Tentang Empat Penari Yang Diambil Dari Lukisan Degas

Akhir bulan Desember selalu menyisakan hujan dari setahun yang panjang dan melelahkan. Begitu pun malam itu. Hawa dingin menusuk dinding-dinding rumah dan mengetuk-ngetuk pintu-pintu yang lembab. Dari celah-celah jendela dapur terlihat asap bercampur air hujan naik ke udara dan membuat mendung kelabu di pohon-pohon pisang. Di ujung bukit, samar-samar terlihat menara gereja tua dengan salib yang berwarna cokelat tua pada puncaknya. Dan kemudian dari perempatan-perampatan jalan yang penuh lumpur, terlihat serombongan orang berjalan dengan tubuh menggigil meskipun dikurung dengan jaket dan jas yang tebal. Pintu-pintu rumah terbuka dan orang-orang keluar berjalan menembus kabut yang basah. Mereka mendaki bukit kecil yang mereka namakan bukit pengasihan. Mereka hendak pergi ke ujung bukit itu. Tempat dimana gereja yang berumur lebih dari satu abad itu. Malam itu adalah malam Natal.

Pak Ioni sedikit terlambat. Ia sudah mengenakan jas panjangnya dan sepatu kulit abu-abu. Namun ia masih duduk di samping tungku, menunggui sup buncis yang belum juga masak. Uap air naik ke atas tutup belanga karena mendidih. Disendoknya sebiji buncis, diremasnya, tapi masih terasa keras. Ia terlihat gelisah dan menggerutu karena lapar. Dan pada saat udara dingin seperti itu, tak seorangpun dapat menahan nafsu makan. Dari kejauhan terdengar nyanyian paduan suara bergetar di antara kabut-kabut. Buru-buru Pak Ioni mematikan api, lalu menyambar Injil di meja ruang tengah. Tanpa menutup pintu, ia setengah berlari menuju bukit. Beberapa kali ia terjebak dalam lumpur karena pandangan yang terbatas akibat kabut. Dengan susah payah ia sampai di teras gereja. Menggosok-gosokkan telapak sepatunya pada rumput dan melangkah masuk ke dalam gereja. Ia melihat semua bangku sudah terisi. Orang-orang duduk rapat-rapat sambil menggosok-gosokkan tangan mereka. Di bangku paling depan seseorang menoleh ke arah Pak Ioni, kemudian melambaikan tangannya, sebuah isyarat bahwa masih ada bangku tersisa. Dengan langkah malu-malu, Pak Ioni menuju ke bangku yang disediakan untuknya. Orang yang melambaikan tangan ke arahnya tadi adalah Pak Tigra. Rekannya dulu di batalion, pada saat mereka bertugas di perbatasan sebelah utara. Mereka pensiun pada tahun yang sama.

Paduan suara berdiri di pelataran mimbar. Mereka menyanyikan lagu Hai Kota Mungil Betlehem dengan syahdu. Disana terasa getaran yang ajaib memenuhi pundak Pak Ioni. Wajah dan tangannya terlihat kaku dan lebih dingin. Lagu itu mengingatkannya pada anak perempuannya yang berusia sepuluh tahun dan meninggal sewaktu ia bertugas menghadapi Perjuangan Rakyat Semesta. Anak perempuan satu-satunya itu meninggal pada bulan Desember 1958 akibat lumpuh yang diderita sejak lahir. Bahkan ia tak ada disana pada saat pemakaman.

“Hai kota mungil Betlehem, betapa kau senyap,

bintang di langit cemerlang melihat kau lelap.”

Ia coba menguatkan hati dan menekan-nekan ibu jarinya. Tapi ia tak sanggup. Air matanya jatuh dan meresap ke dalam kulitnya yang tua dan dingin. Lagu itu berhenti untuk si veteran yang tak sanggup menahan getaran punggungya. Kemudian dari dua pintu di samping gereja, muncul beberapa anak perempuan yang mengenakan jubah putih sambil membawa rebana pada tangan kanannya. Anak-anak perempuan yang manis-manis itu menari-nari dan melompat-lompat sambil terus bernyanyi menggetarkan rebana pada tangannya. Mereka menghentak-hentak rebana. Suara gemerincing begitu meriah dan mengurung telinga Pak Ioni di jajaran bangku paling depan. Ia memandangi bocah-bocah manis itu, kemudian ia meraih ujung jasnya dan meremas-remasnya. Tiba-tiba ia berdiri dan buru-buru keluar dari pintu samping. Ia berjalan ke ujung bukit di belakang gereja. Ia terus berdiri di situ. Kabut-kabut yang dingin memenuhi kepalanya. Tubuhnya bergetar. Dikeluarkannya pipa rokok dari sakunya dan membakarnya. Asap dari pipa rokoknya bercampur dengan kabut dan menjadi mendung yang terus tinggal di situ.

Seseorang muncul dari belakang dan kemudian berdiri di sampingnya.

“Aku tidak tahu kalau kau sudah kembali merokok. Setelah kita pensiun, kau berjanji tidak akan menyentuh tembakau. Itu buruk bagi orang lanjut usia seperti kita.”

“Tigra, apalagi kesenangan yang kita dapatkan? Bertahun-tahun kita bertempur bersama, luka dan sakit di atas lumpur. Aku tak mau kesenanganku yang tersisa ini direbut oleh ketakutan hanya karena persoalan kesehatan. Kalau mau mati, sejak dulu kita mati sebagai prajurit.”

Pak Tigra tertegun. Lalu berkata:

“Kenapa kau keluar? Bukankah ini malam Natal? Apa kau tidak mau menyalakan lilin bersamaku di dalam sana?”

Pak Ioni menoleh.

“Kau sudah mengenal aku sejak lama. Dan kau tahu aku ini Calvinis sejati.”

“Apa kau berkata bahwa kau membenci tari-tarian itu?” Tanya Pak Tigra.

Pak Ioni tidak memberi jawaban. Dihisapnya dalam-dalam pipanya, lalu:

“Aku hanya meyakini pengajaran, perjamuan kudus, dan sakramen baptisan kudus.”

“Kau berkata sejak awal bahwa aku sangat mengenalmu. Dan sekarang aku berkata kalau kau bukan prajurit yang ku kenal dulu. Kau berkata bahwa kau Calvinis sejati.”

“Lantas apa yang kau harapkan, Tigra?”

“Apa kau lihat anak-anak perempuan yang menari tadi?”

Pak Ioni mendehem, lalu mengeluarkan sepotong tembakau, memasukan pada pipanya dan menghisapnya terus-menerus.

“Tiga diantara anak perempuan itu adalah cucuku.” Kata Pak Tigra dengan nada menyesal.

Pak Ioni berhenti menghisap pipanya. Matanya terus memandang kabut di ujung bukit, dan menjadi basah karenanya.

“Anak-anak manis itu adalah cucumu?” Tanya Pak Ioni mencoba meyakinkan.

“Ya. Aku punya tujuh orang cucu. Semuanya perempuan.” Jawab pak Tigra dengan nada sangat menyesal.

Pak Ioni berbalik, merapatkan jasnya, kemudian pergi meninggalkan sahabatnya itu. Ia berhenti sebentar lalu berkata dengan suara yang bergetar:

“Aku mau pulang sekarang. Maaf, tidak bisa menyalakan lilin natal bersamamu. Maafkan aku, kawan. Akhir-akhir ini kesehatanku mulai memburuk. Mungkin soal tembakau tadi ada benarnya. Selamat tinggal, sahabatku.”

Pak Tigra tak bergeming. Ia cukup menyesal. Ia tahu apa yang dirasakan sahabatnya saat itu. Dan kemudian ia menangis. Ia menangis dengan suara yang memilukan dan hanya didengarkan oleh kabut. Ia tidak dapat membayangkan bagaimana jika ia menjadi sahabatnya itu. Seluruh keluarganya sudah tiada. Anaknya yang lumpuh sejak lahir dan meninggal saat mereka bertugas. Istrinya pun meninggal tujuh tahun yang lalu. Ia tidak mempunyai siapa-siapa di dunia ini. Sebatang kara di dapurnya yang hangat.

Pak Ioni pulang ke rumahnya. Dinyalakannya api pada tungku dan menaikkan belanga sup buncis yang belum masak tadi. Ia duduk di situ, menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. Dari kejauhan terdengar lantunan lagu-lagu Natal yang dinyanyikan oleh paduan suara, dibawa angin dan masuk ke dapur pak Ioni. Ia kemudian berdiri dan menari. Ia terus menari dan menari, sementara buncisnya mulai lembek dan harum.

 

Beteleme, Juni 2017

-Agung Poku-

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s