KURIKULUM 2013 DAN SIMBOLISME

Ilmu sekolah adalah ilmu hafalan,

dan bukan ilmu latihan menguraikan.

…..

Mengapa harus kita terima hidup begini ?

Seseorang berhak diberi ijazah dokter,

dianggap sebagai orang terpelajar,

tanpa diuji pengetahuannya akan keadilan.

Dan bila ada ada tirani merajalela,

ia diam tidak bicara,

kerjanya cuma menyuntik saja.

…..

Kita adalah angkatan gagap.

Yang diperanakan oleh angkatan kurangajar.

Daya hidup telah diganti oleh nafsu.

Pencerahan telah diganti oleh pembatasan.

Kita adalah angkatan yang berbahaya.

Rendra– Sajak Anak Muda

 

Sekolahan adalah sebuah pabrik multi produk yang siap menghasilkan ternak-ternak terbaik yang siap terjun ke pusaran industri dunia. Ternak-ternak itu dipakai memutar alat-alat industri, mengoperasikan alat digital industri lewat jari telunjuknya saja. Setiap produk sekolahan dilarang menjadi dirinya. Individualisme adalah murtad!

(gambar:devRange facebook)

(gambar:devRange facebook)

Demikianlah para pakar pendidikan istana berpendapat.

Penyamarataan sistem pendidikan kita akan segera diberlakukan. Sekolah-sekolah di daerah-daerah ditunjuk untuk menjadi percontohan sistem pendidikan yang menganut model Kurikulum 2013 atau kurikulum Nasional.  Dan kemudian diharapkan pada suatu saat, model tersebut dilakukan secara menyeluruh. Secara nasional. Dan dalam sistem tersebut, salah satu mata pelajaran yang ada pada kurikulum sebelumnya akan dihapus, yaitu mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi /Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi (TIK/KKPI). Apa sebab demikian?

Dalam sebuah petisi yang disampaikan Wijaya Kusumah pada sebuah situs: change.org, terungkap alasan pemerintah menghapus mata pelajaran tersebut, setelah berdialog dengan wakil menteri Pendidikan dan Pusat Kurikulum dan Perbukuan. Alasan utama yaitu, mata pelajaran TIK/KKPI seharusnya sudah terintegrasi dengan mata pelajaran lain yang diajarkan di sekolah. Kemudian mata pelajaran tersebut seharusnya menjadi sebuah alat bantu bagi guru-guru mata pelajaran dalam proses kbm di kelas. Baik, hal tersebut dapat dimaklumi sesadar-sadarnya. Mengapa? Karena rendra memang telah mengungkapkannya jauh sebelumnya, di Pejambon tahun 1977.  Ilmu sekolah adalah ilmu hafalan. Pencerahan telah diganti oleh pembatasan. Demikian tulis Rendra 39 tahun lalu.

Mungkinkah kita menelaah? Suatu hal yang teknis dan sebenarnya bukan esensi dari semuanya. Apakah guru-guru mata pelajaran sudah menguasai dan mampu mengoperasikan teknologi sebagai sarana bantu kegiatan belajar mengajar di kelas? Baik. Guru-guru di daerah perkotaan memungkinkan hal itu. Tapi bagaimana dengan nasib guru-guru di daerah pedesaan? Baik. Mereka dapat dilatih. Kita dapat melatih guru-guru yang berusia di atas 40 tahun, yang sudah mengabdi puluhan tahun lamanya. Dapat anda bayangkan, berapa banyak waktu yang akan kita habiskan untuk melatih guru-guru mengoperasikan komputer. Sementara itu kegiatan belajar mengajar terus berjalan. “Baiklah, para siswa. Sementara bapak/ibu berlatih menjinakkan tetikus, mari kita buka buku saja. Sebab ibu lupa tombol mana untuk menghidupkan komputer.” Demikian ibu guru membuka pelajaran di kelas. Dua tahun pelajaran berlalu, si ibu guru baru bisa menjinakkan tetikus dan menghafal tombol power. Tapi ia keburu pensiun! Dalam bayangan saya, muncul sebuah keputusan besar yang menggugah sekaligus mengharukan. Semua guru yang tak mampu mengoperasikan komputer diwajibkan untuk pensiun dini!

Sungguh sebuah tahi kebo!

Yang manakah esensi teknologi?

Para pakar pendidikan istana berpikir, mata pelajaran TIK/KKPI hanya soal kecepatan mengetik surat, hanya soal merapikan kabel, hanya soal membuat laporan pada tabel-tabel. Kita hanya bisa memakai, tak mampu mencipta. Memang kita dilarang menjadi individu.

Siapa yang akan menceritakan esensi teknologi pada para siswa? Mengapa manusia menciptakan teknologi? Mengapa manusia menjadi miskin karena teknologi? Miskin kepekaannya terhadap dunia! Setiap orang yang tak menguasai teknologi akan dilindas oleh zaman. Digilas dan dibuang kedalam kumpulan orang tak produktif. Apa ini yang akan kita ajarkan pada anak-anak kita? Memang kita dilarang menjadi individu. Kita hanya alat saja.

Seorang siswa bertanya: “Pak guru, mengapa semua serba komputer? Apa saya harus beli?”

Dan pak guru menjawab: “Bangsat! Diam kau siswa, anakku! Kau itu hanya alat saja. Beli saja produk murahan!”. Dan siswa keluar kelas, berlari pulang ke rumahnya berurai air mata. Guruku menjadi kasar, batinnya. Dan si guru diam-diam menangis dibalik papan tulis.

Inilah yang dikehendaki pada kita, tentang apa yang harus kita ajarkan pada siswa-siswa kita.

Apakah teknologi punya nilai kasih sayang? Dengan lantang aku menjawab: IYA!.

Perwujudan manusia adalah individualisme. Manusia bukanlah sesuatu pun selain apa yang ia “cipta” tentang dirinya. Sebagai perwujudan kerja. Sebagai kebudayaan, sebagai perkembangan individu atas nilai-nilai yang ia percaya. Produk yang dihasilkan berada diluar dirinya sebagai permakluman terhadap alam. Dan individu bukanlah alat-alat produksi yang menjadi timbal balik dari roda dunia. Tetapi sebagai perwujudan eksistensinya. Bukankah kasih sayang adalah perwujudan dirinya sendiri?

Memang segalanya menjadi kabur jika dilihat semata-mata sebagai simbol. Perkembangan teknologi sebagai simbol kemajuan dunia. Bukan pada pokok atau esensi, sehingga kita menjadi alat-alat produksi, yang menghamba pada robot. Demikian juga setelah simposium 1965, arwah komunis dibangkitkan lagi sebagai sebuah kemurtadan. Dilarang menggunakan segala properti yang berbau simbol PKI. Buku-buku merah dilarang (lagi), diskusi tentang kajian kiri dibubarkan. Sebenarnya yang mana yang sinting?

Teruslah menjadi alat dari simbol-simbol sebagai kebenaran yang esa itu. Kita mandeg dan gamang. Anak-anak kita, siswa-siswa kita, sekolah-sekolah kita adalah simbol kemajuan, sementara borok yang busuk itu tak mampu kita tutupi. Busuk, busuk, dan busuk. Tetapi kita bahagia karena sejak lama alien telah hidup di Mars!

Tetapi kita dipersiapkan menjadi alat apa ?

Kita hanya menjadi alat birokrasi !

Dan birokrasi menjadi berlebihan

tanpa kegunaan –

menjadi benalu di dahan.-Rendra

-Beteleme, Mei 2016

Agung Poku

One thought on “KURIKULUM 2013 DAN SIMBOLISME

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s