohonan dipagari ratusan tambang yang minggat dengan drama yang sangat memalukan. Pergerakan ekonomi yang tumbuh pesat dalam grafik dan kurva para ekonom. Dimana-mana sama saja, setiap budaya warisan leluhur akan disingkirkan oleh nilai uang dan jabatan. Semua yang bersifat tradisi adalah kebiasaan nujum yang kuno. Tak sepadan untuk keadaan seperti sekarang ini.

Orang-orang tani yang menghilang sejak pagi, bergumul dengan lumpur, kemudian pulang saat senja untuk kemudian berkelompok di warung-warung minuman. Sekedar untuk melepas lelah. Pulang sempoyongan, dibuai mimpi-mimpi jangka pendek, menanam makanan, menyadap pohon karet. Hiruk-pikuk di pesta-pesta pernikahan juga pesta duka, hanya sebentar saja. Grafik pertumbuhan ekonomi makin naik, sejalan dengan orang-orang tani yang terus-menerus dibuai mimpi jangka pendek.

Kumbang-kumbang berkembang. Elang mengangkasa. Turun ke lembah-lembah kerinduan, menyapa ilalang. Nyanyian Daud menyeluruh menyapu segala embun, terbang bersatu dengan molekul-molekul, dihirup setiap manusia.

Inilah kampungku. Setiap ide akan diuji dengan dialog-dialog panjang. Oleh sekelompok orang akan menjadi bahan lawakan di meja-meja minuman. Tembok-tembok sebagai batas pengetahuan yang ditumbuhi akar dalil pembangunan yang sakit. Sakit parah. Setiap kemajuan pembangunan harus diterima sebagai syarat politik kemakmuran. Orang-orang yang bertanya akan ditebas dengan lawakan kelas-kelas orang sakit jiwa. Dimana-mana sama saja. Orang-orang piawai memainkan bahkan menikmati peran yang ia sendiri tak paham. Jiwanya telah sakit sejak awal pembangkangannya pada hati nurani. Di kota atau di desa sama saja. Kekayaan mendesak orang-orang ke penjuru hutan sampai hilang ditelan tebing-tebing putih.

Setiap generasi punya karakternya masing-masing. Dan sekarang kita dihadapi pada orang-orang dengan karakter brutal. Benar-benar tak punya rasa malu untuk mempertontonkan kekuasaan kekayaan. Semua dapat dibeli. Jiwa-jiwa miskin dapat terbeli oleh himpitan ekonomi. Kebohongan yang berlangsung terus-menerus tanpa rasa malu. Dan seperti yang sudah-sudah, hanya berakhir sebagai bahan lawakan karena perbincangan atau dialog soal ide akan ditertawakan.

Bersama-sama telah kita saksikan dengan mata telanjang, manusia-manusia yang disapu oleh arus sejarah. Pembangkangan yang manis dari pengkhianat-pengkhianat kita. Suatu panggung yang megah, pelaku-pelaku sejarah yang penuh fantasi soal kemakmuran. Kebersahajaan penduduk desa dapat dibeli dengan menyingkirkan mereka jauh dari tanahnya. Apa yang dapat dilakukan orang tani tanpa tanah? Apa guna arit tanpa rumput? Ilalang telah disapu habis oleh perkebunan berhektar-hektar agar orang lain dapat kenyang dan bersendawa di meja makan. Jika orang-orang melawan maka persediaan senjata mesti ditingkatkan. Dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.

Orang-orang yang kalah mesti dikalahkan terus-menerus hingga ia lupa bahwa ia punya kekuatan. Orang-orang miskin harus terus dimiskinkan agar ia terus memelihara mimpi jangka pendeknya. Pada pihak yang mana kita berdiri jika kita terus saja menutup mata, telinga, juga hati.

Matahari telah terbenam dibalik gunung Ponteoa. Hujan terus tumpah ke bumi. Orang-orang yang kalah masih saja melewati jalan yang itu-itu juga. Jalanan yang kasar, penuh bopeng dan genangan air. Mimpi-mimpi yang terus terpelihara pada genangan yang itu juga. Hari ini mesti makan.

Kunang-kunang turun pada malam-malam yang sepi. Anjing-anjing menyalak disudut kuburan. Gelombang suara yang memecah malam datang dari pasar malam. Hiburan terus berlangsung untuk menenangkan hati kita yang papah. Jam dinding berdetak, dan jangkrikpun bernyanyi.

Sepuluh tahun yang lalu, aku berada disini menikmati ketentraman yang luar biasa. Dapur-dapur rumah yang mengepul. Para pemancing yang bernyanyi disepanjang jalan. Anak-anak yang bermain dibawah rembulan. Pemabuk yang pulang sempoyongan. Lantas aku bertanya, bagaimana keadaanmu sekarang?

 

Beteleme, April 2014

Agung Poku

2 thoughts on “Pulang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s