Sebuah Ketetapan

Pagi ini, aku membunuh seekor nyamuk dan mengumpat kesal. Ia menggerogoti kulitku. Cukup beringas. Tentu ia lapar, kemudian melayang kesana-kemari pada tumpukan sampah, tumpukan pakaian, lalu berakhir diam-diam menghisap darah manusia. Begitulah seekor nyamuk melayangi hidupnya. Aku membunuhnya pagi ini. Sebagai suatu tindakan pertahanan atas apa yang menimpa kulitku. Agak lucu juga, jika aku mengambil kesimpulan: “Pagi ini aku ditakdirkan  untuk membunuh seekor nyamuk.” Atau si nyamuk yang berserah pada kematiannya, berkata: “Akhirnya aku mati pada pagi ini. Suatu takdir yang malang.”

Aku teringat seorang kawan yang bertanya: “Seperti apa kamu mempercayai takdir?”

Aku tumbuh sebagai seorang Kristen. Praktis seluruh konsep Injil melekat dalam diriku, dan seluruh pengalaman, aku sandarkan pada kebenaran Injil yang kupercayai. Betapa aku kagum pada cerita-cerita sederhana dalam kisah nabi-nabi, yang selalu diceritakan kakekku tatkala kami beranjak tidur. Seperti yang lain-lain juga, pertanyaan-pertanyaan kritis mulai bermunculan. Perbandingan-perbandingan akan seluruh pengalaman mulai bermunculan. Itu titik dimana kita ditahbiskan menjadi seorang remaja.

Dalam keyakinan Kristen, setiap manusia tak perlu merisaukan hidupnya. Segala kesakitan yang muncul, setiap kesenangan yang datang, hanyalah bunga-bunga hidup yang fana. Kehidupan yang sesungguhnya adalah saat langit terbelah dan tirai kerjaan Allah tersingkap. Kehidupan yang sesungguhnya akan datang jua. Betapa sia-sianya hidup yang kita jalani sekarang. Dan aku pun bertanya letak kebenaran Allah. Seluruh kehidupan yang betapa ampun hebatnya dan maha mustahil ia tercipta, akan lenyap hanya dalam satu hari. Semuanya terrenggut pada saat itu juga.

Pada suatu malam di hari minggu, usiaku tujuh tahun. Aku menangis dibawah bantal karena cerita guru sekolah minggu. Ia berkata, semua manusia akan lenyap dan terbang menuju kerajaan Allah. Itu bisa aku terima. Tapi yang membuatku gelisah adalah ia tidak pernah mengatakan bahwa setiap keluarga akan berkumpul kembali di sana. Dan aku sudah membuat kesimpulan: “Aku tak akan mengenal wajah Mamaku lagi.” Aku menangis sepanjang malam.

Betapa naif kehidupan. Sungguh dramatis suatu perjalanan yang teramat panjang, hanya akan berakhir pada satu titik, bahkan hanya ketiadaan. Di antara pepohonan, rumput-rumput yang sunyi, masing-masing kita kembali pada suatu kehilangan. Akhir perjalanan, kuk yang berat, kelegaan yang panjang. Pandanganku sinis. Tak ada kebaikan yang ditawarkan hidup. Akhirnya akan sia-sia juga. Segalanya adalah kesia-siaan dari segala kesia-siaan. Banyak belajar melelahkan badan, kata Pengkotbah. Tak ada yang baru di bawah matahari. Manusia berusaha menemukan segalanya dan menjadi takjub akan hasil tangannya. Semuanya sudah ada sebelumnya. Berakhir dengan kebodohan.

Lalu datanglah sebuah buku yang akhirnya merubah cara pandangku. Buku pertama yang kubeli. Cinta sepanjang masa, karya Kahlil Gibran. Kisah Pendeta Semaun yang menolong setan yang tengah sekarat. Keberlangsungan hidup yang pahit dan penuh dosa. Anak-anak manusia yang melakukan perjalanan demi mencari kebajikan. Anak-anak manusia yang terbelit kesedihan dan kesepian. Mereka menangis dibawah matahari. Meratapi awan-awan yang mengandung hujan. Tetapi hanya cinta-lah yang selalu datang menolong. Cinta-lah yang selalu datang merawat segala keputusasaan. Menyeka air mata para musafir. Ia yang terpenjara dalam badan, beroleh penglihatan, sehingga ia ditahirkan sebagai jiwa yang baru.

Cinta sepanjang masa mengatasi segala rasionalisme Eropa. Para ahli berpendapat, Gibran sebagai anak romantisisme atau eksistensialisme, yang membawa seluruh keberadaannya, baik kesakitan atau kegirangannya sebagai pandangan hidup. Aku tak peduli.

Aku teringat cerita-cerita Injil. Sebagian bahkan seluruh pandangan Gibran ada disana. Ajaran Yesus tentang Kasih, menyapa manusia secara manusiawi, yang tertangkap dengan indra. Bukan suara dari langit pada suatu siang bolong. Hukum yang terutama, khotbah di atas bukit:

“Kasihilah Tuhan Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap akal budimu.”

Dan hukum kedua yang sama dengan itu:

“Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

Perkembangan pengetahuan manusia. Takdir yang datang tanpa suatu sebab, dicerna dengan semua alat pengetahuan. Anak-anak zaman lahir. Seluruh sejarah umat manusia, perang, perbudakan, filsafat, seni, agama, sastra, akan jatuh runtuh digiling oleh zaman. Tetapi yang benar-benar hidup adalah cinta. Cinta itu sendiri.

Aku tak percaya takdir yang berakhir dengan kebencian. Aku tak percaya pada takdir yang berakhir dengan keputusasaan. Aku menyebutnya sebagai ketetapan Cinta. Tuhan yang hidup dalam diriku, dan aku yang hidup dalam Tuhan. Cinta tak punya awal, juga tak punya akhir cerita.

Hidup yang bergairah!

– Jogja, Agustus 2014

Agung Poku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s