Sebuah Ketetapan

Pagi ini, aku membunuh seekor nyamuk dan mengumpat kesal. Ia menggerogoti kulitku. Cukup beringas. Tentu ia lapar, kemudian melayang kesana-kemari pada tumpukan sampah, tumpukan pakaian, lalu berakhir diam-diam menghisap darah manusia. Begitulah seekor nyamuk melayangi hidupnya. Aku membunuhnya pagi ini. Sebagai suatu tindakan pertahanan atas apa yang menimpa kulitku. Agak lucu juga, jika aku mengambil kesimpulan: “Pagi ini aku ditakdirkan  untuk membunuh seekor nyamuk.” Atau si nyamuk yang berserah pada kematiannya, berkata: “Akhirnya aku mati pada pagi ini. Suatu takdir yang malang.”

Aku teringat seorang kawan yang bertanya: “Seperti apa kamu mempercayai takdir?”

Aku tumbuh sebagai seorang Kristen. Praktis seluruh konsep Injil melekat dalam diriku, dan seluruh pengalaman, aku sandarkan pada kebenaran Injil yang kupercayai. Betapa aku kagum pada cerita-cerita sederhana dalam kisah nabi-nabi, yang selalu diceritakan kakekku tatkala kami beranjak tidur. Seperti yang lain-lain juga, pertanyaan-pertanyaan kritis mulai bermunculan. Perbandingan-perbandingan akan seluruh pengalaman mulai bermunculan. Itu titik dimana kita ditahbiskan menjadi seorang remaja.

Dalam keyakinan Kristen, setiap manusia tak perlu merisaukan hidupnya. Segala kesakitan yang muncul, setiap kesenangan yang datang, hanyalah bunga-bunga hidup yang fana. Kehidupan yang sesungguhnya adalah saat langit terbelah dan tirai kerjaan Allah tersingkap. Kehidupan yang sesungguhnya akan datang jua. Betapa sia-sianya hidup yang kita jalani sekarang. Dan aku pun bertanya letak kebenaran Allah. Seluruh kehidupan yang betapa ampun hebatnya dan maha mustahil ia tercipta, akan lenyap hanya dalam satu hari. Semuanya terrenggut pada saat itu juga.

Baca lebih lanjut

Di Hutan Lamtoro (Gunung Sindoro 3.153 mdpl)

Dua bulan lebih meninggalkan Jogja Istimewa, rasanya hampir bertahun rindu melumut. Seluruh ide dimulai dari tempat yang istimewa ini. Suatu tempat persinggahan dari segala keletihan, sambil menikmati senyum ramah jalanan. Dari Jogja untuk Indonesia. Beruntung bagi saya, karena Jogja-lah saya bisa mengenal tempat-tempat yang indah di seputaran pulau Jawa.

Gunung Sindoro (dok. pribadi)

Gunung Sindoro (dok. pribadi)

Gunung Sindoro 3.135 mdpl

Mendaki gunung itu menyenangkan. Bukan hanya soal berdiri di puncak dengan penuh kebanggaan. Suatu rangkuman perjalanan yang penuh kejutan.

Berawal dari terminal Jombor (Jogja), berdelapan kami naik bus menuju Magelang. Tim ini kami beri nama Rempakem. Hampir dua jam berada dalam badan bus yang penuh manusia, membawa kami pada suatu pengalaman yang tidak setiap hari kami jumpai. Berdesak-desakan, bergantungan, berhimpitan, persis lirik lagu God Bless, bis kota. Mbah-mbah penjual jajanan yang tertidur dalam peluh, anak sekolahan yang pulang ke rumahnya, buruh bangunan yang kelelahan, pengamen jalanan, pencopet, dan kami sendiri yang tengah bergantungan pada besi panjang. Bus melaju membelah jalanan yang panas. Tanpa suara kami berpandangan, bercakap dengan mimik muka. Berkerut, senyum, memonyongkan bibir, melonjak.

Baca lebih lanjut

Ponteo’a, menggapai puncak Lembo

KPA Wita Mori (foto:pribadi)

KPA Wita Mori (foto:pribadi)

 

Akhirnya hari itu tiba jua. Kepala yang selalu mendongak, dagu yang tertahan, dan terus memandang puncak di sebelah barat. Tebing-tebing putih yang gemerlap disiram mentari. Puncak kemustahilan selama lebih dua puluh tahun. Kini ia tiba pada hari itu juga. Hati yang terbuka, juga mata yang menyapu tanah kelahiran. Tanah nenek moyang yang dipertahankan lewat jalan perang perlawanan terhadap kebusukan kolonial. Tempat lahirnya segala cerita. Tentang orang yang hilang dan menjadi gila. Tentang kerasnya otot para pencari rotan ditengah kepungan nyamuk-nyamuk ganas dan lintah. Tentang hewan-hewan liar yang meninggalkan jejak di sela-sela batu. Pada hari itu juga, kita dapat menyaksikan dataran panjang yang dibentengi gunung-gemunung dan lembah-lembah harapan. Inilah tanah kelahiranku dipandang dari ketinggian Ponteo’a.

Ponteo'a (foto;pribadi)

Ponteo’a (foto;pribadi)

Dalam perhitungan angka, Ponteo’a bukanlah suatu gunung yang terlalu tinggi untuk didaki. Sehingga ia menjadi simbol rakyat Lembo sebagai benteng penaung. Pada tubuhnya hiduplah berlaksa-laksa pohon kehidupan, tempat segala yang hidup menerima dan memberi. Pohon-pohon damar yang besar, tinggi dan sehat. Rotan-rotan yang menggelantung seperti sarang ular raksasa. Sawah-sawah yang terhampar di kakinya. Orang-orang bergerak melingkupinya.

Inilah Ponteo’a, jalur yang sempit berbatu. Perlu kewaspadaan agar tidak terperosok ke dalam goa-goa vertikal. Daun-daun segala pohon menutupi jalan, dimana jutaan nyamuk dan lintah bersarang. Benar-benar cantik, dibalut kabut tipis dari segala apa yang kuceritakan disini.

Pada hari itu juga, kita akan memangkas cerita-cerita tentang hantu yang mendiami Ponteo’a. Baik kita akan pelihara sebagai tanda penerimaan alam. Sebagai suatu pergaulan yang penuh harmoni. Garis-garis putih yang membayang dari segala dataran, menjadi simpul di puncaknya. Ada suatu tempat yang luas, suatu pencapaian tentang kepribadian yang mengasingkan dirinya hanya untuk memasuki dirinya sendiri. Disanalah kita akan berdiri, di puncak Ponteo’a, untuk mengagumi tanah kelahiran kita. Tanah nenek moyang kita.

Sebab kita adalah anak kehidupan yang diberkati.

Ponteo'a (foto:pribadi)

Ponteo’a (foto:pribadi)

 

Gunung Ponteo’a, 9 Mei 2014

Agung Poku

 

Pulang

Beteleme

Inilah kampungku. Suatu dataran panjang yang dibentengi lembah-lembah dan gunung-gemunung. Lembah-lembah putih yang berisi bunga-bunga liar, membawa aroma warna-warni setiap sore. Pepohonan dipagari ratusan tambang yang minggat dengan drama yang sangat memalukan. Pergerakan ekonomi yang tumbuh pesat dalam grafik dan kurva para ekonom. Dimana-mana sama saja, setiap budaya warisan leluhur akan disingkirkan oleh nilai uang dan jabatan. Semua yang bersifat tradisi adalah kebiasaan nujum yang kuno. Tak sepadan untuk keadaan seperti sekarang ini.

Orang-orang tani yang menghilang sejak pagi, bergumul dengan lumpur, kemudian pulang saat senja untuk kemudian berkelompok di warung-warung minuman. Sekedar untuk melepas lelah. Pulang sempoyongan, dibuai mimpi-mimpi jangka pendek, menanam makanan, menyadap pohon karet. Hiruk-pikuk di pesta-pesta pernikahan juga pesta duka, hanya sebentar saja. Grafik pertumbuhan ekonomi makin naik, sejalan dengan orang-orang tani yang terus-menerus dibuai mimpi jangka pendek.

Kumbang-kumbang berkembang. Elang mengangkasa. Turun ke lembah-lembah kerinduan, menyapa ilalang. Nyanyian Daud menyeluruh menyapu segala embun, terbang bersatu dengan molekul-molekul, dihirup setiap manusia.

Inilah kampungku. Setiap ide akan diuji dengan dialog-dialog panjang. Oleh sekelompok orang akan menjadi bahan lawakan di meja-meja minuman. Tembok-tembok sebagai batas pengetahuan yang ditumbuhi akar dalil pembangunan yang sakit. Sakit parah. Setiap kemajuan pembangunan harus diterima sebagai syarat politik kemakmuran. Orang-orang yang bertanya akan ditebas dengan lawakan kelas-kelas orang sakit jiwa. Dimana-mana sama saja. Orang-orang piawai memainkan bahkan menikmati peran yang ia sendiri tak paham. Jiwanya telah sakit sejak awal pembangkangannya pada hati nurani. Di kota atau di desa sama saja. Kekayaan mendesak orang-orang ke penjuru hutan sampai hilang ditelan tebing-tebing putih.

Setiap generasi punya karakternya masing-masing. Dan sekarang kita dihadapi pada orang-orang dengan karakter brutal. Benar-benar tak punya rasa malu untuk mempertontonkan kekuasaan kekayaan. Semua dapat dibeli. Jiwa-jiwa miskin dapat terbeli oleh himpitan ekonomi. Kebohongan yang berlangsung terus-menerus tanpa rasa malu. Dan seperti yang sudah-sudah, hanya berakhir sebagai bahan lawakan karena perbincangan atau dialog soal ide akan ditertawakan.

Bersama-sama telah kita saksikan dengan mata telanjang, manusia-manusia yang disapu oleh arus sejarah. Pembangkangan yang manis dari pengkhianat-pengkhianat kita. Suatu panggung yang megah, pelaku-pelaku sejarah yang penuh fantasi soal kemakmuran. Kebersahajaan penduduk desa dapat dibeli dengan menyingkirkan mereka jauh dari tanahnya. Apa yang dapat dilakukan orang tani tanpa tanah? Apa guna arit tanpa rumput? Ilalang telah disapu habis oleh perkebunan berhektar-hektar agar orang lain dapat kenyang dan bersendawa di meja makan. Jika orang-orang melawan maka persediaan senjata mesti ditingkatkan. Dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.

Orang-orang yang kalah mesti dikalahkan terus-menerus hingga ia lupa bahwa ia punya kekuatan. Orang-orang miskin harus terus dimiskinkan agar ia terus memelihara mimpi jangka pendeknya. Pada pihak yang mana kita berdiri jika kita terus saja menutup mata, telinga, juga hati.

Matahari telah terbenam dibalik gunung Ponteoa. Hujan terus tumpah ke bumi. Orang-orang yang kalah masih saja melewati jalan yang itu-itu juga. Jalanan yang kasar, penuh bopeng dan genangan air. Mimpi-mimpi yang terus terpelihara pada genangan yang itu juga. Hari ini mesti makan.

Kunang-kunang turun pada malam-malam yang sepi. Anjing-anjing menyalak disudut kuburan. Gelombang suara yang memecah malam datang dari pasar malam. Hiburan terus berlangsung untuk menenangkan hati kita yang papah. Jam dinding berdetak, dan jangkrikpun bernyanyi.

Sepuluh tahun yang lalu, aku berada disini menikmati ketentraman yang luar biasa. Dapur-dapur rumah yang mengepul. Para pemancing yang bernyanyi disepanjang jalan. Anak-anak yang bermain dibawah rembulan. Pemabuk yang pulang sempoyongan. Lantas aku bertanya, bagaimana keadaanmu sekarang?

 

Beteleme, April 2014

Agung Poku

Seorang perempuan yang membaca buku di bawah sinar bulan

A Girl reading a letter by Candlelight, with a Young Man peering over her shoulder

A Girl reading a letter by Candlelight, with a Young Man peering over her shoulder (wikipaintings.org)

Rumah besar di seberang tembok itu telah dihuni sebuah keluarga yang baru saja pindah dari Jakarta. Setahun lebih rumah itu kosong setelah ditinggal pemiliknya, seorang lelaki tua yang mengidap asma. Dulu setiap malam aku mendengar dari jendela kamarku yang selalu terbuka, suara napas besar yang tersekat ditenggorokan. Suara yang kadang terdengar mengerikan, seperti terhimpit, membising seperti sebuah gasing yang berputar di atas dulang blek. Aku menyaksikan penderitaan lelaki tua itu. Dari jendela kamarku , dapat kulihat ia tergolek, berputar-putar di atas kasur dan kemudian menggaungkan suara yang mengibakan itu. Ia tak pernah menutup tirai jendela kamarnya. Jarak antara jendela kamarku dan jendela kamar lelaki tua itu mungkin sekitar sepuluh meter. Sangat dekat, hanya dibatasi sebuah tembok tinggi yang dipenuhi bunga pagar. Kamarku berada di lantai dua, dengan jendela menghadap ke barat. Aku memang lebih suka memandangi matahari terbenam. Sebaliknya kamar lelaki tua itu, jendelanya menghadap ke timur. Dan nampaknya ia lebih menyukai suasana pagi yang ceria. Ia selalu menyongsong matahari terbit setelah semalaman kepayahan bergulat dengan napasnya. Beberapa kali ia memergokiku mengawasi jendelanya. Begitu pula sebaliknya. Pada kejadian itu, aku selalu menganggukan kepalaku untuk menyapa. Dan ia membenarkan leher sweternya yang kendor. Sebenarnya pada saat seperti itu, aku ingin menyapanya, menanyai keadaannya, meskipun nanti ia tahu bahwa aku tahu persoalan kesehatannya. Disamping itu tentu aku harus berteriak agar ia mendengar. Sungguh tidak santun. Terakhir kali aku melihat jendelanya sudah ditutupi tirai. Dan kemudian sepi saja. Tak ada lagi terdengar suara napas besarnya yang keluar dari jendela oval berwarna cokelat tua itu.

Keluarga baru yang menempati rumah besar itu terlihat sibuk menata perabot. Dari jendelaku dapat ku awasi mereka lalu-lalang. Sesekali muncul di balkon sambil membawa pot bunga yang banyak sekali. Sampai larut malam dapat kudengar suara mereka berdebat soal letak perabot. Esok paginya kulihat jendela itu terbuka lebar. Sinar matahari pagi yang jernih memancar kesana, menerangi sebuah lemari besar yang dipenuhi buku. Buku-buku yang disusun sangat rapi, diletakkan sesuai besar kecilnya. Mungkin jumlahnya ratusan. Aku menduga kamar itu adalah sebuah perpustakaan keluarga. Dan ternyata dugaanku tepat. Setiap sore anggota keluarga mampir ke kamar itu dan mencomot salah satu buku. Mereka duduk-duduk di balkon, membaca buku, sambil menikmati teh dan kudapan. Selesai membaca, mereka terlihat bercakap-cakap cukup serius. Mungkin berdiskusi soal buku bacaan.

Baca lebih lanjut

Kesepakatan Dengan Slamet ( Untuk Selamat)

Mencari sunyi, mendapati ramai. Mengharap hujan di jendela kamar, justru ia mendekap di jalanan. Kalimat itu menjadi mantra pergantian tahun. Di situ ia menjadi doa, umpatan, harapan dan keisengan. Bahkan ia menjelma menjadi sunyi itu sendiri. Dua hari menjelang berakhirnya tahun 2013, kami menjelma menjadi petapa yang ingin menjadi sunyi di puncak Slamet. Berbekal harapan yang diidam-idamkan dilepaskan di puncak Gunung Slamet, juga beberapa bungkus mie instan, kami menerobos hujan yang sejak siang turun begitu deras di Jogja. Inilah awal ia menjadi umpatan dalam hati. Kami dikawal hujan sepanjang jalan, hingga kedinginan di jalanan luas, ditengah hamparan sawah Kulonprogo. Bebauan tanah basah dan pohon-pohon disepanjang jalan mengurungkan niat untuk sementara menyimpan rasa sesal dan dingin. Kalimat itu tak jadi terucap:

“Alam sedang tidak bersahabat.”

gerbang Slamet

gerbang Slamet (dok. pribadi)

Aku pernah menyaksikan seorang pria menunda hujan turun pada jalan yang akan ia lewati. Ia tak membakar segumpal kemenyan sambil membaca mantra. Juga ia tak berseru-seru, seperti seorang gembala yang memanggil domba-dombanya di padang luas. Seingatku, ia hanya mengambil sepucuk ilalang dan entah bagaimana, sepanjang jalan kami tak diguyur hujan. Sementara orang-orang yang kami lewati, terus memacu kendaraan mereka sambil mengenakan jas hujan.  Sampai detik ini, aku tidak pernah tahu apa yang ia lakukan. Aku hanya mengambil kesimpulan, manusia bisa membuat kesepakatan dengan alam. Dan lagi, kalimat itu tak jadi terucap.

Memasuki bumi Ngapak, aku hampir tidak bisa membedakan antara hujan dan kabut tebal. Gelap menikung, menanjak, mengucapkan selamat datang di Purbalingga. hari sudah larut malam. Di basecamp, para calon pendaki sedang berjuang melawan dingin dibalik selimut. Malam itu, sambil menyantap sup jagung, kami berdiskusi soal calon pendaki yang datang dari pelosok pulau Jawa, hanya untuk merayakan pergantian tahun di pucak Slamet. Mungkin seperti kami, mereka petapa yang mencari sunyi. Tapi kami sama-sama menyatakan, malam itu juga, kami tidaklah berada dalam sunyi. Ratusan calon pendaki siap terengah-engah di punggung Slamet.

Kesepakatan

Kesepakatan (dok. pribadi)

Pagi datang. Matahari ditutupi kabut tebal. Hanya setitik besar cahaya putih dikejauhan, di sudut timur. Beberapa rombongan pendaki sudah memantapkan hati, menerobos gelap sejak subuh. Bukanlah hal hebat dan menggemparkan seperti cerita orang-orang, pendakian Gunung Slamet kali ini adalah perjuangan mencari sunyi, yang kini bukan lagi sunyi diantara semak dan Edelweiss.

Di pos 5, kami mendirikan tenda rapat-rapat. Puluhan tenda beraneka warna memberi kesan dominasi warna hijau. Malam kian larut, diisi percakapan dan riuhnya pendaki saat memasak. Sebentar lagi tahun berganti. Betapa aneh berada di sini, diketinggian ini, jauh dari wajah kota yang semarak. Tepat jam 12 malam beberapa kembang api dinyalakan. Ucapan selamat dan pelukan sesama pendaki begitu cepat, hingga dingin mengurung semuanya didalam tenda. Seakan-akan berlalu begitu saja. Pukul tiga pagi, kabut turun menepi, dan angin menghantam berkali-kali. Sedingin itu, pikirku, inilah saat yang tepat mencari sepi. Memandang atap kota dikejauhan. Mencermati setiap suara dari gesekan pohon. Aku bermimpi, air mata titik begitu jauh dalam kesunyian. Dan semuanya lelap tanpa dengkuran.

Summit attack! Kalimat yang itu juga terucap. Kabut tebal begitu merayakan dingin yang ia timbulkan. Padang hijau dan bunga Edelweiss terlewati begitu saja menjelang puncak. Berganti kerikil dan bebatuan basah. Seluruh tubuh basah dan menggigil memeluk tulang. Badai besar datang. Para pendaki berjuang melawan atau mengikuti kemauan alam. Badai semakin mengamuk. Tim SAR siaga tepat beberapa meter dari puncak, memberi isyarat pada kami untuk segera turun. Terlalu berbahaya, katanya dengan logat Ngapak yang kental. Ingin sekali tidak mengikuti saran mereka, sebab dari tempat kami berdiri, beberapa meter di atas sana pucak Slamet diselimuti kabut. Pada akhirnya kata melawan berganti dengan mengikuti.

Menjelang puncak (dok. pribadi)

Menjelang puncak (dok. pribadi)

Menjelang puncak (dok. pribadi)

Menjelang puncak (dok. pribadi)

Selama perjalanan pulang, ditengah gelap hutan Kebumen, aku terus berpikir, melawan alam adalah perbuatan sia-sia. Aku teringat si pria yang membuat kesepakatan dengan alam. Aku juga harus. Kesepakatannya adalah aku akan kembali saat matahari telah terlihat.

Jogja, Januari 2014

Agung Poku