Lewati navigasi

senja kembali

senja kembali

Pesawat tengah berhenti di landasan pacu. Satu jam yang lalu berada di antara awan, di atas pulau Jawa. Sepuluh menit lagi akan meninggalkan bandara Sultan Hasanudin, Makassar. Di luar hujan turun sangat deras. Kurasai pori-pori ini terbuka dan terisi oleh kedinginan yang mengigit. Dua orang di kursi belakang, baru saja muntah dengan suara yang keras. Cuaca buruk untuk melakukan penerbangan lanjutan, menurut penumpang di depanku begitu. Terjadi perdebatan sengit di depan. Seorang pria di kursi nomor lima mencegat pramugari.

“Kali ini tak layak untuk terbang. Cuaca terlalu beresiko.” katanya dengan ketakutan.

“Sebaiknya bapak tenang dan menguasai diri. Kami sudah mempertimbangkan semuanya.” jawab si pramugari, diakhiri senyum yang gugup.

Beberapa menit kemudian semua penumpang sudah duduk manis di kursi. Kali ini penerbangan akan dilanjutkan, begitu penjelasan lewat pengeras suara. Pria yang duduk di kursi nomor lima akhirnya patuh. Baca Lebih Lanjut »

Christ with the peasant Circa 1887-88 by Fritz Von Uhde (art.com)

Christ with the peasant Circa 1887-88 by Fritz Von Uhde (art.com)

Enam bulan setelah panen raya, keluarga petani berkumpul dan membicarakan tentang gabah yang menumpuk di lumbung. Hampir tigapuluh ikat gabah rusak karena hama. Tikus-tikus bergentayangan, begitu rakus melubangi lumbung yang memang pada beberapa bagian sudah lapuk. Belum lagi beredar kabar, beberapa pencuri dari kampung sebelah mulai menggerayangi lumbung-lumbung petani. Salah satunya adalah si buntung Mada, pencuri bertangan buntung. Seringkali beberapa petani memergokinya memetik tomat. Atau pada hari minggu memanen kacang di kebun petani, saat orang-orang beribadah di gereja. Mada sangat lihai seperti belut yang licin, dia sering lolos dari jebakan petani-petani yang sudah sangat resah akibat kelakuannya. Beberapa waktu yang lalu, keluarga petani bersepakat untuk menggeledah pondoknya yang terletak di seberang sugai Tamblak. Tapi usaha itu sia-sia. Mereka tak menemukan Mada di sana. Hanya rombengan kaleng  ikan laut dan beberapa potong daun enau yang berserakan di atas dipan. Baca Lebih Lanjut »

conspiracy and paranoia (http://fineartamerica.com)

conspiracy and paranoia (http://fineartamerica.com)

Ada juga terpikirkan olehnya untuk meninggalkan meja kerja. Berjalan menyusuri pantai dan melupakan tumpukan kertas, laporan keuangan, serta kerumitan hitung-hitungan untung rugi pada layar komputer. Tapi kali ini dia memang tak bisa berlaku demikian. Minto, direktur keuangan datang tadi pagi, dan mendesaknya dengan banyak pertanyaan. Sungguh menyakitkan, bahwa pertanyaan-pertanyaan Minto tak satu pun dimengertinya. Halnya tak jauh dari urusan keuangan. Minto marah besar, sebab direktur utama mengancam akan memecatnya jika pada laporan yang berikutnya tak sesuai fakta lapangan. Sekali lagi Moryana menghela nafas panjang, serta membaca beberapa ayat suci untuk menenangkan diri. Tapi sama sekali tak membantu. Dia lupa bahwa air teh sudah beku dalam gelas, di meja kerjanya.

Minggu berikutnya, datang surat mendadak. Yane sebagai pemimpin cabang, Marviral si kepala gudang, dan dia sendiri, Moryana sebagai pembuat laporan keuangan, dipanggil untuk menghadap direktur utama di Jakarta. Esok hari mereka berangkat. Dalam bus, Moryana sama sekali tak betah. Dia bingung perihal apa mereka mendapat panggilan tiba-tiba. Yang jelas ini bukan persoalan sepele. Dan hal lain yang mengganggu, Marviral tak henti-hentinya merokok dalam bus. Terbayang lagi olehnya suasana senja di pantai. Lampu-lampu mercusuar di atas bukit. Dinginnya hawa pegunungan saat liburan. Tapi kali ini dia berada dalam bus, melewati jalan rusak penuh kelok. Sekali Moryana bertanya pada Yane: Baca Lebih Lanjut »

Bagiku kemandirian individu adalah cara yang paling sunyi melawan pemerintah. Lantas muncul pertanyaan-pertanyaan, mengapa harus melawan dan apa pula hubungannya dengan pemerintah. Tak disangkal bahwa beberapa prosen kebebasan manusia terikat atas apa yang ada di atasnya. Meski pun kebebasan adalah wujud dari totalitas kehidupan. Tak ada yang bisa dikekang dari manusia, meski pun secara sadar bahwa jiwa-jiwa kebebasan adalah roh yang tak pernah berhenti mencari pemahaman kehidupan. Dan yang disadari adalah manusia sebagai mahluk sosial, disamping ke dalam bahwa dia juga adalah pemilik diri. Jauh sebelum peradaban manusia, apalagi jika dibandingkan dengan masa kini, manusia adalah mata kaki dan hatinya. Dan tak bisa dipungkiri sejak dulu berlaku keteraturan untuk mengatur tata cara, perilaku manusia dalam alam lingkungannya.

Penguasa-penguasa hadir dengan jarak yang amat tipis antara egoisme dan keterpanggilan mengabdi. Kerajaan-kerajaan runtuh dengan berbagai cara. Dan yang paling membanggakan adalah kerajaan yang dijatuhkan oleh penggabungan kekuatan. Penguasa mati dan yang lain tumbuh. Dia hadir sebagai pengatur kehidupan manusia dalam sosial masyarakat. Situasi yang hadir dari generasi ke generasi adalah sama, bahwa dia diikat oleh aturan yang dibuat penguasa. Amat tipis memang, antara pengabdian dan egoisme yang kemudian memunculkan tangan-tangan besi dalam hal mengatur kehidupan manusia. Semua itu diterima sebagai sebuah kewajaran yang pada satu sisi sangat bengis. Kekuatan penguasa merangkul individu-individu yang mau tunduk di bawah pembagian kekuasaan.

Aku selalu percaya bahwa manusia akan keluar dan memberontak, ketika batas-batas kewajaran atas hak kebebasan itu disepelehkan. Penguasa jelas sadar pada tugas utamanya, yaitu mengolah segala kekuasaannya untuk kesejahteraan manusia dibawah pimpinannya. Jiwa-jiwa yang sunyi akan memberontak dan kemandirian akan hadir. Sebuah logika sederhana yaitu jika semua manusia pada akhirnya mandiri, lantas apa guna penguasa, apa guna pemerintah. Sekali lagi aku teringat Marx. Sebuah impian yang teramat tinggi untuk kehidupan manusia. Tapi aku menginginkannya. Jiwa-jiwa yang sunyi akan memberontak.

1000burungkertas.org

1000burungkertas.org

Apa guna belajar tinggi-tinggi jika akhirnya tak terapakai. Ku amini Einstein: “Ilmu bukanlah tujuan akhir. Tapi ia adalah cara untuk mewujudkan tujuan!”

Egoisme segelintir orang dalam memerintah tetap harus dilawan dengan kemandirian. Sebuah pokok keterpanggilan manusia dalam kehidupan. Yang diperlukan adalah menyatukan kekuatan, berserikat, kemudian bergerak menuju kemandirian. Oh, betapa lugunya aku berkata bahwa itu adalah pengabdian pada umat manusia. Tapi aku selalu percaya bahwa jiwa-jiwa yang sunyi akan memberontak keluar!

 

-Jogja, Oktober 2011

Agung Poku

Marc Chagall - The Bridal Couple - 1927-1935 (famousartgallery)

Marc Chagall - The Bridal Couple - 1927-1935 (famousartgallery)

Lelaki itu berdiam diri di sudut kamarnya. Sebuah kamar yang tak luas, bercat hijau lembut seperti pucuk pisang. Sebuah kasur yang cukup empuk dan lemari kayu berisi buku-buku mempertegas bahwa di situ sangat sempit. Belum lagi jika kawan-kawannya datang mengunjunginya. Mereka akan berbincang-bincang di atas kasur dan seorang cukup duduk di depan pintu kamar. Hanya di tempat itu yang membuat nafas mereka tak terlalu sesak.

Lelaki itu terus meraih botol air dan meneguknya dalam-dalam. Sambil terus membaca, dia meneguk air putih, sangat rakus. Sesekali perutnya berbunyi, seperti ada seekor anak anjing yang sedang tidur pulas dalam perutnya. Terus mendengkur dan mendengkur sangat keras. Lelaki itu sedang menahan lapar. Sudah dua hari dia tak makan. Hanya air putih yang terus diteguknya.Uang dia tak punya, apalagi dapur untuk memasak, sama sekali tak ada. Harga sewa kamar di Babadan cukup mahal, apalagi ditambah dapur, akan berkisar tiga ratus ribu rupiah per bulan. Beruntung adik seorang pastor yang dikenalnya dalam sebuah misa, mengajaknya untuk menempati sebuah kamar dengan harga sewa cukup murah. Hanya seratus lima puluh ribu rupiah setiap bulan.

Pertemuannya dengan Bu Rine dalam sebuah misa, terjadi secara tak sengaja. Minggu pagi dia mengenakan sepatu boot butut pemberian kakaknya dan duduk di kursi paling belakang. Bu Rine duduk di sampingnya. Dan selama misa berlangsung, Bu Rine terus memperhatikan sepatu bututnya. Ketika misa berakhir dan orang-orang berbaris di pintu keluar, Bu Rine tetap duduk di sampingnya dan menangis, membuat polesan bedak di pipinya terhapus. Lelaki itu kaget karena Bu Rine terus menatapnya sambil membiarkan air mata mengucur sampai ke dagunya. Baca Lebih Lanjut »

Joan Miró - Vegetable Garden with Donkey - 1918 (famoust art gallery)

Joan Miró - Vegetable Garden with Donkey - 1918 (famoust art gallery)

Di sisi gunung Pontoa terdapat sebidang tanah miring. Tanah yang cukup luas dan sangat subur. Sebagian dari tanah itu ditanami vanili, dan sisanya berisi sayuran. Sepasang suami istri mengolahnya dengan ulet, hingga setiap orang yang melihat hasil panen mereka akan merasa rasa iri, terutama mereka yang sama sekali tak mempunyai apa-apa. Petani itu bernama Ruduh dan istrinya Solina. Mereka bekerja sebelum matahari terbit dan berhenti setelah matahari tenggelam di balik gunung Pontoa. Sore hari mereka duduk-duduk sambil membersihkan diri di sebuah sungai yang sangat jernih, dekat kebun sayur. Dan sekali waktu tanpa sengaja aku bertemu Ruduh sedang mencuci badannya di pinggir sungai. Dia melambaikan tangan, melebarkan senyum hingga kumisnya yang lebat menyentuh sisi pipinya yang runcing.

“Mampir, Dik.” serunya.

Dengan perasaan senang, ku hampiri Ruduh. Dia selalu tampak riang seperti biasanya. Keriput di bawah matanya mulai nampak jelas. Begitu juga rambut putih yang semakin tebal menutupi kepalanya. Yang tetap adalah deretan giginya yang kelihatan kuat dan putih, tidak seperti kebanyakan orang yang mengalamai penuaan. Baca Lebih Lanjut »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 127 pengikut lainnya.