Di Hutan Lamtoro (Gunung Sindoro 3.153 mdpl)

Dua bulan lebih meninggalkan Jogja Istimewa, rasanya hampir bertahun rindu melumut. Seluruh ide dimulai dari tempat yang istimewa ini. Suatu tempat persinggahan dari segala keletihan, sambil menikmati senyum ramah jalanan. Dari Jogja untuk Indonesia. Beruntung bagi saya, karena Jogja-lah saya bisa mengenal tempat-tempat yang indah di seputaran pulau Jawa.

Gunung Sindoro (dok. pribadi)

Gunung Sindoro (dok. pribadi)

Gunung Sindoro 3.135 mdpl

Mendaki gunung itu menyenangkan. Bukan hanya soal berdiri di puncak dengan penuh kebanggaan. Suatu rangkuman perjalanan yang penuh kejutan.

Berawal dari terminal Jombor (Jogja), berdelapan kami naik bus menuju Magelang. Tim ini kami beri nama Rempakem. Hampir dua jam berada dalam badan bus yang penuh manusia, membawa kami pada suatu pengalaman yang tidak setiap hari kami jumpai. Berdesak-desakan, bergantungan, berhimpitan, persis lirik lagu God Bless, bis kota. Mbah-mbah penjual jajanan yang tertidur dalam peluh, anak sekolahan yang pulang ke rumahnya, buruh bangunan yang kelelahan, pengamen jalanan, pencopet, dan kami sendiri yang tengah bergantungan pada besi panjang. Bus melaju membelah jalanan yang panas. Tanpa suara kami berpandangan, bercakap dengan mimik muka. Berkerut, senyum, memonyongkan bibir, melonjak.

Bibir bus memasuki terminal Magelang, dan kami tersadar dari tidur yang panjang. Kernet berteriak-teriak sambil menarik tangan para penumpang yang baru saja turun.

“Sobo! Sobo!” teriaknya dengan maksud Wonosobo.

Segera kami berganti bus jurusan Wonosobo. Disanalah Gunung Sindoro berada. Diantara Kabupaten Temanggung dan Wonosobo. Suasana menjadi sedikit tegang. Dua pengamen yang bernyanyi asal-asalan, meminta bayaran dengan sedikit gertakan. Belum lagi sopir yang ugal-ugalan membuat posisi duduk kurang nyaman. Memasuki Temanggung, hawa dingin mulai masuk lewat celah-celah jendela. Serentak seluruh penumpang tertidur dengan sangat tertib. Hanya suara teriakan kernet yang menghilang dihempas angin. Mungkin mimpi seluruh penumpang sama, yaitu sesuatu yang kau ketahui saat tidur. Dan dua jampun berlalu.

Kami turun di desa Kledung, disambut gerimis, dingin menusuk. Di basecamp kami mendata anggota tim dan bersiap mendaki Sindoro. Inilah awal perjalanan di kaki Sindoro, selepas maghrib. Melewati ladang sayuran, berbekal senter, kami menjejali tanjakan panjang. Perlahan hawa dingin mulai teratasi, seiring peluh yang turun membasahi kerah baju. Hampir satu jam, kami tiba di pos satu. Pada ketinggian 1.900 mdpl ini tukang ojek berkumpul, bersiap menyambut pendaki yang turun. Dengan 15 ribu rupiah, tukang ojek siap mengantar pendaki yang kelelahan menuju basecamp.

Diantara kegelapan, perlahan kami mendaki. Bintang-bintang ramai menyaksikan kedatangan kami. Diantara celah-celah batu, menyisipkan badan yang memanggul ransel, sambil melempar canda yang menjadi obat paling manjur dalam keletihan pendakian. Langit cerah dan bayang pohonan membawa kami di pondok pos 2 pada ketinggian 2.120 mdpl. Rombongan pendaki lain sedang asyik bercengkrama, baik yang turun atau yang naik. Sekedar melepas lelah dan minum air seirit mungkin, mengingat jalan yang harus ditempuh masih cukup jauh. Setiap pendaki yang naik diwajibkan berkemah di pos 3 (2.530 mdpl). Di basecamp, setiap pendaki diperingati agar mematuhi aturan yang juga tercantum pada peta. Di atas pos 3, tidak diperkenankan untuk mendirikan tenda karena bidang tanah yang miring dan rawan longsor.

Dari pos 2, kami bergerak dengan menambah kecepatan, mengingat malam semakin menanjak. Dingin tambah menusuk. Medan berbatu, menanjak, menuju pos 3 kami lewati dengan waktu satu jam lima puluh menit. Di pos 3 beberapa tenda pendaki sudah berdiri dengan rapi. Kami disambut dengan ramah dan laporan ada babi hutan yang berkeliaran. Tenda kami dirikan. Api unggun sudah menyala, sedikit memberi kehangatan dalam dingin yang dihembus angin. Makan malam yang tersaji dalam kesederhanaan, segera dilahap habis. Hujan mulai turun. Kopi panaspun menjadi dingin. Beberapa orang dari kami sudah lebih dulu tidur, setelah girang dalam permainan. Berempat kami duduk bercengkrama, menungkapkan isi hati tentang kesunyian malam. Sudut rokok mulai tandas dan kamipun lelap.

berpose di pos 3 (dok. pribadi)

berpose di pos 3 (dok. pribadi)

Pukul 05.00 seberkas cahaya keemasan menelusup masuk kedalam tenda. Satu per satu bangun menikmati cahaya matahari yang perlahan muncul dari balik awan. Di seberang sana tampak Gunung Sumbing yang megah. Merapi yang mirip tumpeng terpotong, dan Merbabu yang mengawalnya. Pemandangan yang membuat takjub. Berbekal sarapan  bubur dan sup sayuran, kami berkemas dan siap untuk summit attack. Kali ini medan yang harus ditempuh lebih menanjak dan penuh batu besar. Celah-celah kecil diantara batu, benar-benar menguras tenaga. Beberapa kali kami harus beristirahat dan minum secukupnya. Melewati hutan Lamtoro dan batu tatah membawa kami tiba di pos 4. Beberapa pendaki yang turun menyapa ramah dan menyemangati kami. Di ujung hutan Lamtoro, terlihat sabana luas yang ditumbuhi bunga Abadi. Pohon-pohon berdaun merah bergoyang-goyang ditiup angin, melambai mengajak kami menghirup apapun yang melintas. Pemandangan yang luar biasa. Matahari bersinar terang, langit biru memayungi dan awan bergerak pelan-pelan. Perlahan suasana menjadi melankolis. Merebahkan tubuh di padang luas. Terasa diri yang seorang ini seperti sedang tersesat di dunia yang teramat luas. Dua jam sudah kami berjalan. Dua jam lagi kami akan berdiri di puncak. Semangat kembali bergerak. Bunga-bunga Edelweis menyertai pendakian kami menuju puncak Sindoro. Tubuh yang letih, kaki yang terasa berat, napas yang tersengal-sengal dapat terobati ketika di sana tampak puncak Sindoro. Sebuah wajan besar mengucapkan selamat datang. Kawah Sindoro yang terus-menerus mengeluarkan asap belerang. Inilah puncak Sindoro, pada ketinggian 3.135 mdpl. Hati yang rusuh digerogoti keramaian jalanan segera berubah menjadi damai. Hanya damai.

Gunung Sindoro (dok. pribadi)

Gunung Sindoro (dok. pribadi)

Kami diperingati agar tidak berada di dekat kawah pada pukul 12.00. Asap belerang sangat berbahaya jika terhirup. Pukul 12.00 kami turun. Di pos 3, hujan mulai turun dan terus menemani kami hingga tiba di basecamp. Adzan maghrib berkumandang. Kami mengisi perut dan bersiap pulang ke Jogja.

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya bus (mungkin) terakhir jurusan Magelang datang juga. Dalam gelap dan hujan bus melaju menembus dingin. Kami tidur dengan tenang di kursi bus. Satu jam lebih kami dihinggapi mimpi tentang padang rumput dan bunga-bunga abadi. Hingga suara kernet bus membangunkan kami dari mimpi yang indah. Kami turun di terminal Secang karena bus yang kami tumpangi tidak sampai ke Magelang. Bus terakhir menuju Jogja sudah lewat sejak pukul 07.00. Mungkin kami akan menginap di terminal Secang. Beruntung seorang bapak menawarkan kami tumpangan ke Jogja. Tawar-menawar harga berlangsung alot, sampai kami sepakat Rp.25.000/orang. Lampu mobil yang remang-remang, bunyi kampas rem yang mencicit, alat penyapu air di kaca mobil tidak berfungsi. Kami duduk diam-diam, sedikit tegang di dalam mikrolet biru. Hujan bertambah deras. Magelang dilanda air yang tumpah dari langit malam.

Pukul 22.30 kami tiba di Jogja. Jogja yang tenang dan ramah. Disini kami bersiap menampung seluruh ide tentang perjalanan selanjutnya.

Di Hutan Lamtoro

Di hutan Lamtoro

Aku ingat bayangmu

Seorang purba peramu

Seperti bayangan Lamtoro

Tangan-tangan kesunyian

Muncul dari gelap jauh

Seperti lirik-lirik gelap sebuah nyanyian

Menikam buluh-buluh

Di hutan Lamtoro

Tuah segala sunyi

Seperti hutan Lamtoro

Kita pelan-pelan bernyanyi

– Jogja, Juni 2014

Agung Poku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s