Skip navigation

A Girl reading a letter by Candlelight, with a Young Man peering over her shoulder

A Girl reading a letter by Candlelight, with a Young Man peering over her shoulder (wikipaintings.org)

Rumah besar di seberang tembok itu telah dihuni sebuah keluarga yang baru saja pindah dari Jakarta. Setahun lebih rumah itu kosong setelah ditinggal pemiliknya, seorang lelaki tua yang mengidap asma. Dulu setiap malam aku mendengar dari jendela kamarku yang selalu terbuka, suara napas besar yang tersekat ditenggorokan. Suara yang kadang terdengar mengerikan, seperti terhimpit, membising seperti sebuah gasing yang berputar di atas dulang blek. Aku menyaksikan penderitaan lelaki tua itu. Dari jendela kamarku , dapat kulihat ia tergolek, berputar-putar di atas kasur dan kemudian menggaungkan suara yang mengibakan itu. Ia tak pernah menutup tirai jendela kamarnya. Jarak antara jendela kamarku dan jendela kamar lelaki tua itu mungkin sekitar sepuluh meter. Sangat dekat, hanya dibatasi sebuah tembok tinggi yang dipenuhi bunga pagar. Kamarku berada di lantai dua, dengan jendela menghadap ke barat. Aku memang lebih suka memandangi matahari terbenam. Sebaliknya kamar lelaki tua itu, jendelanya menghadap ke timur. Dan nampaknya ia lebih menyukai suasana pagi yang ceria. Ia selalu menyongsong matahari terbit setelah semalaman kepayahan bergulat dengan napasnya. Beberapa kali ia memergokiku mengawasi jendelanya. Begitu pula sebaliknya. Pada kejadian itu, aku selalu menganggukan kepalaku untuk menyapa. Dan ia membenarkan leher sweternya yang kendor. Sebenarnya pada saat seperti itu, aku ingin menyapanya, menanyai keadaannya, meskipun nanti ia tahu bahwa aku tahu persoalan kesehatannya. Disamping itu tentu aku harus berteriak agar ia mendengar. Sungguh tidak santun. Terakhir kali aku melihat jendelanya sudah ditutupi tirai. Dan kemudian sepi saja. Tak ada lagi terdengar suara napas besarnya yang keluar dari jendela oval berwarna cokelat tua itu.

Keluarga baru yang menempati rumah besar itu terlihat sibuk menata perabot. Dari jendelaku dapat ku awasi mereka lalu-lalang. Sesekali muncul di balkon sambil membawa pot bunga yang banyak sekali. Sampai larut malam dapat kudengar suara mereka berdebat soal letak perabot. Esok paginya kulihat jendela itu terbuka lebar. Sinar matahari pagi yang jernih memancar kesana, menerangi sebuah lemari besar yang dipenuhi buku. Buku-buku yang disusun sangat rapi, diletakkan sesuai besar kecilnya. Mungkin jumlahnya ratusan. Aku menduga kamar itu adalah sebuah perpustakaan keluarga. Dan ternyata dugaanku tepat. Setiap sore anggota keluarga mampir ke kamar itu dan mencomot salah satu buku. Mereka duduk-duduk di balkon, membaca buku, sambil menikmati teh dan kudapan. Selesai membaca, mereka terlihat bercakap-cakap cukup serius. Mungkin berdiskusi soal buku bacaan.

Baca Lebih Lanjut »

Mencari sunyi, mendapati ramai. Mengharap hujan di jendela kamar, justru ia mendekap di jalanan. Kalimat itu menjadi mantra pergantian tahun. Di situ ia menjadi doa, umpatan, harapan dan keisengan. Bahkan ia menjelma menjadi sunyi itu sendiri. Dua hari menjelang berakhirnya tahun 2013, kami menjelma menjadi petapa yang ingin menjadi sunyi di puncak Slamet. Berbekal harapan yang diidam-idamkan dilepaskan di puncak Gunung Slamet, juga beberapa bungkus mie instan, kami menerobos hujan yang sejak siang turun begitu deras di Jogja. Inilah awal ia menjadi umpatan dalam hati. Kami dikawal hujan sepanjang jalan, hingga kedinginan di jalanan luas, ditengah hamparan sawah Kulonprogo. Bebauan tanah basah dan pohon-pohon disepanjang jalan mengurungkan niat untuk sementara menyimpan rasa sesal dan dingin. Kalimat itu tak jadi terucap:

“Alam sedang tidak bersahabat.”

gerbang Slamet

gerbang Slamet (dok. pribadi)

Aku pernah menyaksikan seorang pria menunda hujan turun pada jalan yang akan ia lewati. Ia tak membakar segumpal kemenyan sambil membaca mantra. Juga ia tak berseru-seru, seperti seorang gembala yang memanggil domba-dombanya di padang luas. Seingatku, ia hanya mengambil sepucuk ilalang dan entah bagaimana, sepanjang jalan kami tak diguyur hujan. Sementara orang-orang yang kami lewati, terus memacu kendaraan mereka sambil mengenakan jas hujan.  Sampai detik ini, aku tidak pernah tahu apa yang ia lakukan. Aku hanya mengambil kesimpulan, manusia bisa membuat kesepakatan dengan alam. Dan lagi, kalimat itu tak jadi terucap.

Memasuki bumi Ngapak, aku hampir tidak bisa membedakan antara hujan dan kabut tebal. Gelap menikung, menanjak, mengucapkan selamat datang di Purbalingga. hari sudah larut malam. Di basecamp, para calon pendaki sedang berjuang melawan dingin dibalik selimut. Malam itu, sambil menyantap sup jagung, kami berdiskusi soal calon pendaki yang datang dari pelosok pulau Jawa, hanya untuk merayakan pergantian tahun di pucak Slamet. Mungkin seperti kami, mereka petapa yang mencari sunyi. Tapi kami sama-sama menyatakan, malam itu juga, kami tidaklah berada dalam sunyi. Ratusan calon pendaki siap terengah-engah di punggung Slamet.

Kesepakatan

Kesepakatan (dok. pribadi)

Pagi datang. Matahari ditutupi kabut tebal. Hanya setitik besar cahaya putih dikejauhan, di sudut timur. Beberapa rombongan pendaki sudah memantapkan hati, menerobos gelap sejak subuh. Bukanlah hal hebat dan menggemparkan seperti cerita orang-orang, pendakian Gunung Slamet kali ini adalah perjuangan mencari sunyi, yang kini bukan lagi sunyi diantara semak dan Edelweiss.

Di pos 5, kami mendirikan tenda rapat-rapat. Puluhan tenda beraneka warna memberi kesan dominasi warna hijau. Malam kian larut, diisi percakapan dan riuhnya pendaki saat memasak. Sebentar lagi tahun berganti. Betapa aneh berada di sini, diketinggian ini, jauh dari wajah kota yang semarak. Tepat jam 12 malam beberapa kembang api dinyalakan. Ucapan selamat dan pelukan sesama pendaki begitu cepat, hingga dingin mengurung semuanya didalam tenda. Seakan-akan berlalu begitu saja. Pukul tiga pagi, kabut turun menepi, dan angin menghantam berkali-kali. Sedingin itu, pikirku, inilah saat yang tepat mencari sepi. Memandang atap kota dikejauhan. Mencermati setiap suara dari gesekan pohon. Aku bermimpi, air mata titik begitu jauh dalam kesunyian. Dan semuanya lelap tanpa dengkuran.

Summit attack! Kalimat yang itu juga terucap. Kabut tebal begitu merayakan dingin yang ia timbulkan. Padang hijau dan bunga Edelweiss terlewati begitu saja menjelang puncak. Berganti kerikil dan bebatuan basah. Seluruh tubuh basah dan menggigil memeluk tulang. Badai besar datang. Para pendaki berjuang melawan atau mengikuti kemauan alam. Badai semakin mengamuk. Tim SAR siaga tepat beberapa meter dari puncak, memberi isyarat pada kami untuk segera turun. Terlalu berbahaya, katanya dengan logat Ngapak yang kental. Ingin sekali tidak mengikuti saran mereka, sebab dari tempat kami berdiri, beberapa meter di atas sana pucak Slamet diselimuti kabut. Pada akhirnya kata melawan berganti dengan mengikuti.

Menjelang puncak (dok. pribadi)

Menjelang puncak (dok. pribadi)

Menjelang puncak (dok. pribadi)

Menjelang puncak (dok. pribadi)

Selama perjalanan pulang, ditengah gelap hutan Kebumen, aku terus berpikir, melawan alam adalah perbuatan sia-sia. Aku teringat si pria yang membuat kesepakatan dengan alam. Aku juga harus. Kesepakatannya adalah aku akan kembali saat matahari telah terlihat.

Jogja, Januari 2014

Agung Poku

Dalam keadaan mengantuk, malas dan lapar

langit di jendela menjadi terang tanpa perhatian
tak ada yang menunggu
ia sendiri
berjalan menyusuri rerumputan di lembah-lembah sunyi
berkawan angin, ia menjumpai petani-petani di lereng sahabat
hari sudah pagi
dan aku sedikit heran, pagi ini tak turun hujan

langit di jendela menjadi terang tanpa perhatian
dan burung-burung susul menyusul memberi kabar
di timur sudah pagi
dan aku sedikit heran, pagi ini tak turun hujan

aku turun ke jalan kemudian memandang lurus ke utara
ku rapatkan kakiku dan mengangkat tanganku sejajar bahu
ku pincingkan mata hingga melihat sebuah titik
bayanganku sendiri
ku kira aku lalai pada perhatian bahwa kita berkendara waktu

tapi aku lalai pada tugas-tugasku
pada kewajibanku, mencintaimu
atau mengucapkan selamat pagi ketika kau nampak di jendela
aku bukannya bosan pada gaun biru muda yang kau kenakan selalu
tapi aku membenci diriku sendiri yang selalu lalai
lalai mencintamu dengan seluruh kesenangan yang aku dasarkan pada keyakinanku

benar aku heran, pagi ini tak turun hujan

aku luput pada perhatian bahwa awan menari-nari di angkasa
sampai aku tersadar begitu bodohnya
dan sekali lagi jatuh pada kekerdilan jiwa
mental yang lemah untuk seorang pengendara angin

aku lalai, selalu
dan aku paham benar karena aku melakukannya
berkali-kali

aku lalai mencintaimu
sepenuh lautan jiwaku yang berdebar-debar aku lalai
maafkan, kasih, aku baru saja lalai
sekali lagi

biarkan aku mengaku dosa padamu
tentang kekerdilan jiwaku
yang lemah dengan hantaman psikologi yang secara sadar ku ciptakan
maafkan, kasih, aku baru saja lalai
bukannya aku tak peduli padamu
bukan juga karena suatu alasan: kau memberengut di sudut malam
merengek seperti anak anjing yang belum disusui induknya

tapi kelalaianku ini benar-benar aku sadari
aku pahami sepenuh pengertianku akan kehadiranmu
maafkan, kasih, atas kekerasan hatiku
biarkan aku tumbang di atas rerumputan lembah sahabat
kemudian hilang menyatu menjadi hujan yang turun setiap pagi di jendela kamarmu

maafkan, kasih, aku baru saja lalai

aku heran, pagi ini tak turun hujan

-November 2013-
-Agung Poku-

Pabila kau dengan sesungguh hati ingin menangkap hakikat kematian, bukalah hatimu selebar-lebarnya bagi ujud kehidupan. Sebab kehidupan dan kematian adalah satu, sebagaimana sungai dan lautan adalah satu.

 

Pada tahun kedua belas, hari ketujuh, Al Mustapha menanti kapal yang hendak membawanya pulang ke kampung halaman. Kampung yang ia rindukan. Setelah ia terdampar di tengah rakyat Orphalese selama tahun itu juga. Rakyat Orphalese meminta petuahnya, sebab ia yang terpilih dan yang terkasih. Lalu majulah seorang pendeta wanita, Almitra, dan bertanya perihal kematian. Kalimat itu diucapkan Al Mustapha menjelang kepergiannya menuju samudera. Demikian kisah itu ditulis Kahlil Gibran dalam Sang Nabi.

Ada rasa takut menanti kematian, kekalahan terbesar seperti dikatakan Chairil Anwar. Menunggu-nunggu saat yang tak dapat diketahui siapapun. Kecemasan yang pada akhirnya ditindas oleh gairah hidup, keinginan untuk menjalani hidup, melihat lurus ke depan. Tetapi pada akhirnya, siapapun ia pasti mengalami kematian. Yang menarik dalam Sang Nabi, atau lebih jelasnya bagi Gibran, kehidupan dan kematian adalah satu. Sebagaimana yang terdapat dalam banyak ajaran agama tentang adanya suatu tempat yang bernama nirwana. Suatu tempat yang melangsungkan kehidupan abadi. Tepat seperti yang ia katakan, keduanya adalah satu. Kehidupan itu sendiri. Mungkin setiap orang punya pendapat, pemahaman  tentang kematian dan perihalnya dengan kehidupan. Tetapi yang pasti adalah ada orang-orang yang merasa kehilangan setelah ditinggal pergi kematian. Mereka yang berduka merupakan suatu hal yang nyata dibanding pertanyaan tentang kemana roh yang meninggalkan raga itu pergi.

Mereka yang lara karena dipisahkan oleh kematian, memang tak harus dibendung air matanya sebagai rasa rindu. Tetapi buruk untuk menerbitkan duka setiap hari. Menyesali atau bahkan mengutuki kematian. Sebab bagaimana bisa kita melawan takdir, menolak datangnya maut menjemput. Menarik kembali roh yang pergi dan menyumpalnya kembali kedalam raga yang tinggal menjadi seonggok daging, dan bahkan sebentar lagi akan hancur disantap hewan-hewan tanah. Mustahil, karena kita tiada punya kuasa layaknya Nabi Elia yang membangkitkan anak seorang janda dari kematian.

Tetapi cintalah yang tertinggal dari seluruh duka tentang kematian. Cintalah yang membangkitkan hidup dan kematian, jika sesungguhnya ia satu. Mengenang orang-orang yang pernah menyatukan kita didalam cinta. Ia memang tiada berwujud, sebagaimana udara yang kita hirup dan yang menerbangkan roh-roh orang terkasih menuju kehidupan itu sendiri.

Tatkala kita mengenang orang-orang terkasih yang pergi meninggalkan kita menuju kematian, yang tertinggal hanyalah cintanya. Tak ada yang bisa menimbun cinta kedalam tanah dan berharap disana ia hancur disantap hewan-hewan tanah. Satu-satunya yang tak mengenal kematian adalah cinta.

Mungkin Al Mustapha iangin mengatakan, bahwa ia sendirilah kematian itu. Sedang kita yang (masih) tinggal adalah rakyat Orphalese yang merindu-rindu.

 

*untuk orang-orang terkasih yang dipanggil kehidupan

Oktober 2013

Agung Poku

Kepopuleran seorang pelaku seni tidaklah menjadi jaminan atas nasib sosialnya. Memang hal itu tidak terjadi pada banyak seniman yang hasil karyanya benar-benar mendapat apresiasi yang luar biasa. Seringkali publik menomor-duakan integritas seniman, karena yang terutama adalah hasil karyanya. Wajar saja itu, jika kita menggunakan pepatah: “tak kenal maka tak sayang.” Tapi hal seperti itu nampaknya asing bagi seniman daerah. Penghargaan atas hasil karya seniman daerah, tidak lantas menimbulkan penghargaan atas dirinya, atas integritas kesenimanannya, berbarengan dengan hasil karyanya yang telah dikeruk habis-habisan oleh publik. Daya kreatif, kejuangan seniman dalam menggali kepekaannya, mengolah sesuatu yang paling halus dalam dirinya sehingga menghasilkan karya, bukanlah hal utama yang diperhitungkan. Publik bisa saja berdecak kagum karena telah mendengar, merasakan, bahkan meraba sebuh karya seni, tapi sebaliknya bersikap masa bodoh dari mana ide itu digali. Akibatnya banyak seniman daerah yang mati sebelum tumbuh. Seni tradisi mati bersama ketakpedulian publik pada integritas seniman daerah. Berkuranglah satu per satu penopang budaya Nasional.

Memang pada beberapa tempat di Indonesia, seniman dapat hidup dari hasil karyanya. Seniman sebagai suatu profesi yang dihargai. Integritas seniman mendapat apresiasi yang layak bersama hasil karyanya. Hal itu berlaku karena publik telah sadar mengunjungi galeri-galeri seni atau panggung-panggung kesenian. Ada timbal balik antara pelaku seni dan penikmat seni. Seniman dapat hidup layak. Honorarium yang diterima dapat menunjang kesejahteraannya. Tapi ada juga yang mengatakan bahwa beberapa seniman telah menjadi penjilat. Selera publik telah dikejar-kejar demi materi. Antara sikap materialistis dan mempertahankan integritas. Pada akhirnya publiklah yang menentukan. Jika seseorang manjadikan seni sebagai profesi, maka dia akan bergulat dengan integritasnya, mengolah ide dan daya kreatif. Tetapi jika seniman telah mengorbankan integritasnya demi mengejar selera publik, apakah masih layak disebut seniman?

Integritas berarti kejujuran. Ketika seorang seniman melakukan apa yang diinginkan orang lain, dan mencoba menyediakan permintaan itu, dia berhenti menjadi seniman, berubah menjadi pengrajin yang menjemukan atau menawan, pedagang jujur atau tidak jujur. Itu menurut Oscar Wilde dalam pandangannya sebagai seorang sosialis. Tapi tentu kita tidak akan memperdebatkan pelacuran seni dalam berbagai pandangan ideologi. Dalam kenyataannya, publik memiliki kesukaan yang berbeda-beda dan menentukan seni populer. Kesetiaan publik pada seni tidak lantas menjadi kekuatan untuk menyetir seniman. Tidak dapat dihindari bahwa banyak seniman yang tumbang karena ketakmampuan mempertahankan integritasnya, tergerus hilang pada derasnya arus keinginan publik akan sesuatu hasil seni. Atau yang terjadi pada beberapa seniman, yang kemudian menjadi eksklusif dan karyanya hanya dinikmati oleh kalangan tertentu. Tetapi ada juga yang bertanya, bagaimana mengukur integritas seniman? Jika dikatakan integritas berarti berkepribadian, maka kejujuran dalam berkarya adalah titik tolaknya. Bagi Rendra, aktivitas seni berarti aktivitas Roh. Aktivitas tersebut bukanlah sesuatu yang praktis ataupun efisien. Dia punya cara sendiri untuk bekerja. Berhubungan dengan hal tersebut, pada suatu keadaan, seniman membentuk relasi sosial dengan cara memberi nafas idealisme pada hasil karyanya. Pada suatu keadaan dimana Roh-nya menejermahkan kegelisahan-kegelisahan pada aktivitas publik. Kesadaran batin juga ditentukan oleh keadaan aktivitas publik. Suatu dorongan untuk menghasilkan karya, memberi pikiran-pikirannya secara bebas terhadap aktivitas publik. Itulah yang dinamakan kejujuran berkarya.

Saya tidak mengatakan bahwa seniman telah ditekan atau dipaksakan menghasilkan karya sesuai keadaan. Kesadaran timbul begitu saja, tanpa paksaan sama sekali. Dalam suatu perbincangan yang menarik di Jogja, Hari Leo mengungkapkan kesadaran kepenyairannya timbul dari kesadaran pribadi. Memang saya setuju bahwa seni adalah cara paling intensif untuk mewujudkan individualisme. Lain lagi dengan Mas Iman, seorang penyair Malioboro era 70-an, berpendapat bahwa seni haruslah kembali kepada fitrahnya. Kesimpulannya adalah seni, khususnya sastra, telah lelah bertarung di arena publik. Sastra telah ditembakkan lewat moncong senjata masing-masing kepentingan. Dan kembali kepada fitrahnya, berarti berurusan dengan integritas seniman. Sepenuhnya bebas.

Nah, bagaimana dengan nasib seniman daerah. Saya mengenal dua seniman di tempat kelahiran saya. Dapat dikatakan bahwa mereka adalah generasi terakhir dari seniman yang cukup populer pada masanya. Mereka adalah pekerja seni musik. Tapi seperti yang dikatakan sebelumnya, kepopuleran seniman bukan jaminan atas nasib sosialnya. Pak Erenst Reppie dan Pak Batui adalah seniman besar di Tana Mori. Publik Tana Mori mengakui hal itu. Integritas mereka teruji. Tapi bagaimana nasib sosial mereka?

Saya mengenal Pak Batui sejak Sekolah Dasar. Beliau seorang guru musik bambu. Dedikasinya pada musik daerah sangat tinggi. Kami pada saat itu direcoki dengan potongan-potongan bambu. Kami harus membawakan lagu-lagu daerah, dengan tiupan yang baik untuk menghasilkan harmoni. Beliau mendidik secara keras, seperti hendak mengatakan: “Ini loh musik daerahmu!” Dia begitu teliti pada hal-hal teknis. Di kalangan pelajar, namanya begitu tenar. Tak jarang di panggung-panggung seni daerah, dia duduk sebagai juri atau berdiri sebagai pelatih. Integritasnya teruji, tapi keteguhannya digerus publik. Publik menginginkan sesuatu yang baru. Maka Pak Batui tidak lain dianggap sebagai pengajar yang melakukan hobinya secara sukarela. Honorariumnya sebagai pekerja seni paling banter adalah segelas kopi dan ribuan ucapan terima kasih.

Begitupun dengan Pak Erenst Reppie, komposer Tana Mori, bernasib serupa dengan apa yang dialami Pak Batui. Generasi terkini mungkin akan mengenangnya sebagai pencipta lagu daerah. Integritasnya sama sekali tak ada pentingnya untuk dikenang. Sekali lagi publik menginginkan sesuatu yang baru. Pak Erenst Reppie telah mangkat beberapa tahun lalu. Panggung seni daerah berkali-kali membawakan karya ciptaannya dan mengenangkannya setelah keriuhan berakhir. Lagunya direkam dan dinyanyikan berkali-kali, tapi royalti apa yang didapatnya? Sama sekali tidak. Diperparah lagi dengan kelakuan pengelola daerah yang cuek pada karya seni anak-anak daerah. Semua telah setuju pada keputusan publik, bahwa seni harus diperbaharukan untuk menjawab sekaligus memuaskan hasrat publik.

Bukankah seniman juga butuh hidup, membayar rekening listrik, mengontrak rumah, membeli minyak tanah atau menyekolahkan anak. Bagi Rendra, janganlah seniman terperosok ke dalam romantisme yang tidak berkeputusan! Selamanya seni adalah bebas dan tak punya kewajiban untuk memuaskan hasrat publik. Dan yang dapat menjawab tantangan itu adalah seniman yang punya integritas. Tapi yang ironis adalah publik akan memiskinkan dirinya.

Jogja, Mei 2013
Agung Poku

            Keberanian dan rasa ingin tahu yang tinggi membuat Antony van Leeuwenhoek dikenang sepanjang masa. Dia bukanlah seorang terpelajar lulusan universitet ternama di Belanda. Juga bukan berasal dari keluarga ilmuwan yang punya akses besar. Dia hanya anak pedagang yang punya kegelisahan terhadap penglihatannya. Kegelisahan itulah yang menggenjot keberaniannya untuk bereksperimen, dan berujung pada penemuan bakteri, protista mikroskopis, sel sperma, sel darah, nematode mikroskopis dan rotifer. Generasi sebelum Antony van Leeuwenhoek memang telah menemukan mikroskop pertama-tama. Sebut saja Zacharias Janssen yang juga berdarah Belanda, Robert Hooke dari Inggris dan Jan Swammerdam si Belanda. Tapi bagi Leeuwenhoek, itu tidaklah cukup untuk mengembangkan penelitiannya. Sekali lagi berkat “kegilaannya” yang membuat dia dihinakan oleh orang-orang terpelajar, dengan berani Leeuwenhoek mengembangkan keterampilannya. Dia membangun mikroskop dengan kekuatan lebih besar yaitu 200 kali, sehingga kemampuan meneliti mikroba dan berikut kuman-kuman berhasil disempurnakan.

Microscopic views of duckweed and microorganisms (pictures.royalsociety.org)

Microscopic views of muscle fibres and red blood cells of fish (pictures.royalsociety.org)

Leeuwenhoek’s microscope (pictures.royalsociety.org)

            Dengan mikroskop kembangannya, Leeuwenhoek meneliti berbagai peristiwa di sekitarnya. Dia meneliti air danau, air sumur, dan sejumlah partikel-partikel yang mungkin lepas dari pengamatan orang lain. Dia menjabarkan spermatozoa, membagi sel darah merah dan sel darah putih. Bahkan bagian tubuhnya sendiri menjadi objek penelitian. Dia mengamati plak gigi dan menemukan benda-benda kecil yang bergerak, yang kemudian disebutnya ‘animalcule’.

            Dan yang paling hebat dari semua temuannya itu, Leeuwenhoek mencatat seluruh hasil temuannya, kemudian secara berkala dia menuliskan surat yang ditujukan pada Royal Society of London. Royal Society of London adalah sebuah organisasi yang bertujuan memajukan ilmu pengetahuan, didirikan pada tahun 1660 di London. Leeuwenhoek sadar bahwa penemuan-penemuannya akan berguna bagi peradaban. Surat-suratnya dalam bahasa Belanda, kemudian diterjemahkan kedalam bahasa Inggris. Berikut beberapa surat Leeuwenhoek yang menjadi titik tolak perkembangan dalam sejarah biologi.

            “Passing just lately over this lake, . .. and examining this water next day, I found floating therein divers earthy particles, and some green streaks, spirally wound serpent-wise, and orderly arranged, after the manner of the copper or tin worms, which distillers use to cool their liquors as they distil over. The whole circumference of each of these streaks was about the thickness of a hair of one’s head. . . all consisted of very small green globules joined together: and there were very many small green globules as well.” (Letter of September 7, 1674,)

            Kemudian pada surat bertanggal 25 Desember 1702, Leeuwenhoek melaporkan banyak temuan tentang struktur hewan-hewan kecil: “In structure these little animals were fashioned like a bell, and at the round opening they made such a stir, that the particles in the water thereabout were set in motion thereby. . . And though I must have seen quite 20 of these little animals on their long tails alongside one another very gently moving, with outstretched bodies and straightened-out tails; yet in an instant, as it were, they pulled their bodies and their tails together, and no sooner had they contracted their bodies and tails, than they began to stick their tails out again very leisurely, and stayed thus some time continuing their gentle motion: which sight I found mightily diverting.”

            Masih banyak surat-surat Leeuwenhoek yang melaporkan perkembangan penelitiannya.  Dia berpendapat bahwa apa yang benar dalam filsafat alam dapat diselidiki dengan metode eksperimen. Dan berkat keberanian Leeuwenhoek, kita dapat mengamati berbagai mikroba di laboratorium pada hari ini.

(micro.magnet.fsu.edu)

Sumber:

http://royalsociety.org/

http://www.ucmp.berkeley.edu/history/leeuwenhoek.html

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 302 pengikut lainnya.