Lewati navigasi

Kepopuleran seorang pelaku seni tidaklah menjadi jaminan atas nasib sosialnya. Memang hal itu tidak terjadi pada banyak seniman yang hasil karyanya benar-benar mendapat apresiasi yang luar biasa. Seringkali publik menomor-duakan integritas seniman, karena yang terutama adalah hasil karyanya. Wajar saja itu, jika kita menggunakan pepatah: “tak kenal maka tak sayang.” Tapi hal seperti itu nampaknya asing bagi seniman daerah. Penghargaan atas hasil karya seniman daerah, tidak lantas menimbulkan penghargaan atas dirinya, atas integritas kesenimanannya, berbarengan dengan hasil karyanya yang telah dikeruk habis-habisan oleh publik. Daya kreatif, kejuangan seniman dalam menggali kepekaannya, mengolah sesuatu yang paling halus dalam dirinya sehingga menghasilkan karya, bukanlah hal utama yang diperhitungkan. Publik bisa saja berdecak kagum karena telah mendengar, merasakan, bahkan meraba sebuh karya seni, tapi sebaliknya bersikap masa bodoh dari mana ide itu digali. Akibatnya banyak seniman daerah yang mati sebelum tumbuh. Seni tradisi mati bersama ketakpedulian publik pada integritas seniman daerah. Berkuranglah satu per satu penopang budaya Nasional.

Memang pada beberapa tempat di Indonesia, seniman dapat hidup dari hasil karyanya. Seniman sebagai suatu profesi yang dihargai. Integritas seniman mendapat apresiasi yang layak bersama hasil karyanya. Hal itu berlaku karena publik telah sadar mengunjungi galeri-galeri seni atau panggung-panggung kesenian. Ada timbal balik antara pelaku seni dan penikmat seni. Seniman dapat hidup layak. Honorarium yang diterima dapat menunjang kesejahteraannya. Tapi ada juga yang mengatakan bahwa beberapa seniman telah menjadi penjilat. Selera publik telah dikejar-kejar demi materi. Antara sikap materialistis dan mempertahankan integritas. Pada akhirnya publiklah yang menentukan. Jika seseorang manjadikan seni sebagai profesi, maka dia akan bergulat dengan integritasnya, mengolah ide dan daya kreatif. Tetapi jika seniman telah mengorbankan integritasnya demi mengejar selera publik, apakah masih layak disebut seniman?

Integritas berarti kejujuran. Ketika seorang seniman melakukan apa yang diinginkan orang lain, dan mencoba menyediakan permintaan itu, dia berhenti menjadi seniman, berubah menjadi pengrajin yang menjemukan atau menawan, pedagang jujur atau tidak jujur. Itu menurut Oscar Wilde dalam pandangannya sebagai seorang sosialis. Tapi tentu kita tidak akan memperdebatkan pelacuran seni dalam berbagai pandangan ideologi. Dalam kenyataannya, publik memiliki kesukaan yang berbeda-beda dan menentukan seni populer. Kesetiaan publik pada seni tidak lantas menjadi kekuatan untuk menyetir seniman. Tidak dapat dihindari bahwa banyak seniman yang tumbang karena ketakmampuan mempertahankan integritasnya, tergerus hilang pada derasnya arus keinginan publik akan sesuatu hasil seni. Atau yang terjadi pada beberapa seniman, yang kemudian menjadi eksklusif dan karyanya hanya dinikmati oleh kalangan tertentu. Tetapi ada juga yang bertanya, bagaimana mengukur integritas seniman? Jika dikatakan integritas berarti berkepribadian, maka kejujuran dalam berkarya adalah titik tolaknya. Bagi Rendra, aktivitas seni berarti aktivitas Roh. Aktivitas tersebut bukanlah sesuatu yang praktis ataupun efisien. Dia punya cara sendiri untuk bekerja. Berhubungan dengan hal tersebut, pada suatu keadaan, seniman membentuk relasi sosial dengan cara memberi nafas idealisme pada hasil karyanya. Pada suatu keadaan dimana Roh-nya menejermahkan kegelisahan-kegelisahan pada aktivitas publik. Kesadaran batin juga ditentukan oleh keadaan aktivitas publik. Suatu dorongan untuk menghasilkan karya, memberi pikiran-pikirannya secara bebas terhadap aktivitas publik. Itulah yang dinamakan kejujuran berkarya.

Saya tidak mengatakan bahwa seniman telah ditekan atau dipaksakan menghasilkan karya sesuai keadaan. Kesadaran timbul begitu saja, tanpa paksaan sama sekali. Dalam suatu perbincangan yang menarik di Jogja, Hari Leo mengungkapkan kesadaran kepenyairannya timbul dari kesadaran pribadi. Memang saya setuju bahwa seni adalah cara paling intensif untuk mewujudkan individualisme. Lain lagi dengan Mas Iman, seorang penyair Malioboro era 70-an, berpendapat bahwa seni haruslah kembali kepada fitrahnya. Kesimpulannya adalah seni, khususnya sastra, telah lelah bertarung di arena publik. Sastra telah ditembakkan lewat moncong senjata masing-masing kepentingan. Dan kembali kepada fitrahnya, berarti berurusan dengan integritas seniman. Sepenuhnya bebas.

Nah, bagaimana dengan nasib seniman daerah. Saya mengenal dua seniman di tempat kelahiran saya. Dapat dikatakan bahwa mereka adalah generasi terakhir dari seniman yang cukup populer pada masanya. Mereka adalah pekerja seni musik. Tapi seperti yang dikatakan sebelumnya, kepopuleran seniman bukan jaminan atas nasib sosialnya. Pak Erenst Reppie dan Pak Batui adalah seniman besar di Tana Mori. Publik Tana Mori mengakui hal itu. Integritas mereka teruji. Tapi bagaimana nasib sosial mereka?

Saya mengenal Pak Batui sejak Sekolah Dasar. Beliau seorang guru musik bambu. Dedikasinya pada musik daerah sangat tinggi. Kami pada saat itu direcoki dengan potongan-potongan bambu. Kami harus membawakan lagu-lagu daerah, dengan tiupan yang baik untuk menghasilkan harmoni. Beliau mendidik secara keras, seperti hendak mengatakan: “Ini loh musik daerahmu!” Dia begitu teliti pada hal-hal teknis. Di kalangan pelajar, namanya begitu tenar. Tak jarang di panggung-panggung seni daerah, dia duduk sebagai juri atau berdiri sebagai pelatih. Integritasnya teruji, tapi keteguhannya digerus publik. Publik menginginkan sesuatu yang baru. Maka Pak Batui tidak lain dianggap sebagai pengajar yang melakukan hobinya secara sukarela. Honorariumnya sebagai pekerja seni paling banter adalah segelas kopi dan ribuan ucapan terima kasih.

Begitupun dengan Pak Erenst Reppie, komposer Tana Mori, bernasib serupa dengan apa yang dialami Pak Batui. Generasi terkini mungkin akan mengenangnya sebagai pencipta lagu daerah. Integritasnya sama sekali tak ada pentingnya untuk dikenang. Sekali lagi publik menginginkan sesuatu yang baru. Pak Erenst Reppie telah mangkat beberapa tahun lalu. Panggung seni daerah berkali-kali membawakan karya ciptaannya dan mengenangkannya setelah keriuhan berakhir. Lagunya direkam dan dinyanyikan berkali-kali, tapi royalti apa yang didapatnya? Sama sekali tidak. Diperparah lagi dengan kelakuan pengelola daerah yang cuek pada karya seni anak-anak daerah. Semua telah setuju pada keputusan publik, bahwa seni harus diperbaharukan untuk menjawab sekaligus memuaskan hasrat publik.

Bukankah seniman juga butuh hidup, membayar rekening listrik, mengontrak rumah, membeli minyak tanah atau menyekolahkan anak. Bagi Rendra, janganlah seniman terperosok ke dalam romantisme yang tidak berkeputusan! Selamanya seni adalah bebas dan tak punya kewajiban untuk memuaskan hasrat publik. Dan yang dapat menjawab tantangan itu adalah seniman yang punya integritas. Tapi yang ironis adalah publik akan memiskinkan dirinya.

Jogja, Mei 2013
Agung Poku

            Keberanian dan rasa ingin tahu yang tinggi membuat Antony van Leeuwenhoek dikenang sepanjang masa. Dia bukanlah seorang terpelajar lulusan universitet ternama di Belanda. Juga bukan berasal dari keluarga ilmuwan yang punya akses besar. Dia hanya anak pedagang yang punya kegelisahan terhadap penglihatannya. Kegelisahan itulah yang menggenjot keberaniannya untuk bereksperimen, dan berujung pada penemuan bakteri, protista mikroskopis, sel sperma, sel darah, nematode mikroskopis dan rotifer. Generasi sebelum Antony van Leeuwenhoek memang telah menemukan mikroskop pertama-tama. Sebut saja Zacharias Janssen yang juga berdarah Belanda, Robert Hooke dari Inggris dan Jan Swammerdam si Belanda. Tapi bagi Leeuwenhoek, itu tidaklah cukup untuk mengembangkan penelitiannya. Sekali lagi berkat “kegilaannya” yang membuat dia dihinakan oleh orang-orang terpelajar, dengan berani Leeuwenhoek mengembangkan keterampilannya. Dia membangun mikroskop dengan kekuatan lebih besar yaitu 200 kali, sehingga kemampuan meneliti mikroba dan berikut kuman-kuman berhasil disempurnakan.

Microscopic views of duckweed and microorganisms (pictures.royalsociety.org)

Microscopic views of muscle fibres and red blood cells of fish (pictures.royalsociety.org)

Leeuwenhoek’s microscope (pictures.royalsociety.org)

            Dengan mikroskop kembangannya, Leeuwenhoek meneliti berbagai peristiwa di sekitarnya. Dia meneliti air danau, air sumur, dan sejumlah partikel-partikel yang mungkin lepas dari pengamatan orang lain. Dia menjabarkan spermatozoa, membagi sel darah merah dan sel darah putih. Bahkan bagian tubuhnya sendiri menjadi objek penelitian. Dia mengamati plak gigi dan menemukan benda-benda kecil yang bergerak, yang kemudian disebutnya ‘animalcule’.

            Dan yang paling hebat dari semua temuannya itu, Leeuwenhoek mencatat seluruh hasil temuannya, kemudian secara berkala dia menuliskan surat yang ditujukan pada Royal Society of London. Royal Society of London adalah sebuah organisasi yang bertujuan memajukan ilmu pengetahuan, didirikan pada tahun 1660 di London. Leeuwenhoek sadar bahwa penemuan-penemuannya akan berguna bagi peradaban. Surat-suratnya dalam bahasa Belanda, kemudian diterjemahkan kedalam bahasa Inggris. Berikut beberapa surat Leeuwenhoek yang menjadi titik tolak perkembangan dalam sejarah biologi.

            “Passing just lately over this lake, . .. and examining this water next day, I found floating therein divers earthy particles, and some green streaks, spirally wound serpent-wise, and orderly arranged, after the manner of the copper or tin worms, which distillers use to cool their liquors as they distil over. The whole circumference of each of these streaks was about the thickness of a hair of one’s head. . . all consisted of very small green globules joined together: and there were very many small green globules as well.” (Letter of September 7, 1674,)

            Kemudian pada surat bertanggal 25 Desember 1702, Leeuwenhoek melaporkan banyak temuan tentang struktur hewan-hewan kecil: “In structure these little animals were fashioned like a bell, and at the round opening they made such a stir, that the particles in the water thereabout were set in motion thereby. . . And though I must have seen quite 20 of these little animals on their long tails alongside one another very gently moving, with outstretched bodies and straightened-out tails; yet in an instant, as it were, they pulled their bodies and their tails together, and no sooner had they contracted their bodies and tails, than they began to stick their tails out again very leisurely, and stayed thus some time continuing their gentle motion: which sight I found mightily diverting.”

            Masih banyak surat-surat Leeuwenhoek yang melaporkan perkembangan penelitiannya.  Dia berpendapat bahwa apa yang benar dalam filsafat alam dapat diselidiki dengan metode eksperimen. Dan berkat keberanian Leeuwenhoek, kita dapat mengamati berbagai mikroba di laboratorium pada hari ini.

(micro.magnet.fsu.edu)

Sumber:

http://royalsociety.org/

http://www.ucmp.berkeley.edu/history/leeuwenhoek.html

Universiteit Leiden

 

“The people must know their history!” Maxim Gorky

Kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh sejarah. Bangsa yang besar adalah bangsa yang tak lupa pada sejarahnya. Atau dalam istilah Bung Karno, JAS MERAH! Sejarah bagi suatu bangsa merupakan titik tolak, titik balik, research, suatu penggalian ide tentang perkembangan suatu bangsa. Dan karena itu, setiap bangsa yang sadar akan betapa berharganya sejarah, akan mengarsipkannya, sebagai perhimpunan khazanah budaya dalam dokumentasi-dokumentasi yang baik. Negeri Belanda terkenal sebagai salah satu bangsa yang punya budaya pengarsipan. Selama ratusan tahun, para peneliti negeri kincir angin itu, begitu giat melakukan pengarsipan.

Bahkan calon-calon doktor, para peneliti kita dari Indonesia, harus melakukan studi ke Belanda untuk menggali bahan-bahan, sumber-sumber tentang negerinya sendiri. Tidak mengherankan, karena sebagian besar dokumentasi sejarah bangsa Indonesia tersimpan dengan baik di sana. Sebut saja salah satu misionaris Belanda yang bernama Albertus Christiaan Kruyt. Kruyt terkenal dengan penelitiaannya di wilayah Sulawesi. Bukan hanya tugasnya sebagai seorang misionaris, Kruyt melakukan penelitian ilmu bumi, etnologi, dan bahasa. Maka tak heran ketika penyusunan salah satu buku sejarah Kerajaan Mori (karya L. Poelinggomang, terbitan komunitas Bambu)  di Sulawesi Tengah, si penulis harus melakukan research ke negeri Belanda. Sebab di Indonesia sendiri, sumber-sumber tentang budaya masyarakat Sulawesi Tengah pada saat itu tidaklah mumpuni. Sebagian besar naskah, manuskrip dan semua dokumentasi berharga tentang perjalanan bangsa Indonesia tersimpan dengan baik di Universiteitsbiliootheek Leiden, universitas tertua di Belanda yang didirikan tahun 1575, dan di Koninklijk Instituut voor Taal,- Land- en Volkenkunde yang sering disingkat dengan KITLV Leiden. KITLV adalah rumah bagi para peneliti Indonesia.

Tak dapat dipungkiri bahwa di Negeri Belanda, perpustakaan adalah tempat yang menyenangkan bagi masyarakat. Budaya membaca sangat tinggi di negeri kincir angin tersebut. Di Belanda, minat membaca sudah dipupuk sejak dini. TIdak mengherankan kalau orang Belanda mempunyai motto: “tiada hari tanpa buku.” Menurut teman saya yang sekarang bermukim di Venlo, anak berusia tujuh tahun sudah terbiasa melahap buku setebal lima ratus halaman dalam tiga hari. Angka yang cukup mengejutkan bagi anak-anak di Negeri Indonesia. Budaya membaca dan pengarsipan di Negeri Belanda berjalan seiring. Maka dari itu negara-negara berkembang sering menjadikan Belanda sebagai salah satu kiblat pendidikan maju. Bahkan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dipelopori oleh Belanda melalui Koninklijke Bibliotheek, yaitu perpustakaan nasional Belanda yang terletak di Den Haag. Di Belanda, perpustakaan bukanlah saran lux. Perpustakaan menjadi tempat yang menyenangkan. Untuk anak-anak sekolah dari tingkat rendah sampai usia enam belas tahuh, kontribusi gratis. Setelah usia enam belas tahun medapat biaya kontribusi perpustakaan yang disesuaikan dengan usianya. Untuk mereka yang sudah berusia dua puluh satu tahun, maka biaya kontribusi perpustakaan sama dengan biaya kontribusi untuk umum yang berlaku setahun, dan bisa diperpanjang.

Dapat dikatakan bahwa budaya arsip dan membaca di Negeri Belanda, menjadi salah satu penyokong kemajuan. Karya-karya peneliti diarsipkan dengan baik oleh negara, dan karyanya menjadi bacaan yang ditekuni.

Pada penghujung tahun 2000, bersama keluarga, saya mengunjungi sebuah desa di Lembah Napu. Desa dimana bapak saya dibesarkan secara keras dan disiplin oleh seorang pendeta, kakek saya. Desa itu memang dingin dan sunyi. Menjelang sore, ketika kabut-kabut tipis mulai turun, iring-iringan petani berjejal-jejal di punggung bukit. Kuda-kuda mengangkuti sayuran, berlenggak-lenggok menuruni bukit. Pemandangan yang tak pernah saya lewatkan setiap sore. Memandangi kuda-kuda pekerja yang patuh. Bagaiamana rasanya berkuda? Tanpa diduga, kakek saya mengajak berkuda, pada suatu siang yang cerah. Kami terguncang-guncang di atas punggung kuda. Menuruni lereng-lereng bukit, melintasi kebun-kebun sayuran yang segar-segar, hingga kami mampir di tepi sungai Lairiang. Menjelang makan malam, orang-orang desa punya kebiasaan berkumpul melingkari meja makan, sambil menikmati kopi kedelai, mereka terlibat perbincangan seputar hama sayuran. Hal itu menjadi kenangan yang hebat bagi saya. Terutama sekali mengingat pagi yang dingin di sana, merapat ke tungku, menunggui minyak kelapa beku yang sedang dipanasi. Saya senyum-senyum sendiri.

Pada tahun milenium itulah kunjungan saya yang terkahir. Hingga kini saya hanya mendengar cerita-cerita tentangnya. Selebihnya hanya menjadi kenangan yang terbawa-bawa dalam mimpi, menjadi kerinduan yang bergema di dada. Sungguh aneh memang, mengingat kenangan yang tersapu oleh waktu. Betapa mudahnya itu. Saya membayangkan sebuah museum waktu, dimana kita dapat mengunjunginya dan kembali melintasi kenangan-kenangan tersebut. Tapi itu tidak mungkin. Setidaknya tempat-tempat nyata tersebut dapat kita kunjungi lagi. Tetapi sungguh, setiap tempat telah tersapu kemajuan peradaban. Lereng-lereng bukit hijau yang berpundak-pundak, telah digali dengan rakus, mengeruk kemurahan alam. Tak dapat ditolak. Manusia mempertahankan hidup dengan cara menggusur kenangan-kenangannya. Menghancurkan keharmonisan demi kemajuan peradaban.

Sungguh aneh memaksa petani-petani menjadi manusia-manusia industri, dengan cara menghancurkan tanahnya, mendampratnya, menggencet kebudayaannya. Segala pengetahuannya tentang cara merawat wortel, cara membuat para-para untuk tempat hidup vanili, dipaksakan disimpan menjadi kenang-kenangan.

Kondisi-kondisi baru yang diciptakan telah menurunkan derajat manusia. Berusaha menciptakan keahlian manusia industri, kekayaan akan pengetahuan, tetapi miskin kebatinan dan rendahnya budaya. Para majikan yang bodoh melakukan propaganda licik dengan memberi nilai pada setiap benda, dan setiap kemiskinan ditukar dengan nilai-nilai.

Sungguh, kenangan-kenangan akan disapu habis oleh peradaban. Sebab museum kebudayaan akan disesatkan, dan setiap orang yang mengujunginya akan berseru: oh!

Dan bagi mereka yang bersetia pada batinnya, akan disikat habis oleh propaganda kemajuan dengan segala kekuatannya, kerakusannya yang menjadi-jadi. Mereka telah kehilangan arah budaya, karena setiap benda telah bernilai. Dan mereka yang tiada berdaya menjemput derasnya kemajuan, akan menjadi budak-budak di kaki raksasa industri.

Setiap hasrta akan bernilai.

Oh, sungguh, betapa mengerikannya itu kenangan.

 

 

Jogja, April 2013

Agung Poku

 

not balok isua_tempo (foto by Ongky Parinsi)

not balok isua_tempo (foto by Ongky Parinsi)

Di Tanah Mori, siapa yang tak kenal dengan Erenst Reppie. Beliau adalah musisi kebanggaan Tanah Mori. Banyak sekali lagu daerah yang diciptakan beliau. Salah satu lagu pamungkasnya berjudul Isua Tempo. Sebuah lagu yang mengandung kerinduan pada tanah Mori, serta sanak saudara dan teman. Tentang cinta kasih dan persaudaraan. Sayang, sampai beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir, saya belum pernah menjabat tangan tokoh yang selalu dikenang di Tanah Mori ini.

Pernah suatu malam, saat melagukan Isua Tempo di pinggir jendela, tiba-tiba saya teringat kepingan CD pemberian kawan saya, Gugun7. Kepingan CD itu berisi film dokumenter, tentang seni tradisi yang diangkat oleh sekelompok kaum muda. Di tengah derasnya arus mainstream, dokumentasi seni tradisi adalah sebuah romantisme. Tentang mengenang dan menggali akar sebuah pohon yang bernama kehidupan. Setelah menonton film dokumenter itu, dalam hati saya bertanya: “Mengapa saya tidak melakukannya?”

Nyalakan seni tradisimu!

Dulu, pada tiap apel pagi di Sekolah Dasar, kami wajib menyanyikan lagu Wita Mori.  Setiap menyanyikan lagu itu di sekolah dasar, ada sebuah rasa penghargaan kepada tanah yang kami pijak. Tanah yang memberikan banyak makanan dan minuman dari mata air kehidupan. Saya teringat Gorky: “The People Must Know Their History.”

Mengenang Erenst Reppie adalah mengenang tamparan ketakberdayaan pemuda, dalam menjaga api sejarah. Dan saya termasuk dalam kategori pemuda itu. Hingga suatu hari, dalam perbincangan dengan seorang kawan, lahirlah ide untuk mendokumentasikan sosok seniman Tanah Mori itu. Hal pertama adalah keterbatasan pengetahuan dan skill. Dan setiap memikirkan tantangan itu, muncul sebuah kalimat yang paling saya sukai: Do it! Lakukan dengan bersenang-senang. SemangArt!

Entah dia akan menjadi paket visual atau kata-kata, suatu hati itu pasti terjadi. Pasti!

Nyalakan seni tradisimu. Saya berterima kasih pada kawan saya, atas satu kata ini: semangArt!

- Agung Poku

Set your life on fire. Seek those who fan your flames. Rumi (RumiQuotes on facebook)

Set your life on fire. Seek those who fan your flames. Rumi (RumiQuotes on facebook)

 

Dulu kawan saya pernah berkata:”Mengenang Jogja itu menyakitkan. Satu-satunya obat dari sakit itu adalah selalu kembali ke bumi Jogja.”

Jogja itu istimewa. Andaikan Jogja itu adalah seorang wanita, dalam fantasi saya, dia memiliki leher jenjang. Dimana setiap lelaki bermimpi untuk memanjatnya. Jogja adalah bunga-bunga bagi para penyair. Tatkala pada akhir tahun, hujan demi hujan begitu deras dilemparkan langit, dalam kubangan itulah tangisan para pencinta. Mereka yang kalah, mereka yang bertutur, mereka yang berkasih-kasihan, mereka yang menggores kanvas, mereka yang menari dan mereka yang tertawa.

Suatu hari di bulan Februari, di Kaliurang, Soekarno menggarang: “Dan agar yang tidak murni terbakar mati!”  Bahwa setiap ego, seumpama idealisme, di Jogja dia tumbuh seperti akar-akar pohon yang bebas. Menjaga Jogja agar tetap nJogja, tidak mudah. Disanalah primordialisme mengenal toleransi. Dia adalah anak setiap manusia yang menjaga erat rahim ibunya. Keluwesan kata-kata, ketakcurigaan, ramah-tamah, dan berbagai tuhan dalam diri, sebagai segenggam abu yang dilarung di muara luas. Menjadi insang-insang yang bernapas sesuai keperluannya.

Para musafir yang belumlah menjejaki Jogja, dia mungkin berpikir akan membawa tongkatnya selamanya. Karena di Jogja, setiap tongkat akan dipatahkan, dan setiap bahu akan terangkat, setiap kasih akan terbawa sepanjang jalan. Setiap tempat di dunia adalah sama, tetapi setiap manusia lahir dari suatu tempat, sebagai pemurnian jiwa, dia mengembara.

Jogja adalah rahasia bagi para pemazmur. Bahwa setiap khotbah adalah kekuatan manusia yang bersilangan dengan alam. Setiap energi yang hinggap dari hati ke hati, membuat dunia akan membenci siapapun yang merencanakan kelicikan. Para pemahat akan mematung setiap hati yang dengki, dan menjajarkannya dalam barisan nisan tanpa nama.

Baiklah untuk Rumi, Gibran bahkan Chairil, yang memuntahkan setiap syair dan menjembatani setiap hati yang mengembara. Aku akan bertanya: “Dimanakah di tempat ini, di dunia ini, setiap manusia memurnikan jiwanya?”

Pada suatu saat, saya begitu membenci John Lennon:

“Imagine there’s no countries
It isn’t hard to do
Nothing to kill or die for “ 

Meskipun saya menginginkan anarkisme, bagaimana mungkin manusia menyelundupkan setiap tubuhnya dari pandangan orang lain. Manusia adalah satu dari banyak ibu. Dan ibu itu adalah roh-roh kasih sayang. Setiap pembunuhan adalah bukan karena manusia menjadi satu, tetapi mengapa manusia harus menjadi satu-satu. Saya membayangkan meratapi Adam, tentang ketololannya, atau tentang konspirasiNya.

Sebuah hal dari banyak peristiwa, sehingga membuat saya berpikir, manusia boleh memilih di tempat mana dia akan mengubur kekalahannya yang terbesar. Kematian.

“Kelak, jika aku mati, taburlah abu dari tulang-tulangku di laut selatan. Agar aku tahu, aku telah menemukan sebuah tempat yang luas di jagad raya.”

 

Jogja, November 2012

Agung Poku

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 214 pengikut lainnya.